<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7942573538273671699</id><updated>2012-02-16T04:02:01.492-08:00</updated><category term='tema film'/><category term='Figur'/><title type='text'>Cinema Exposure - Artikel</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Cinema Exposure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12014535301006601988</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='8' src='http://3.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TLtAXbNstRI/AAAAAAAAACI/Ezb3Bup_eDQ/S220/headerblog3+copy.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>27</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7942573538273671699.post-741010622558516372</id><published>2012-01-13T04:01:00.000-08:00</published><updated>2012-01-19T23:21:33.762-08:00</updated><title type='text'>50 Favorite Films of 2011</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;ditulis oleh Yuki Aditya &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengatakan sesuatu itu dalam konteks "terbaik" atau "terburuk" itu adalah hal yang sulit dilakukan, apalagi terhadap medium seni yang abstrak seperti film. Abstrak disini bukan seperti ketika ketika menonton film-film dari Stan Brakhage atau Bruce Conner, tetapi lebih ke bagaimana pengalaman yang dibawa setiap orang dalam menikmati karya seni adalah berbeda, begitu pula dengan pengalaman yang diharapkan dapat dibawa pulang oleh tiap individu. Tetapi apakah tahun 2011 adalah tahun yang baik dalam dunia sinema? Tebakan saya adalah 2011 sama baiknya dengan tahun-tahun sebelumnya, karena medium ini diproduksi di berbagai belahan dunia setiap detiknya dan saya percaya sesuatu yang bagus itu dapat muncul dari manapun dan tidak mengenal batas waktu. Keep exploring and happy watching.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;NB: Film-film yang masuk dalam list ini dibatasi hanya yang World Premiere tahun 2010 dan 2011 saja.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;1. Nader &amp;amp; Simin, A Separation&lt;/b&gt; (Asghar Farhadi, Iran)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-x_a64gkzI1U/TxAQc8534GI/AAAAAAAAATM/sIlrBFltFJc/s1600/1.+A+Separation2+-+Copy.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-x_a64gkzI1U/TxAQc8534GI/AAAAAAAAATM/sIlrBFltFJc/s1600/1.+A+Separation2+-+Copy.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Asghar Farhadi meraih penghargaan paling prestisius di Berlin Film Festival 2011 melalui Nader &amp;amp; Simin, A Separation, sebuah domestic-drama dengan satu keluarga kecil sebagai latar belakang ceritanya. Film ini dibuka dengan adegan Nader dan Simin yang berpisah karena ketidaksepakatan mereka untuk migrasi ke luar negeri, lalu muncul pertanyaan awal yaitu "apakah kehidupan anak mereka akan lebih baik atau buruk di negeri orang?". Premis tersebut menuntun ke permasalahan berikut, dimana setelah hakim tidak menyetujui permintaan cerai dari Simin terhadap suaminya, mereka terpaksa hidup terpisah. Dan Termeh sang anak perempuan tinggal bersama ayahnya. Keputusan pisah tersebut menimbulkan berbagai macam konflik terhadap keluarga tersebut namun semua disajikan tanpa kesan menghakimi oleh Asghar Farhadi. Di film ini, partisipasi kita dibutuhkan bukan hanya sebagai penonton, melainkan juga sebagai "hakim" untuk menentukan dimana posisi kita terhadap tiap konflik yang disajikan secara objektif dan setiap karakter mempunyai alasannya masing-masing dalam bertindak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;2. Crazy Horse&lt;/b&gt; (Frederick Wiseman, France/UK)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-rgpPCVQ3dto/TxAQyofySII/AAAAAAAAATU/axmsrFmtRgA/s1600/2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-rgpPCVQ3dto/TxAQyofySII/AAAAAAAAATU/axmsrFmtRgA/s1600/2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Sutradara dokumenter Frederick Wiseman yang telah menginjak usia 80 tahun kembali membuat film dan tetap mempunyai intuisi tajam tentang bagaimana menangkap atau bahkan mungkin mengkreasikan sebuah gambaran ringkas tentang kehidupan di dalam sebuah klub yang biasa menggelar pertunjukkan kabaret di kota Paris. Sebagian besar tarian yang ditampilkan oleh penari-penari tersebut dibawakan dengan busana sangat minim. Bagaimana Wiseman mendekati subjek/pelakon dalam film-film dokumenternya adalah suatu pertanyaan besar bagi saya, karena tema dan objek film dokumenternya yang sangat beragam dan subjeknya bersedia difilmkan dengan sangat nyaman dan terbuka. Sebagai gambaran, filmografi Wiseman yang sangat bervariasi antara lainnya mengenai pengadilan untuk anak-anak nakal (Juvenile), rumah sakit jiwa (Titticut Follies), sebuah lingkungan perumahan yang penuh dengan kekerasan rumah tangga (Domestic Violence), sasana tinju (Boxing Gym), sampai yang terbaru Crazy Horse ini. Frederick Wiseman pasti mempunyai jiwa dan bakat gabungan antara salesman, psikolog, dan seniman, dan susah dibantah bahwa dia adalah "the most versatile of all filmmaker of all time".&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;3. The Kid with a Bike / Le Gamin au Velo&lt;/b&gt; (Jean-Pierre &amp;amp; Luc Dardenne, Belgium)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-0ztsmIQ1g_M/TxAcjXiAzlI/AAAAAAAAAW8/B4B62HU-IeU/s1600/3.+kidwithabike.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-0ztsmIQ1g_M/TxAcjXiAzlI/AAAAAAAAAW8/B4B62HU-IeU/s1600/3.+kidwithabike.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Rapuh dan kompleksnya sifat dasar dari hubungan antarmanusia adalah teritori yang paling handal dieksplor oleh dua bersaudara Dardenne ini. Selayaknya pada film-film duo bersaudara Dardenne sebelumnya, The Kid with a Bike is more like a journey than a sculpted story. And it's a journey of a boy who craves for his father's love so he agrees to be adopted by a woman named Samantha. Kita tidak pernah tau dengan pasti mengapa Samantha mau untuk menampung Cyril, seorang anak laki-laki yang nakal, unpredictable, liar, dan sedang mencari tahu keberadaan ayah kandungnya, namun kita dapat merasakan kalau perasaan dan niat baik Samantha adalah tulus. Arguably, film terbaik dua bersaudara Dardenne setelah the-Cannes Palme d'Or winner, Rosetta (1999), the Dardenne is still up there with their game. How they depict the transformation of each character in minutiae details is moving and breathtaking. They ooze their personality so strong even we can smell either the tenderness of Samantha or the evil inside Wes the local gangster, right after they are projected on screen. And Thomas Doret as Cyril, gave one of the best performance in general this year. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;4. The Skin I Live In&lt;/b&gt; (Pedro Almodovar, Spain)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-VAMX8TIKkrE/TxARxyD295I/AAAAAAAAATk/LkxKJmo_sKs/s1600/4.+skini+livein1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-VAMX8TIKkrE/TxARxyD295I/AAAAAAAAATk/LkxKJmo_sKs/s1600/4.+skini+livein1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Pedro Almodovar yang terkenal sebagai "The King of Absurdist Melodrama" awalnya mengisahkan tentang seorang dokter kulit sukses yang sedang mengadakan percobaan untuk menemukan sintesa kulit yang dapat diaplikasikan ke khalayak umum sebagai suatu terobosan teknologi. Kita dibawa semakin dalam ke misteri film ini dimana dokter kulit tersebut diperlihatkan mengurung seorang wanita cantik di dalam satu ruang terisolasi rapat dari sentuhan sosial dunia luar. Misteri dikupas secara perlahan dan elegan yang tetap membuat kita aktif untuk menebak kemana Almodovar akan membawa cerita dalam film ini sebenarnya. The Skin I Live In sendiri bisa dikatakan sebagai film Almodovar yang cara bertuturnya paling kompleks, karena merupakan sintesa dari berbagai macam gaya penceritaan yang telah ada di medium film sejak lama. Kita dapat melihat film ini sebagai  film horor dengan ilmuwan gila sebagai tokoh utamanya, dibalut dengan tema balas dendam, serta bumbu melodrama ala film Hollywood buatan 1950-an (film-film yang disutradarai Douglas Sirk contohnya). Buat saya, ini adalah pencapaian terbaiknya semenjak All About My Mother. