Sutradara: Apichatpong Weerasethakul
Rating:
Yuki Aditya




// 7 Desember 2010
Oleh Yuki Aditya
Banyak orang yang mengatakan bahwa Palem Emas Mike Leigh lewat "Another Year" telah direbut oleh Apichatpong Weerasethakul (selanjutnya disebut Joe) melalui "Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives", tetapi satu hal yang pasti walau saya belum menonton "Another Year", film teranyar Leigh tersebut tidak akan se-eksperimental "Uncle Boonmee" yang dapat dikatakan sebagai pemenang Palem Emas yang paling eksperimental dan sekaligus menantang dalam hal plot cerita.
Berbeda dari tiga feature film panjang Joe sebelumnya yaitu "Blissfully Yours", "Tropical Malady", dan "Syndromes and a Century" yang terbagi menjadi dua cerita yang menjadi berbeda pada bagian tengah film, "Uncle Boonmee" mempunyai struktur cerita yang cenderung lurus dan satu arah. Namun jelas subjek dalam film ini telah ada di pikiran Joe sejak lama, karena dalam "Tropical Malady" terdapat percakapan antara dua pria yang membicarakan paman dari salah satu pria yang bernama Tong tentang kemampuannya untuk mengingat kehidupan lampaunya (dimana dalam Uncle Boonmee juga terdapat karakter bernama Tong diperankan oleh aktor yang sama dalam Tropical Malady).
Diceritakan Uncle Boonmee (Thanapat Saisaymar dalam film pertamanya) seorang petani dan peternak sukses sedang menanti ajal karena gagal ginjal akut. Kehidupan Boonmee sehari-hari ditemani oleh adik iparnya Jen (Jenjira Pongpas), keponakannya Tong yang juga seorang biksu (Sakda Kaewbuadee), dan Jaai (Samud Kugasang) seorang imigran asal Laos yang bertugas membantu perawatan dialysisnya.
Ketika Boonmee sedang makan malam dengan keluarganya tersebut, hantu Huay (Natthakarn Aphaiwonk) istrinya yang telah meninggal 14 tahun lalu hadir menginterupsi acara rutin itu. Tidak lama kemudian, roh anak lelakinya Boonsong yang telah lama menghilang menampakkan diri juga dalam bentuk Kera yang menyerupai Chewbacca dalam seri sukses Star Wars dengan sorot sinar matanya yang berwarna merah menyala. Boonsong pun bercerita bahwa dirinya menghilang setelah mencoba untuk mengejar dan mengabadikan penampakan Hantu Kera ke dalam hutan dan berakhir dengan mengawini Hantu tersebut sehingga berubah menjadi bagian dari mereka. Dapat dikatakan adegan tersebut adalah suatu reuni keluarga yang paling aneh , namun reaksi penerimaan dari Boonmee sekeluarga yang terlihat senang karena dapat bertemu anggota keluarga yang telah lama "menghilang" membuat adegan tersebut lebih terasa misterius dibanding menakutkan. ""Why did you let your hair grow so long?" adalah pertanyaan pertama yang diajukan terhadap Boonsong. Diikuti pertanyaan dan ungkapan absurd serta naif tetapi manusiawi seperti keirian Jen terhadap Huay yang secara fisik tetap terlihat sama pada saat dia meninggal.
Hantu dan folklore menyelimuti keseluruhan film ini, konsisten hadir tetapi tetap menjaga jarak mereka, dan seiring dekatnya Boonmee dengan kematian, batasan antara dunia nyata dan fana semakin tipis, selain penampakkan dari orang-orang terdekatnya yang telah lama meninggal, Boonmee pun dapat mengingat kembali kehidupan-kehidupan sebelumnya sebelum reinkarnasi, dalam bentuk realistis maupun supernatural seperti sebuah sekuens mimpi. Reinkarnasi yang tidak dibatasi oleh bentuk antara manusia dan binatang. Apakah kehidupan masa lalu Boonmee adalah seekor kerbau, putri raja, maupun ikan lele? Adapun nilai karma juga merupakan poin penting dalam kehidupan Boonmee yang dapat kita interpretasikan terhadap kehidupan Boonmee sebelumnya. Satu saat Boonmee mengutarakan kepada Jen bahwa penyakit ginjalnya disebabkan oleh masa lalu yang banyak membasmi gerombolan komunis di Thailand Utara juga kekejamannya terhadap hama wereng dengan selalu menggunakan pestisida untuk memusnahkan mereka, dan Jen hanya membalas hal yang Boonmee lakukan adalah wajar karena dilandasi oleh niat baik, dikontradiksikan terhadap idiom "selfless good deeds" terutama pada bentuk kehidupan Boonmee yang lalu-lalu.
*WARNING: SPOILER!!!*
Satu hal yang cukup mengejutkan dalam film ini adalah penggunaan hand-held camera yang terasa kasar pada adegan dalam gua penuh kelelawar menjelang kematian Boonmee, dibanding long takes dan panning indah di paruh pertamanya. Boleh jadi hal itu dimaksudkan sebagai alegori jalan terjal yang segera dilalui Boonmee dan waktu terakhir bagi dirinya untuk mengingat kembali kehidupannya di masa muda yang banyak menyakiti fisik dan hati orang lain. Dan layaknya film-film Joe sebelumnya yang sering menggunakan foto dan gambar sebagai rekoleksi memori juga--merupakan bentuk paling primitif dari cinema, di film ini lukisan di dinding gua menambah suasana mencekam pada saat Boonmee mengutarakan dirinya terlahir di tempat tersebut. Apa yang terjadi didalam gua tampaknya menjadi ingatan tak terlupakan dan sekaligus "pencerahan" bagi Jen dan Tong yang membawa mereka ke ending film ini yang enigmatic, yaitu ide kematian itu sendiri sebagai bentuk pengawetan akan waktu dan bentuk fisik seperti peryataan awal Jen terhadap hantu istri Boonmee.
*SPOILER ENDS!!!*
*SPOILER ENDS!!!*
"Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives", sama dengan film-film Joe lainnya lebih menantang respon sensorik kita untuk berimajinasi lebih liar terhadap perbandingan dan kontras akan suatu hal atau nilai dalam situasi dan kondisi yang berlainan. Kicauan dan dengungan tanpa henti dari burung dan serangga di hutan pada malam hari, kilauan sinar matahari di indahnya suasana pedesaan di siang hari, denyut kehidupan terasa di perlambat oleh kehangatan dan suara alam yang menghipnotis, perbincangan penuh senyuman mencoba untuk mengingat masa lalu, dan ritme kehidupan serta cerita rakyat pedesaan yang terkonstruksi sebagaimana dalam buku dongeng anak-anak. Film ini penuh nuansa kehidupan, dimana kematian dan keindahan hidup itu sendiri sebagai bagian yang sama penting dan manusiawi, namun tidak dilakukan atas dasar amarah dan ketakutan, semua lebur menjadi satu harmoni yang tercipta oleh momen keheningan yang elok dan lagu karaoke di ending yang membuai indah.

0 komentar:
Poskan Komentar