Minggu, 14 Agustus 2011

The Tree of Life (2011)

(USA)
Sutradara: Terrence Malick
Penulis: Terrence Malick

Rating:
Rajiv Ibrahim

Yuki Aditya

Erdiawan Putra

Bayu Wiratama



Ditulis oleh Rajiv Ibrahim
Disunting oleh Yuki Aditya

"Unless you love, your life will flash by"

Sebuah petikan dari film The Tree of Life, karya terbaru dari Terrence Malick, sutradara yang terkenal pemalu dan sangat berhati-hati untuk menutupi jati dirinya dari sorotan publik itu. Petikan diatas bisa dikatakan merupakan intisari dan gambaran yang akurat mengenai seperti apa film ke-lima Terrence Malick ini. Film ini berlumuran dengan cinta, mulai dari kecintaannya terhadap makna evolusi makhluk hidup yang memulai segalanya diatas dunia ini sampai ke perubahan makna cinta yang terjadi pada diri Jack, karakter utama yang diceritakan Malick sedang mengingat kembali masa kecilnya di masa kesuksesan hidupnya kini yang terasa hampa.

Film ini terinspirasi dari kisah masa kecil Terrence Malick sendiri, atau dapat disebut semi-autobiografi Malick sendiri."My brother died when I was 19" begitulah The Tree of Life dibuka oleh Jack (Sean Penn), satu sosok pria yang dikesankan sedang dalam masa kesuksesan karirnya. Pandangannya nanar, tatapannya kosong menengadah ke langit, seolah sedang bingung ada suatu bagian dari hidupnya yang tidak lengkap. Lalu kita dibawa ke Texas di era 1950-an, sebuah kota pinggiran Urbana yang mendefinisikan kehidupan di sehari-hari dan nilai "American Dream" adalah suatu pencapaian yang harus digapai oleh sebuah keluarga kecil.Keluarga tersebut beranggotakan seorang ayah, ibu, dan ketiga anak lelakinya. Berdasar kalimat pembuka dari Jack yang telah disebut di awal, film ini adalah merupakan rekoleksi memori dari Jack, seorang arsitek yang masa kecilnya dibesarkan dengan cara yang bertolak belakang oleh orang tuanya.


Ayahnya (Brad Pitt) membesarkannya dengan cara 'nature way' yaitu dengan tegas dan keras sedangkan ibunya (Jessica Chastain) dengan 'the way of grace' yang lembut dan penuh cinta. Dalam reka ulang pengalamannya, kita melihat Jack kecil (yang diperankan dengan brilian oleh Hunter McCracken) dan masa-masa coming -of-age nya, termasuk dilema dalam tingkah lakunya, kebingungan-kebingungannya, pertanyaan-pertanyaannya, hingga fantasinya. Kita pernah mendengar bahwa anak itu dilahirkan ibarat seonggok kapas putih bersih yang akan cepat menyerap air yang menetesinya, begitulah kira-kira tindak-tanduk Jack kecil digambarkan oleh Malick. Perilaku Jack adalah hasil cerminan dari apa yang dia lihat dan perlakuan yang dia terima dari kedua orang tuanya. Jack adalah pemimpin dalam gengnya, dia juga sosok yang berpengaruh dan disegani oleh adik-adiknya namun juga pelindung mereka, dengan hasrat seksual yang berkembang seiring perubahan fisik dan kematangannya. Dia belajar tegar dan kuat dari sang ayah dan bagaimana memperlakukan orang lain dari si ibu.

Film ini diinterupsi oleh scene yang berdurasi kira-kira 18-20 menit yang menggambarkan Kelahiran alam semesta dan juga bumi beserta organisme-organismenya yang terkadang diiringi oleh voice-over dari sang ibu. Evolusi tersebut seperti menunjukkan kembali lagi ke filosofinya mengenai eksistensial, yaitu untuk memberikan rasa awas kita akan posisi dan keberadaan mereka sebagai manusia berkontradiksi dengan alam, agungnya Tuhan serta permasalahan maupun pengalaman yang memperkaya kehidupan mereka di muka bumi ini.