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;5. Nostalgia for the Light / Nostalgia de la Luz&lt;/b&gt; (Patricio Guzman, Chile)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-WnjFc0E8xMo/TxASVfK5f-I/AAAAAAAAATs/y92FMI3BOag/s1600/5.+nostalgiaforthelight1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-WnjFc0E8xMo/TxASVfK5f-I/AAAAAAAAATs/y92FMI3BOag/s1600/5.+nostalgiaforthelight1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Nostalgia for the Light adalah sebuah dokumenter yang menggabungkan antara astronomi, geologi, arkeologi, sejarah dan politik Chile yang kelam. Dengan cerdik dan sensitif Guzman mengkombinasikan semua elemen tersebut menjadi sebuah film essay yang cantik, profound, dan filosofis dari sudut pandangnya sebagai filmmaker, cinephile, maupun pribadi. Keunggulan kuat dari misteri dan informasi yang diceritakan dalam Nostalgia for the Light adalah bagaimana Guzman dapat memaparkan begitu banyak hal dengan jelas. Pace film ini juga berjalan dengan tenang namun konstan dan tetap memberikan ruang cukup bagi penonton untuk bernafas dan menyerap material yang disajikan Guzman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;6. Melancholia&lt;/b&gt; (Lars von Trier, Denmark)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-S5fvMYYeStE/TxASpN0uwqI/AAAAAAAAAT0/9VptJl5GS0Y/s1600/6.+melancholia.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-S5fvMYYeStE/TxASpN0uwqI/AAAAAAAAAT0/9VptJl5GS0Y/s1600/6.+melancholia.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Akan datangnya kiamat telah dapat kita rasakan dari awal film ini berjalan. Pernikahan yang kacau dan sosok Justine yang diperankan oleh Kirsten Dunst meracau kacau mengenai datangnya hari tersebut sebentar lagi. Melancholia terbagi menjadi dua bagian dimana bagian pertama adalah pesta pernikahan Justine yang berubah berantakan seperti yang telah ditulis di awal dan bagian kedua "Claire" yang diperankan oleh Charlotte Gainsbourg yang fokus pada "persiapan" Claire beserta keluarga menyambut datangnya hari akhir tersebut. Von Trier yang gemar membuat "shock" pada penontonnya dalam menyampaikan gagasan dalam filmnya, dalam Melancholia ini mempertanyakan definisi sebenarnya dari kehidupan yang ideal yang telah terbentuk umum (pernikahan, kesuksesan, punya banyak uang, dan mempunyai keturunan).Banyak momen yang mengundang tawa, dan banyak juga yang membuat saya memicingkan mata. Namun tidak semenitpun saya kehilangan rasa penasaran dan ingin tahu terhadap setiap karakter sampai film berakhir. Dan mungkin hanya dalam Melancholia-lah saya dapat dengan tegas mengatakan, bahwa karakter utama wanitanya yaitu Justine, adalah alter ego dari Lars von Trier.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;7. The Turin Horse&lt;/b&gt; (Bela Tarr, Hungary)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-AkDpRXW4kTU/TxATbaPZ2mI/AAAAAAAAAT8/FbSVuycs3ZU/s1600/7.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-AkDpRXW4kTU/TxATbaPZ2mI/AAAAAAAAAT8/FbSVuycs3ZU/s1600/7.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Teks pertama yang muncul di layar adalah mengenai Nietszche yang menyaksikan sendiri seekor kuda yang disiksa oleh pemiliknya. Kita tahu apa yang terjadi pada Nietszche karena dalam teks tersebut disebut bahwa itu adalah hari-hari terakhir dalam hidupnya, namun film ini adalah tentang kehidupan kuda beserta pemiliknya setelah pertemuan dengan Nietszche sesuai dengan ditutupnya teks yang muncul dengan tulisan "But what happened to the horse?". Untuk meringkasnya, The Turin Horse menggambarkan keseharian sebuah keluarga yang isinya adalah seorang ayah yang hidup berdua hanya dengan anak perempuannya, beserta kuda mereka yang dapat dibilang uzur. Kehidupan keseharian mereka tergantung oleh kerja keras kuda tersebut. Rutinitas, penderitaan dan friksi yang terjadi dalam keluarga kecil itu ditampilkan Bela Tarr dalam sinematografi hitam-putih dengan komposisi yang indah khas film-film Tarr sebelumnya (Damnation, Satantango, Werckmesiter Harmony). &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;8. Archipelago&lt;/b&gt; (Joanna Hogg, UK)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-65vaWVc-13g/TxAUF_KD5YI/AAAAAAAAAUE/f9W-Tv9xhTU/s1600/8.+archipelago.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-65vaWVc-13g/TxAUF_KD5YI/AAAAAAAAAUE/f9W-Tv9xhTU/s1600/8.+archipelago.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Sulit untuk tidak membayangkan nama Mike Leigh dan Yasujiro Ozu ketika menonton feature film panjang kedua dari Joanna Hogg ini. Pertama karena film ini mengangkat tema perseteruan di dalam keluarga yang melibatkan masalah ekonomi dan antarkelas dalam strata ekonomi yang sering terdapat dalam film-film Mike Leigh. Lalu yang kedua adalah film ini juga mengenai rekonsiliasi satu keluarga dengan elliptical editing khas Yasujiro Ozu. Tetapi yang pasti, Joanna Hogg adalah nama yang harus kita mulai perhatikan jika nantinya kita membicarakan dunia sinema Inggris atau dunia sinema secara umum di masa mendatang. Brilliantly acted, powerful performances.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;9. Dreileben trilogy&lt;/b&gt; (Christian Petzold/Dominik Graf/Christoph Hochhausler, Germany)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Yi5V8jZi9f0/TxAUUs1M6QI/AAAAAAAAAUM/VNdbUjXyAVo/s1600/9.+dreileben+-+Copy.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-Yi5V8jZi9f0/TxAUUs1M6QI/AAAAAAAAAUM/VNdbUjXyAVo/s1600/9.+dreileben+-+Copy.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Proyek trilogy Dreileben ini dimaksudkan sebagai film TV di Jerman dan dibuat oleh tiga nama yang menonjol dalam gerakan New Berlin School. Berdurasi masing-masing sekitar 90 menit, secara benang merah trilogi ini merupakan satu kisah thriller yang terjadi di satu kawasan yang sama. Christian Petzold menyutradarai bagian pertama yang berjudul Beats Being Dead, yang berkisah tentang hubungan asmara sepasang kekasih dari strata ekonomi yang berbeda dan memicu misteri dalam trilogi ini dimulai. Bagian kedua ,Don't Follow Me Around, disutradarai oleh Dominik Graf yang sekaligus menjadi favorit saya dalam trilogi ini, menceritakan tentang seorang wanita yang dikirim ke kawasan tersebut sebagai bagian dari penyelidikan atas misteri pembunuhan yang acap kali terjadi. Bagian final, One Minute of Darkness, disutradarai oleh Christoph Hochhausler yang menggambarkan paranoid dari sosok yang dianggap pembunuh. Yang menarik dari trilogi Dreileben ini adalah bukan dari bagaimana proses penyelidikan atas misteri pembunuhan itu dilakukan, namun lebih ke bagaimana masalah pribadi dan yang kelihatan sepele dari masing-masing karakter utamanya disorot. It's touching, funny, and terrifying in a package, not to be missed!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;10. Poetry&lt;/b&gt; (Lee Chang-dong, South Korea)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-VAQdKue7Fjs/TxAUgqsqKQI/AAAAAAAAAUU/yehBZt0MHDs/s1600/10.+Poetry1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-VAQdKue7Fjs/TxAUgqsqKQI/AAAAAAAAAUU/yehBZt0MHDs/s1600/10.+Poetry1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Jika dalam Madeo-mya Bong Joon-ho kita melihat perjuangan seorang ibu dalam menutupi kejahatan yang disinyalir telah dilakukan oleh anak laki-lakinya, maka Poetry adalah perjuangan seorang nenek yang ingin meraih kembali harga diri keluarganya ketika cucu laki-lakinya dituduh telah memperkosa anak gadis sehingga gadis tersebut bunuh diri. Perjuangan seorang nenek tersebut bukan hanya semata untuk alasan yang telah disebut sebelumnya namun juga dengan dirinya sendiri yang mengidap Alzheimer dan minatnya terhadap Puisi. Emotionally raw, heartbreaking performance by one of the most famous South Korean film actress.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;11. Terri&lt;/b&gt; (Azazel Jacobs, USA)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-6YW2be77mF0/TxAU6iczgCI/AAAAAAAAAUc/RUFY8IpKUoQ/s1600/11.+terri1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-6YW2be77mF0/TxAU6iczgCI/AAAAAAAAAUc/RUFY8IpKUoQ/s1600/11.+terri1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&amp;nbsp;Terri adalah film feature panjang ke-empat dari Azazel Jacobs, anak kandung dari sutradara film eksperimental Ken Jacobs. Terri, seorang remaja pria dengan berat badan berlebih yang membuatnya sering dijadikan bahan olok-olok oleh temannya. Dia memakai piyama ke sekolah namun merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Yang menarik disini, Azazel Jacobs bukanlah menampilkan sesuatu yang biasanya tidak ada dalam film-film remaja sejenis, namun lebih ke apa yang selama ini terlupakan dalam film jenis tersebut. Karena kebanyakan film dengan jenis ini biasanya akan jatuh kepada klise, dimana komedinya akan dibuat bodoh dan takut untuk menjadi serius, sehingga pada akhirnya akan menggunakan melodrama sebagai manuver untuk "menggerakkan" hati penonton. Azazel Jacobs membawa Terri ke dalam situasi komedi yang serius dan juga gelap, tanpa membuat film ini menjadi murahan. Film ini tidak pernah mengatakan bahwa "hidup orang-orang ini tidak sempurna, sehingga mereka harus dikasihani", melainkan bagaimana karakter-karakternya membaur, beradaptasi, menemukan hal baru dalam diri mereka, dan merasakan bagaimana perasaan bahwa ada yang membutuhkan mereka."For some people, Terri, enough is just not enough."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;12. The Forgotten Space&lt;/b&gt; (Allan Sekula &amp;amp; Noel Burch, USA)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-6MlKRhcFfPk/TxAVi9aFlxI/AAAAAAAAAUk/zU0WDPflk-Q/s1600/12.+THE-FORGOTTEN-SPACE_f.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-6MlKRhcFfPk/TxAVi9aFlxI/AAAAAAAAAUk/zU0WDPflk-Q/s1600/12.+THE-FORGOTTEN-SPACE_f.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;The Forgotten Space adalah sebuah dokumenter tentang peran lautan dalam "global supply chain", sebagaimana pentingnya dalam pengaruhnya terhadap ekonomi dunia. Kita dibawa oleh duet Sekula dan Burch melihat alur produksi serta distribusi bagaimana barang berpindah dari satu lautan ke lautan lainnya dengan dipertemukan dengan pelaut, teknisi, politisi, maupun kaum yang termarjinalkan oleh sistem transportasi global tersebut. Material yang digunakan Sekula dan Burch dalam menyusun dokumenter ini adalah gabungan dari wawancara, still photo, maupun klip cuplikan dari film-film klasik. Hasilnya adalah sebuah film esai serius, detil dan juga menggelitik mengenai salah satu proses paling penting yang setiap harinya ada di lingkungan kita.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;13. Putty Hill&lt;/b&gt; (Matthew Porterfield, USA)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Q7pLsINO-_0/TxAV_zBsFeI/AAAAAAAAAUs/mFd8bsQd8Kw/s1600/13.+puttyhill.jpeg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-Q7pLsINO-_0/TxAV_zBsFeI/AAAAAAAAAUs/mFd8bsQd8Kw/s1600/13.+puttyhill.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Yang menarik dari Putty Hill adalah bagaimana kata film independen itu dapat terasa sebagai sebuah gaya atau aliran yang benar-benar bebas dalam penciptaan suatu karya seni. Kamera Porterfield bukan hanya sebagai observer pasif layaknya film dokumenter, namun juga aktif mempertanyakan hubungan dan ruang yang hadir sebagai backdrop film ini. Strangely fascinating, a mixture of documentary &amp;amp; fiction, when everyone doesn't seem to know much about the dead boy, but rather, talking about their experiences with previous death and funerals. Beautifully shot and composed.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;14. Le Quattro Volte&lt;/b&gt; (Michelangelo Frammartino, Italy)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-r-SM5HtEDdg/TxAWWJqov0I/AAAAAAAAAU0/hRGRG25mmOE/s1600/14.+lequattrovolte.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-r-SM5HtEDdg/TxAWWJqov0I/AAAAAAAAAU0/hRGRG25mmOE/s1600/14.+lequattrovolte.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Le Quattro Volte mengambil set di sekitaran daerah pedesaan yang dikelilingi pegunungan di Italia. Cerita dikupas dengan pace yang lambat dan terfokus pada hidup seorang lelaki tua renta, seekor anak kambing yang tersesat, pohon, dan seonggok batubara yang secara metafora dapat dilihat sebagai suatu rantai reinkarnasi antarbentuk dari empat elemen tersebut. Kontrol komposisi yang terasa tegas dan penggunaan suara alam sekitar yang mendefinisikan perpindahan bentuk dari satu elemen ke elemen lainnya, membuat momentum dalam film ini terjaga dengan rapih dan menyenangkan. Salah satu film paling unik yang saya tonton tahun 2011.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;15. Cave of Forgotten Dreams&lt;/b&gt; (Werner Herzog, France/UK)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-cYRr8YagCkY/TxAWvlQU_2I/AAAAAAAAAU8/-Yi14R1gzKI/s1600/15.+caveofforgottendreams.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-cYRr8YagCkY/TxAWvlQU_2I/AAAAAAAAAU8/-Yi14R1gzKI/s1600/15.+caveofforgottendreams.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Sutradara veteran Werner Herzog yang filmografinya berkisar antara fiksi, dokumenter, maupun gabungan keduanya, mengambil tema arkeologi dalam Cave of Forgotten Dreams. Ini adalah perjalanan Herzog untuk mengerti dan menyuguhkan informasi bagi kita mengenai kehidupan manusia dan peradaban masa lampau sekitar 30,000 tahun yang lalu dalam sebuah kompleks gua bernama Chauvet yang ditemukan di Perancis pada tahun 1994. A tremendous documentary.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;16. The Tree of Life&lt;/b&gt; (Terrence Malick, USA)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-8ziLfViSSHo/TxAXIX_U4_I/AAAAAAAAAVE/LH7WLMvjwPs/s1600/16.+treeoflife1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-8ziLfViSSHo/TxAXIX_U4_I/AAAAAAAAAVE/LH7WLMvjwPs/s1600/16.+treeoflife1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Baca resensinya di &lt;a href="http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2011/08/tree-of-life-2011.html"&gt;SINI&lt;/a&gt; .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;17. The Dancer / Sang Penari&lt;/b&gt; (Ifa Isfansyah, Indonesia)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-0758ihgW1nQ/TxAXjwMUk-I/AAAAAAAAAVM/zZFpFl396ZI/s1600/17.+sangpenari.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-0758ihgW1nQ/TxAXjwMUk-I/AAAAAAAAAVM/zZFpFl396ZI/s1600/17.+sangpenari.