Walaupun scene tersebut memberikan efek yang epik terhadap film ini, dan yang disebut oleh banyak orang terlalu ambisius, Malick juga tipe sutradara yg menyukai hal-hal atau detail-detail kecil. Dalam film ini porsi kecintaannya pada hal-hal kecil, gestur-gestur yang indah, dan keindahan alam sangat besar. Pengejawantahannya ada dalam interaksi tangan yang saling bersentuhan, keindahan perut sang ibu yang membengkak mengandung, kaki kecil bayi yang baru lahir dalam genggaman sang ayah, katak-katak yang berlompatan, bayangan-bayangan anak-anak yang sedang berlarian, ditambah dengan ciri khas Malick dalam pergerakan kamera yang bebas dan juga pencahayaan menggunakan semburat cahaya alam, seakan-akan alam dan tuhan pun membantu dirinya dalam meng-orkestrasi semuanya.

Wajar jika film ini terasa sebagai penyempurnaan film Malick dari sisi penyutradaraan dan visi-nya sebagai seorang sutradara. Karena jika dilihat 2 film pertama malick, Badlands dan Days of Heaven, dimana voice-overnya disuarakan layaknya kita mendengar dongeng dari nenek kita, tanpa berbisik layaknya metafora atas kesedihan, harapan dan kemarahan dalam tiap lirih karakter film-film Malick selanjutnya. Namun satu hal yang sudah terlihat akan menjadi ciri khas filmnya adalah filosofi-filosofi eksistensialnya. Setelah film Days of Heaven laku keras dalam hal menuai banyak nominasi penghargaan dan dipuji kritikus, secara mengejutkan Malick malah menghilang selama 20 tahun sebagai sutradara, dalihnya adalah dia tidak suka dengan ketenaran. Namun setelah itu, Malick kembali dengan gaya kamera yang lebih liar dalam menangkap objeknya, serta puitis dan gamblang dalam penyampaian ideologi melalui voice-overnya The Thin Red Line dan The New World.


Terkadang semakin kita menelanjangi diri kita sendiri maka semakin membumilah dan juga mudah sebuah cerita untuk mempunyai koneksi dengan manusia lain. Hal ini yang saya rasa berlaku pada The Tree of Life, yang juga merupakan titik balik visi Malick dalam mengungkapkan sejarah dirinya. Karena jika dalam 2 film terakhir, Malick memakai platform cerita dari kejadian atau kisah yang telah ada sebelumnya, sehingga terasa ada diskoneksi dalam filmnya (The Thin Red Line bercerita ttg perang di Guadalcanal dimana Malick tidak pernah terlibat dalam perang apapun, sedangkan The New World adalah rendisi Malick terhadap folklore Pocahontas), dalam The Tree of Life ceritanya murni dari pengalaman Terrence Malick sendiri sehingga film secara keseluruhan terasa seperti satu serpihan dari pribadi dan apa yang membentuknya sampai sekarang ini.

The Tree of Life bukanlah sebuah film dengan suatu jalinan kisah dengan narasi dalam makna umum, film ini lebih merupakan suatu impresi atau kesan dari apa saja yang telah memperkaya karakter-karakternya secara spiritual, yang sesungguhnya universal, juga sebuah rangkaian dari pengalaman, pengalaman tentang bagaimana menjalani masa kecil, mengurus anak, dan tegar menghadapi musibah untuk kemudian bangkit lagi untuk menjadi lebih kuat. Banyak sekali voice-over yang sangat mirip esensinya dengan puisi-puisi sufi dan intisari ajaran tersebut, dimana Tuhan adalah cinta dalam berbagai manifestasiNya. Terrence Malick disini menuangkan begitu banyak cinta, dan menyampaikan salah satu cara untuk bahagia adalah hanya dengan cinta. Memang terdengar klise namun itulah kebenaran hakiki yang sering kita lupakan. Jack dewasa sering mengeluhkan dunia modern dimana cinta sudah pudar sehingga memori hangatnya dari masa lalu menyeruak dan ingin dia rasakan kembali. Begitu besar rasa rindunya akan cinta. Cinta kedua orang tuanya, terutama ke ibunya. Sang ibu digambarkan begitu anggun, menawan, cantik, dan rapuh persis seperti karakteristik film ini. E.M Cioran, seorang filsuf asal Rumania pernah berujar "We always love....despite; and that "despite" covers an infinity." Dan kembali ke premis film ini yang terasa sungguh merupakan surat cinta kepada arti cinta itu sendiri dan elemen-elemen cinta yang pernah menghampiri diri Malick, tanpa terkecuali dan tanpa ada batasnya.

0 komentar:

Poskan Komentar