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Elegant in style and masterly in cinematic storytelling, this tragic love story with steamy political situation as the background, is one of the most glorious cinematic experiences I had this year. This film works for me in pure cinematic way. The juxtaposing of each image where every single of them speak to me without nurturing its meaning by words. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;18. Sweet Little Lies&lt;/b&gt; (Hitoshi Yazaki, Japan)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-GaM3s_eexkU/TxAYMLuSLEI/AAAAAAAAAVU/qj2TiQbqD4g/s1600/18.+sweetlittlelies.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-GaM3s_eexkU/TxAYMLuSLEI/AAAAAAAAAVU/qj2TiQbqD4g/s1600/18.+sweetlittlelies.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Sebuah gambaran yang lembut dan sensitif tentang kehancuran rumah tangga pasangan yang belum juga dikaruniai momongan dari sutradara Jepang berbakat namun namanya kurang dikenal luas oleh para pencinta film. Lambat namun meditatif.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;19. Meek's Cutoff&lt;/b&gt; (Kelly Reichardt, USA)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-3dd0joxAOsg/TxAYgvGppzI/AAAAAAAAAVc/O9NDin9vSvs/s1600/19.+meekscutoff.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-3dd0joxAOsg/TxAYgvGppzI/AAAAAAAAAVc/O9NDin9vSvs/s1600/19.+meekscutoff.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Ceritanya sendiri sangat sederhana, Amerika Serikat di era koboi abad ke-19, dimana kemakmuran dan keamanan harus dikejar ke tempat asalnya sehingga perpindahan satu kelompok ke daerah lain adalah satu hal yang lumrah. Kelebihan Kelly Reichardt yang juga telah terdapat dalam film-film dia sebelumnya (Old Joy, Wendy &amp;amp; Lucy) adalah suatu perasaan yang dapat kita ketahui walau hanya lewat pertukaran kata-kata antar karakternya. Dalam Meek's Cutoff perasaan bahaya yang mengancam sekaligus harapan akan daerah yang akan mereka datangi dapat kita ketahui lewat dialog antar anggota kelompok itu dan dengan pria Indian yang mereka tangkap dan bawa sebagai sandera. Meek's Cutoff adalah film thriller tersunyi yang pernah saya saksikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;20. The Autobiography of Nicolae Ceausescu&lt;/b&gt; (Andrei Ujica, Romania)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-dZmhSbnSQGA/TxAYsUw9ITI/AAAAAAAAAVk/W2xYcAdn_7o/s1600/20.+Autobiography+of+Nicolae+Ceausescu.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-dZmhSbnSQGA/TxAYsUw9ITI/AAAAAAAAAVk/W2xYcAdn_7o/s1600/20.+Autobiography+of+Nicolae+Ceausescu.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Apa yang ditampilkan Andrei Ujica dalam dokumenter ini adalah pentingnya seni editing dalam membuat film. Tanpa narasi voice-over,film ini adalah murni tentang diktator terkenal mantan Presiden Rumania, Nicolae Ceausescu yang berperan sebagai dirinya sendiri. Ujica menyusun serpih demi serpih footage dari berita televisi dan dokumentasi pribadi untuk menghadirkan gambaran selama kurang lebih 2 jam tentang perjalanan karir Ceausescu sampai dia dijatuhkan oleh rakyatnya sendiri. Ambiguitas sengaja dihadirkan untuk kita sebagai penonton untuk menilai baik-buruknya peran Ceausescu bagi rakyat dan negara Rumania sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;21. Kosmos&lt;/b&gt; (Reha Erdem, Turki)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Blvp0wxZt6M/TxAY6jqbAgI/AAAAAAAAAVs/3PopLGartbk/s1600/21.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-Blvp0wxZt6M/TxAY6jqbAgI/AAAAAAAAAVs/3PopLGartbk/s1600/21.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Bersama dengan Semih Kaplanoglu, Zeki Demirkubuz atau yang paling terkenal Nuri Bilge Ceylan, nama Reha Erdem pun hadir dalam memperkaya khasanah gerakan Turkish New Wave yang sedang menarik perhatian dunia perfilman. Kosmos adalah feature paling anyar Erdem yang terasa ambisius dalam visi namun universal dalam temanya. Bersetting di daerah pinggiran Turki, dimana masyarakatnya sangat berhati-hati dan selalu curiga akan kedatangan orang asing. Kosmos hadir di kota kecil itu dengan kekuatan misteriusnya dapat menyembuhkan orang-orang yang hilang asa karena penyakit mereka. Keberadaan Kosmos juga "merusak" tatanan tradisi kolot pada masyarakat tersebut. Naskah film Erdem dengan anggun membuka misteri dan masalah yang timbul dengan balutan perasaan yang biasanya akan timbul ketika kita menonton film-film Andrei Tarkovsky). &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;22. My Joy / Schastye Moe&lt;/b&gt; (Sergei Loznitsa, Ukraine)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-AcGg2AFvTOs/TxAZG0652uI/AAAAAAAAAV0/5yJBOTiuaE4/s1600/22.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-AcGg2AFvTOs/TxAZG0652uI/AAAAAAAAAV0/5yJBOTiuaE4/s1600/22.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;My Joy merupakan debut feature film fiksi dari Sergei Loznitsa yang lebih dikenal sebelumnya melalui film-film dokumenter pendek yang indah. Dibuka dengan sekuens seorang pria yang sedang menyeret tubuh manusia lalu menimbunnya dengan lumpur, kita tahu bahwa ini adalah film dengan tema yang gelap dan depresif. Loznitsa mengurai film ini sebagai sebuah sekuens yang terdiri dari potongan-potongan adegan dimana Loznitsa terlihat sedang mengkritik Russia dengan cara yang subtil dan komikal. Judul filmnya sendiri terdengar ironis karena Russia digambarkan sebagai tanah yang menolak segala bentuk harapan bagi penduduknya. Inilah neraka dunia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;23. The Future&lt;/b&gt; (Miranda July, USA)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-t3preEkP1Jw/TxAZlXugWtI/AAAAAAAAAV8/Xi0QmbzY-TU/s1600/23.+The+Future.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-t3preEkP1Jw/TxAZlXugWtI/AAAAAAAAAV8/Xi0QmbzY-TU/s1600/23.+The+Future.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;The Future adalah film panjang Miranda July kedua setelah Me, You, and Everyone We Know yang menyabet Camera d'Or di Cannes tahuan 2005. Dalam The Future, hubungan romansa sepasang kekasih diuji dalam 30 hari menjelang kedatangan kucing yang mereka adopsi. Narasi dibawakan oleh kucing yang akan mereka adopsi, menyuarakan kegelisahan, rasa takut, maupun perspektif kemana July membawa film ini berjalan. Dan nyaman rasanya untuk menyebut July sebagai "the Queen of quirk" dalam skema perfilman Amerika. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;24. The Hunter&lt;/b&gt; (Rafi Pitts, Iran)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-GnWigbM0zq0/TxAZvcFXdjI/AAAAAAAAAWE/77_BNBP9tXM/s1600/24.+TheHunter.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-GnWigbM0zq0/TxAZvcFXdjI/AAAAAAAAAWE/77_BNBP9tXM/s1600/24.+TheHunter.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Dalam aksi balas dendamnya, seorang pria secara random membunuh dengan menembak dua orang polisi dari kejauhan. Rasa kecewa pria tersebut disebabkan oleh terbunuhnya istri dan anak perempuannya akibat aparat polisi yang salah tembak dalam satu kegiatan unjuk rasa. The Hunter mungkin saja terlihat minimalis dalam hal gayanya bernarasi ataupun dari segi dialog. Tetapi, seperti halnya dalam film-film Robert Bresson (Au Hasard Balthazar, L'Argent), presentasi gambar dan penggunaan suara sekitarnya, masterful. Bersetting di hutan terbuka yang terasa sama claustrophobic-nya dengan ruangan sidang dalam Asghar Farhadi's A Separation. An edgy political  thriller.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;25. Mysteries of Lisbon&lt;/b&gt; (Raul Ruiz, Portugal)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-QBG3h7Xoxmk/TxAZ8nJvMKI/AAAAAAAAAWM/rhj8e2zMHi0/s1600/25.+Mysteries+of+Lisbon.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-QBG3h7Xoxmk/TxAZ8nJvMKI/AAAAAAAAAWM/rhj8e2zMHi0/s1600/25.+Mysteries+of+Lisbon.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Swan song dari Raul Ruiz yang berdurasi sekitar 4 jam setengah ini adalah sebuah period-costume-drama dan merupakan salah satu pencapaian terbaik dari karir penyutradaraannya yang panjang. Plot-twist yang banyak, cinta segitiga, visual trick, serta flashback di dalam flashback yang sudah menjadi signature-nya (Manuel on the Island of Wonders, City of Pirates). Mysteries of Lisbon bertutur tentang seorang remaja pria yang mencari tahu asal-usulnya, dimana dalam perjalanannya tersebut, tak terhitung munculnya rahasia yang sebelumnya tabu untuk diberitahukan. Sinematografi yang mencengangkan oleh Andre Szankowski di belakang kamera, dengan panning memutar 360 derajat serta tracking dari satu ruangan ke ruangan yang lain, mengingatkan pada zaman kejayaan Max Ophuls di dekade 40 dan 50an dengan film-filmnya (La Ronde, Earrings of Madame de). &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;26. Drive&lt;/b&gt; (Nicholas Winding Refn, USA)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-F8y9cuIbK9o/TxAaM0RM9QI/AAAAAAAAAWU/iGzxDXK35nY/s1600/26.+drive1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-F8y9cuIbK9o/TxAaM0RM9QI/AAAAAAAAAWU/iGzxDXK35nY/s1600/26.+drive1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Drive mungkin dapat menjadi alasan baik untuk tidak mengkotak-kotakkan film berdasar genre. It could be said as an action, but the drama is strong. If we want to take it as a drama, the violence is quite graphic. To me, Drive is like a blank palette, where the main character, The Driver, is an anonymous character whom we only know works as a crew in a car service station, and also part-timing as a stunt driver in Hollywood flicks. He falls in love with his neighbor, a beautiful woman, and again which we cannot draw clearly why he falls into a woman whose husband is going back from prison in short moment. That's why I love the film, it sparks your imagination and it let us linger with our subjective preconceived notion. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;27. Tomboy&lt;/b&gt; (Celine Sciamma, France)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Y_yry_gVDVs/TxAaZie2kOI/AAAAAAAAAWc/Mi2WLuIPDBw/s1600/27.+Tomboy.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-Y_yry_gVDVs/TxAaZie2kOI/AAAAAAAAAWc/Mi2WLuIPDBw/s1600/27.+Tomboy.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Celine Sciamma menyelami tema gender dan seksualitas dari sudut pandang seorang gadis belia yang tampak terlalu muda untuk tahu siapa mereka dan bagaimana hidup dalam ekspektasi orang banyak. Sentral karakter di film ini adalah Laure, gadis berumur 10 tahun yang berdandan dan memperkenalkan diri ke tetangga-tetangganya sebagai anak laki-laki bernama Mikael. Sebagai Mikael, Laure dapat bermain bola dengan bertelanjang dada dan berkelahi untuk membela adik perempuannya. Tetapi ada ketakutan yang konstan bilamana jati diri Laure yang sebenarnya diketahui. Yang menarik adalah Sciamma menggambarkan Laure dengan kenaifan, dimana Laure bukan hanya masih dalam tahap pre-sexual tetapi juga tidak sepenuhnya menyadari mengapa dia memutuskan untuk mengidentifikasikan dirinya sebagai lelaki. It just feels right to her, dan dia tetap melakukan peran barunya itu. Sciamma menterjemahkan visual dari kompleksnya perasaan terdalam dari permasalahan identifikasi diri Laure, tanpa sentimental dan manipulatif.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;28. Bridesmaids&lt;/b&gt; (Paul Feig, USA)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-ArdulynErfI/TxAbBuZ33bI/AAAAAAAAAWk/dCDwr9BnWy0/s1600/28.+Bridesmaids.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-ArdulynErfI/TxAbBuZ33bI/AAAAAAAAAWk/dCDwr9BnWy0/s1600/28.+Bridesmaids.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Ditulis oleh pemain komedi Saturday Night Live, Kristen Wiig yang secara kocak menuangkan formula "bromance" ke dalam dunia wanita. Wiig juga ambil bagian dengan berperan sebagai Annie, seorang pecundang yang menyedihkan karena persahabatannya dengan Maya terancam ketika Maya bertunangan. Annie pun merasa terganggu oleh kehadiran sahabat wanita Maya lainnya yang juga ingin menjadi maid of honor. Walau humornya terkesan kasar, tetapi terasa datang dari perspektif wanita dan Bridesmaids sukses menyeimbangkan antara rasa sentimentil yang biasa ada dalam chick flick, dan keliaran yang menjadi ciri khas dalam dick flick.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;29. The Mill and the Cross&lt;/b&gt; (Lech Majewski, Poland/UK)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-9aSUi99qdX4/TxAbSjgYVJI/AAAAAAAAAWs/pmjOWzKUVsI/s1600/29.+Mill+and+the+Cross.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-9aSUi99qdX4/TxAbSjgYVJI/AAAAAAAAAWs/pmjOWzKUVsI/s1600/29.+Mill+and+the+Cross.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;The Mill and the Cross adalah film paling unik lainnya yang saya saksikan di 2011. Majewski yang merupakan sutradara kawakan asal Polandia,membawa kita kembali ke sekitar abad 16 dengan merekonstruksi bagaimana lukisan dari Peter Bruegel yang berjudul "Way to Cavalry" dibuat. Jika Melancholia dan The Tree of Life disebut sebagai film yang mempunyai signifikansi spiritual tahun ini, maka The Mill and the Cross adalah yang paling personal dan mendekati visi dari medium seni sinema sendiri. Karena apa yang ditampilkan dalam film ini lebih ke perjalanan spiritual seorang artis dalam menciptakan karyanya. Pengalaman yang kita dapat adalah setara dengan pengalaman memahami sejarah, simbolisasi, dan imajinasi yang membentuk satu-kesatuan yang berwujud sebagai sebuah lukisan. Stagey, and beautifully crafted.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;30. Father / Aita&lt;/b&gt; (Jose Maria de Orbe, Spain)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-qg1t0pJi1bA/TxAbtVUJonI/AAAAAAAAAW0/WGi1y8iXSeU/s1600/30.+Aita.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-qg1t0pJi1bA/TxAbtVUJonI/AAAAAAAAAW0/WGi1y8iXSeU/s1600/30.+Aita.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Aita adalah soliloquy yang indah mengenai kenangan, waktu, dan tempat dari sentral karakternya, yaitu sebuah mansion tua dari abad ke-13 yang telah ditempati oleh banyak generasi. Dengan gaya yang dapat dibilang semi-dokumenter, de Orbe mengaburkan batasan fiksi dan non-fiksi dengan sentuhan found footage film eksperimental yang diprojeksikan pada dinding mansion, untuk mempertanyakan nilai intrinsik dan spiritual dari rumah tua itu. Tenang, damai, thoughtful serta sangat terbuka untuk interpretasi tanpa batas. Aita is a gem to those who seek unconventional narrative structures.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Honorable Mentions:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;- &lt;b&gt;Black Venus / Venus Noire&lt;/b&gt; (Abdellatif Kechiche, France)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;- &lt;b&gt;Rango&lt;/b&gt; (Gore Verbinski, USA)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;- &lt;b&gt;Attenberg&lt;/b&gt; (Attina Rachel Tsangari, Greece)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;- &lt;b&gt;Ketoprak&lt;/b&gt; - a segment from the omnibus &lt;b&gt;Working Girls&lt;/b&gt; (Yosef Angginoen, Indonesia)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;- &lt;b&gt;Midnight in Paris&lt;/b&gt; (Woody Allen, USA)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;- &lt;b&gt;Another Year&lt;/b&gt; (Mike Leigh, UK)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;- &lt;b&gt;Boxing Gym&lt;/b&gt; (Frederick Wiseman, USA)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;- &lt;b&gt;The City Below&lt;/b&gt; (Christoph Hochhausler, Germany)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;- &lt;b&gt;Tyrannosaur&lt;/b&gt; (Paddy Considine, UK)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;- &lt;b&gt;Snowtown&lt;/b&gt; (Justin Kurzel, Australia)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;- &lt;b&gt;Habemus Papam / We Have a Pope&lt;/b&gt; (Nanni Moretti, Italy)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;- &lt;b&gt;Post Mortem&lt;/b&gt; (Pablo Larrain, Chile)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;- &lt;b&gt;Martha Macy May Marlene&lt;/b&gt; (Sean Durkin, USA)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;- &lt;b&gt;Bullhead&lt;/b&gt; (Michael Roskam, Belgium)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;- &lt;b&gt;Nenette&lt;/b&gt; (Nicholas Philibert, France)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;- &lt;b&gt;Road to Nowhere&lt;/b&gt; (Monte Hellman, USA)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;- &lt;b&gt;Open Five&lt;/b&gt; (Kentucker Audley, USA)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;- &lt;b&gt;Finisterrae&lt;/b&gt; (Sergio Caballero, Spain)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;- &lt;b&gt;Two Letter for Ana&lt;/b&gt; (Jose Luis Guerin, Spain)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;- &lt;b&gt;We Need to Talk About Kevin&lt;/b&gt; (Lynne Ramsay, UK)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Omission:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Project Nim, Elena, Carnage (Roman Polanski), I Melt with You, The Day He Arrives (Hong Sang-soo), Once Upon a Time in Anatolia, Pina (Wim Wenders), Senna, Moneyball, Life in a Day, Le Havre (Aki Kaurismaki), The Artist (Michael Hazanavicius), It's The Earth not The Moon (Goncalo Tocha), Chantrapas (Otar Iosselliani), Weekend (Andrew Haigh), Hugo (Martin Scorsese), Tinker Tailor Soldier Spy (Thomas Alfredson), Cut (Amir Naderi), This is not a Film (Jafar Panahi), Hanezu (Naomi Kawase), Shame (Steve McQueen), A Dangerous Method (David Cronenberg), Hors Satan (Bertrand Bonello), Un ete brulant (Philippe Garrel), Impardonnables (Andre Techine), This Our Still Life (Andrew Kotting), Take Shelter, Miss Bala (Gerardo Naranjo), Poliss (Maiwenn), The Deep Blue Sea (Terrence Davies), Damsels in Distress, Position Among the Stars, Faust (Aleksander Sokurov), Michael (Markus Schleinzer), The Descendants, Margaret (Kenneth Lonnergan), Silver Bullets (Joe Swanberg), Voluptuous Sleep, Footnote (Joseph Cedar)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7942573538273671699-741010622558516372?l=cinemaexposure-reviews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/feeds/741010622558516372/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2012/01/mengatakan-sesuatu-itu-dalam-konteks.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/741010622558516372'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/741010622558516372'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2012/01/mengatakan-sesuatu-itu-dalam-konteks.html' title='50 Favorite Films of 2011'/><author><name>Cinema Exposure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12014535301006601988</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='8' src='http://3.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TLtAXbNstRI/AAAAAAAAACI/Ezb3Bup_eDQ/S220/headerblog3+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-x_a64gkzI1U/TxAQc8534GI/AAAAAAAAATM/sIlrBFltFJc/s72-c/1.+A+Separation2+-+Copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7942573538273671699.post-5179086051911630559</id><published>2011-11-18T08:24:00.001-08:00</published><updated>2011-11-20T03:24:07.444-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tema film'/><title type='text'>Sisi Lain Film Horor</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-LawFOu-ccEE/TsaTLHZz_hI/AAAAAAAAARc/iCytqi7py1Q/s1600/caligari.jpg" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;Cabinet of Dr. Caligari (1920)&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;ditulis oleh Yuki Aditya dan Erdiawan Putra&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Film horor, sebuah genre film favorit yang dimaksudkan untuk membangkitkan perasaan takut dan terror terhadap penonton, terus berkembang dan bervariasi. Plotnya berkisar antara kekuatan jahat, yang bisa dalam bentuk roh halus atau sesuatu yang berhubungan dengan hal mistis dan supernatural, dan manusia yang mempunyai niat jahat merecoki kehidupan sehari-hari manusia atau kelompok yang ditetapkan sebagai korban atau jagoan. Kebanyakan film horror mempunyai jalan cerita yang sederhana, orang jahat dan setan datang, mengganggu dan merusak, dan berakhir dengan jagoan yang muncul untuk membuat semua hal menjadi beres kembali. Tetapi banyak penggemar film horror yang tidak tahu bahwa di luar sana banyak sekali film-film horror yang dibuat tidak sesederhana cerita diatas. &lt;i&gt;Bisakah sebuah film horor jadi menantang, cantik, atau memberi kita pengalaman baru seperti bentuk seni lainnya?&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Film-film horor awal&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Film horror sendiri umurnya sama tuanya dengan sejarah film itu sendiri. Film horror bahkan sudah dibuat semenjak eranya film bisu. Banyak sutradara film serius yang menggarap film horror secara serius pula yang sekarang menjadi landmark dalam sejarah film. Pada era 1920-an, gerakan &lt;i&gt;German Expressionism&lt;/i&gt; banyak bertanggungjawab terhadap  perkembangan awal bentuk film horror.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;FW Murnau dengan &lt;i&gt;Nosferatu&lt;/i&gt;-nya yang fenomenal sebagai penampakkan pertama vampire dalam film, atau Robert Wiene dengan &lt;i&gt;The Cabinet of Doctor Caligari &lt;/i&gt;yang sering disebut sebagai “the granddaddy.of all horror films”, yang menceritakan tentang ekplorasi pikiran dari seorang yang dianggap gila dan diasingkan disebuah rumah sakit jiwa. Cara bertutur Wiene yang cerdas membuat kita selalu menerka dan tidak pasti tentang siapakah yang waras dalam rumah sakit jiwa itu, ditambah lagi dengan setting tempat yang dipenuhi objek dengan bentuk tidak beraturan khas aliran Expressionism. Walaupun penonton modern akan merasa &lt;i&gt;Nosferatu&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;Caligari&lt;/i&gt; mempunyai alur cerita yang lambat, dengan banyak long takes, dan sedikit perpindahan kamera diantara adegan, &lt;i&gt;Nosferatu&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Caligari&lt;/i&gt; adalah karya yang stylish, imajinatif, sekaligus tetap meninggalkan perasaan takut dalam diri penonton, serta berpengaruh besar kepada film-film Tim Burton di zaman sekarang.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika Jerman boleh bangga dengan aliran Expressionism-nya yang berpengaruh banyak terhadap genre Horror, Perancis dengan tradisi filmnya yang kuat juga mempunyai sejarah terhadap perkembangan genre ini. Orang Perancis sudah lama mempunyai obsesi unik terhadap visualisasi yang menampilkan kematian dengan populernya Grand Guignol Theatre yang terkenal dengan cerita opera menyeramkan dan biasanya mempunyai ending berbumbu kekerasan. Seiring berkembangnya dunia perfilman di Perancis, tidak lama untuk mereka untuk memvisualisasikan obsesi dan rasa penasaran itu ke sebuah medium baru.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Georges Méliès, pada tahun 1896 menyutradarai film yang banyak disepakati para pengamat film sebagai film horror pertama berjudul &lt;i&gt;The House of the Devil&lt;/i&gt;. Sebuah film sederhana dengan plot yang singkat, dengan menampilkan kelelawar, penyihir, hantu, tengkorak, yang sampai sekarang menjadi template apa saja yang harus ada di sebuah film horror. Walau sebenarnya sebelum &lt;i&gt;The House of the Devil&lt;/i&gt;, ia juga sempat membuat beberapa film dengan tema serupa. Méliès membuat banyak lagi film dengan tema horror pada dekade-dekade berikutnya, dengan beberapa judul yang terkenal seperti &lt;i&gt;The Devil’s Laboratory&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;The Cave of the Demons&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;Summoning the Spirits&lt;/i&gt;.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-n05KcY6Ylb8/TsaVAAKrRXI/AAAAAAAAARs/YYt3BTg2Vmw/s1600/unchien.jpg" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;i&gt;Un Chien Andalou (1929)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Film-film Méliès dipenuhi dengan trik-trik dan spesial efek yang bukan saja membuat dirinya sebagai pionir dalam genre horror, tetapi juga pada sejarah perkembangan film pada umumnya. Pada 1929, sutradara aliran surealis Luis Buñuel menyutradari salah satu contoh film paling terkenal dari gerakan film &lt;i&gt;Avant-garde&lt;/i&gt; Perancis berjudul &lt;i&gt;Un Chien Andalou&lt;/i&gt; (An Andalusian Dog), dimana apa yang dia tunjukkan di layar film memang ditujukan untuk membuat penonton merasa takut dan kaget, contohnya adalah adegan paling terkenal dalam film ini yang menampilkan mata seorang wanita yang sedang diiris pisau tajam.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masih di Prancis. Pada tahun 1919, di era Perang Dunia I, mantan sinematografer tentara nasional Prancis, Abel Gance, membuat sebuah film esensial berjudul &lt;i&gt;I Accuse&lt;/i&gt;, yang sarat dengan konten pasifisme dan anti-peperangan. Gance memanfaatkan elemen horor seperti mayat hidup untuk menyampaikan pesan filmnya. Pada tahun 1938, Gance membuat ulang mahakaryanya tersebut dan mengubah titik tumpu ceritanya, disesuaikan dengan isu Perang Dunia II pada jaman tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Amerika Serikat dengan budaya kapitalisnya dan melalui kuatnya modal yang dimiliki studio-studio filmnya di Hollywood tentu tidak mau melewatkan begitu saja genre horror yang dianggap dapat membawa penonton ke dunia lain dan melupakan sejenak kepenatan hidup mereka. Hollywood banyak mengadaptasi karya seni dalam bentuk lain seperti literatur klasik ke medium film. Sebut saja &lt;i&gt;Hunchback of Notre-Dame&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Phantom of the Opera&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Dracula&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;Dr Jekyll and Mr Hyde&lt;/i&gt;. Lon Chaney adalah salah satu aktor yang cukup populer di medan ini.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Studio Universal terkenal banyak menghasilkan film-film horor klasik yang sudah melambungkan ikon-ikon horor seperti Bela Lugosi yang identik dengan perannya sebagai Count Dracula dalam film &lt;i&gt;Dracula (1931)&lt;/i&gt; karya Tod Browning, atau Boris Karloff yang sejak mendapat peran sang monster dalam &lt;i&gt;Frankenstein (1931)&lt;/i&gt;, mulai menjadi aktor langganan untuk film-film bergenre sejenis, dan secara langsung mengabadikan namanya sebagai ikon penting dalam sejarah sinema horor.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Film B&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-9_nfXsv9SZY/TsbLVy--j9I/AAAAAAAAAS8/26w7NfHsucc/s1600/catpeople2.jpg" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Cat People (1942) &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Uniknya, dalam sebuah sistem produksi film Hollywood yang dapat dikatakan lebih mementingkan keinginan pasar komersil, muncul sebuah idiom yaitu B-Movie, suatu line production dari sebuah studio di era Hollywood Golden Age (1930s to 1960s) untuk membuat film dengan biaya produksi rendah dengan memakai aktor/aktris yang tidak terlalu terkenal dan memungkinkan film dibuat secara personal atau intim sesuai keinginan sutradara atau produser tanpa campur tangan yang terlalu banyak dari executive produser studio besar Hollywood. Val Lewton adalah sebuah contoh sukses dari era B Movie Hollywood. Seorang produser bertangan dingin yang mengarahkan sutradara-sutradara eksentrik macam Jacques Tourneur, Robert Wise dan Mark Robson untuk membuat film-film horror antik, moody, misterius dan nyeleneh seperti &lt;i&gt;Cat People&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;I Walked with Zombie&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;The Seventh Victim&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Bedlam&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Isle of the Death&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;The Leopard Man&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;The Body Snatcher&lt;/i&gt;.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita ambil contoh &lt;i&gt;Cat People&lt;/i&gt; (Jacques Tourneur) yang menurut saya diantara film terbaik yang pernah diproduseri Lewton. &lt;i&gt;Cat People&lt;/i&gt; yang bercerita tentang seorang wanita misterius asal Serbia bernama Irena yang dicurigai dapat berubah menjadi seekor Panther hitam bila dirinya dihinggapi rasa marah dan cemburu karena dirinya diyakini sebagai turunan dari suku yang dikutuk oleh setan. &lt;i&gt;Cat People&lt;/i&gt; terkenal karena dapat menakuti penonton karena lebih banyak menampilkan bayangan dari Irena dalam bentuk Panther hitam dan efek suara yang ambigu, sehingga imajinasi dan otak penonton bekerja ekstra untuk menciptakan gambaran sendiri dalam pikiran. Panther itu tetap tak terlihat sampai adegan terakhir sebagai konsep keseluruhan film yang dimaksudkan untuk tetap misterius semaksimal mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perkembangan dramatis dibidang teknologi yang terjadi di era 1950an, tema-tema yang dituangkan ke genre horror semakin beragam. Cerita mulai bergeser dari yang beraroma Gothic kepada cerita yang lebih relevan dalam kehidupan nyata pada zaman itu. Pembuat film mencampur horror dengan genre lain dengan misalnya fiksi-ilmiah atau dengan disiplin ilmu lain seperti psikologi. Penjahat dalam film horror tidak lagi melulu berbentuk hantu seperti vampire, dracula, atau roh jahat lainnya, tetapi dapat berupa manusia biasa atau suatu benda yang menjadi hidup.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Perkembangan Lebih Jauh Genre Ini&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-00f0M_RsMaE/TsabyJR99TI/AAAAAAAAASM/NeKP0iXiB7E/s1600/psycho.jpg" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Psycho (1960)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Film seperti &lt;i&gt;Psycho&lt;/i&gt; (Alfred Hitchcock, 1960), &lt;i&gt;What Ever Happened to Baby Jane&lt;/i&gt; (Robert Aldrich, 1962), dan &lt;i&gt;Hour of the Wolf&lt;/i&gt; aka &lt;i&gt;Vargtimmen&lt;/i&gt; (Ingmar Bergman, 1968) adalah contoh-contoh film yang tidak membutuhkan hantu untuk menimbulkan perasaan takut terhadap penonton.&lt;i&gt;Psycho&lt;/i&gt; dengan penjahat iconic-nya yang masih terkenal, Norman Bates, pria yang mempunyai kepribadian ganda dan merngubahnya menjadi pembunuh berdarah dingin. Adegan mandi di shower yang mencekam namun tanpa dibumbui kesadisan yang berlebihan, cukup dengan tehnik editing khas Hitchcock, serta pemilihan untuk merilis filmnya dalam bentuk hitam-putih karena tidak ingin menciptakan kesan kekerasan yang tidak manusiawi, membuat &lt;i&gt;Psycho&lt;/i&gt; sebagai salah satu film horror dengan cita rasa.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;What Ever Happened Baby Jane&lt;/i&gt; membuat penonton takut karena akting brilian dari dua pemeran utamanya yang merupakan diva legendaris Hollywood di era 30-an Bette Davis dan Joan Crawford. Davis memerankan Baby Jane, mantan aktris cilik yang sekarang sudah menjadi nenek tetapi masih dihinggapi rasa cemburu karena saudara kandungnya yang diperankan Crawford menjadi lebih sukses kariernya. Davis merawat saudaranya yang sekarang menjadi lumpuh dengan harapan dapat menguasai seluruh harta Crawford ketika dia mati. Penonton dibuat takut dengan cara Davis membunuh Crawford secara pelan-pelan dengan terrornya yang dibuat secara halus namun tetap mematikan. Kesuksesan &lt;i&gt;What Ever Happened to Baby Jane&lt;/i&gt; melahirkan sebuah sub-genre yang nantinya cukup banyak ditiru, dimana tokoh seorang nenek ditempatkan dalam posisi sebuah karakter antagonis. Sederhananya itu disebut &lt;i&gt;hag-horror&lt;/i&gt;, dan baik Davis maupun Crawford juga beberapa kali tampil di film berjenis ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di Amerika, ada beberapa momen yang berpengaruh terhadap perkembangan genre ini. Herschell Gordon Lewis pada tahun 1963 membuat film yang mengejutkan penonton Amerika, &lt;i&gt;Blood Feast&lt;/i&gt;. Film itu dipercaya sebagai film yang mempopulerkan genre gore/splatter, sekaligus membuat Lewis diakui sebagai “The Godfather of Gore”. &lt;i&gt;Night of the Living Dead (1968)&lt;/i&gt; karya Romero juga mendefinisikan ulang kata zombie menjadi lebih bersifat &lt;i&gt;gore&lt;/i&gt; untuk konsumsi penikmat sinema horor. Dan sedikit bergerak ke utara, Kanada memiliki David Cronenberg yang terkenal dengan film-film &lt;i&gt;body/venereal horror&lt;/i&gt;-nya. Sebelum Cronenberg bekerja di Amerika Serikat, ia sempat menghasilkan beberapa film horor eksploitasi klasik seperti &lt;i&gt;Shivers (1975)&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Rabid (1977)&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;The Brood (1979)&lt;/i&gt;.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-vQwWFqU1ftc/Tsadi9kvW0I/AAAAAAAAASU/N1PzW0ug1qY/s1600/suspiria.jpg" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Suspiria (1977)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan kesuksesan &lt;i&gt;Rosemary’s Baby&lt;/i&gt; (Roman Polanski, 1968), maka lebih banyak lagi sutradara yang membuat film horror dengan cara yang lebih nyeni dalam hal visual atau jalan cerita yang membuat orang lebih mengernyitkan dahi dibanding film horror standar. Perkembangan film horror di Eropa pesat dengan Italia sebagai pionir dengan sutradara-sutradara kreatif seperti Mario Bava, Lucio Fulci, dan Dario Argento, dan Spanyol dengan Jesus Franco, serta Perancis dengan film-film dari Jean Rollin. Sutradara-sutradara tersebut mengangkat kembali pelaku-pelaku kejahatan tradisional pada film horror seperti vampire, werewolves, pembunuh psikopat, hantu dan zombie – tetapi membuatnya dengan cara dan cita rasa berbeda khas Eropa yang melibatkan banyak adegan sadis dan seksualitas. Film-film yang perlu diperhatikan dari sutradara-sutradara tersebut antara lain adalah &lt;i&gt;Black Sunday&lt;/i&gt; (Mario Bava, 1960), &lt;i&gt;Suspiria&lt;/i&gt; (Dario Argento, 1977), &lt;i&gt;Venus in Furs&lt;/i&gt; (Jesus Franco, 1969), dan &lt;i&gt;The Naked Vampire&lt;/i&gt; (Jean Rollin, 1970). Black Sunday dapat dikatakan sebagai salah satu film dengan visual paling indah yang pernah dibuat. Mood yang gelap, depresi, dan tentang alam kematian, sadisme yang dikemas secara artistik, dan Barbara Steele yang dapat disejajarkan sebagai icon penting dalam genre horror dengan Bela Lugosi dan Boris Karloff, memerankan dua karakter sekaligus sebagai putri vampire dan perawan yang diambil tubuhnya untuk dihuni putri vampire tersebut.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Suspiria&lt;/i&gt; dengan jalan cerita yang sederhana, dan visual yang indah tetap memberikan ruang penonton untuk berimajinasi mengenai bentuk asli roh jahat penyihir misterius yang membunuhi gadis-gadis pebalet di sebuah sekolah balet terkenal. Argento memenuhi filmnya dengan warna merah yang membuat bulu kuduk berdiri serta film score dan editing suara yang mencekam sampai akhir film.&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di Italia, dikenal sebuah sub-genre horror bernama “giallo”. Giallo secara harfiah berarti kuning, yang merupakan warna latar dari sampul novel-novel pulp betemakan suspense-misteri pada saat itu. Tema film giallo biasanya mengenai misteri di balik sebuah pembunuhan berantai, disajikan dengan visual yang stylish, plot yang mengundang rasa penasaran jiwa detektif setiap penonton, lengkap dengan hidangan erotis dari gadis-gadis seksi asal Italia. &lt;i&gt;The Girl Who Knew Too Much (1963)&lt;/i&gt; karya Mario Bava disepakati sebagai film giallo pertama yang pernah dibuat, walaupun formula kebanyakan film-film giallo sebenarnya lebih cenderung mengikuti formula film karya Bava lainnya, &lt;i&gt;Blood and Black Lace (1964)&lt;/i&gt;. Selain Bava, Dario Argento adalah figur lain yang cukup bertanggung jawab atas memanasnya demam giallo pada dekade 1970an sejak filmnya, &lt;i&gt;The Bird with the Crystal Plumage (1971)&lt;/i&gt;, menuai sukses di pasaran. Akhirnya giallo dianggap menjadi salah satu subjek film eksploitasi, dan film-film berjenis ini banyak diputar di bioskop-bioskop &lt;i&gt;grindhouse&lt;/i&gt; di Amerika Serikat.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain giallo, Italia juga terkenal dengan film zombie dan kanibalnya. Film-film kanibal tradisional italia banyak dianggap tabu, dan puncak popularitas film ini tentu ketika Ruggero Deodato dan &lt;i&gt;Cannibal Holocaust (1980)&lt;/i&gt; karyanya mulai memicu kontroversi di berbagai negara. Lucio Fulci memang pernah membuat film dengan berbagai genre yang berbeda, namun namanya lebih lekat dengan tema yang berbau horor. Setelah beberapa film giallo, lantas Fulci membuat &lt;i&gt;Zombie (1979)&lt;/i&gt; yang menjadi salah satu film terbesarnya. &lt;i&gt;Zombie&lt;/i&gt;, atau di Eropa juga dikenal sebagai &lt;i&gt;Zombi 2&lt;/i&gt;, pada waktu itu dipromosikan sebagai sekuel &lt;i&gt;Dawn of the Dead (1976)&lt;/i&gt; karya Romero (yang di sana dirilis dengan judul: &lt;i&gt;Zombi&lt;/i&gt;). Fulci juga dikenal dengan trilogi &lt;i&gt;Gate of Hell &lt;/i&gt;yang terdiri dari &lt;i&gt;City of the Living Dead (1980)&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;The Beyond (1981)&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;House by the Cemetery (1981)&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-zc5hh9kHCTI/TsaWGUHp1tI/AAAAAAAAAR0/ofLH_tx4-jM/s1600/ugetsu.jpg" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;i&gt;Ugetsu (1953)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perkembangan horor di Jepang pun menjadi studi yang sangat menarik untuk diamati. Pada awalnya, &lt;i&gt;kaidan-eiga&lt;/i&gt; (kisah supernatural, yang mengambil latar jaman Edo) adalah tema yang banyak diangkat dalam pasar film horor Jepang. Beberapa sutradara Jepang yang sangat dihormati, tercatat pernah membuat sample klasik dalam genre ini seperti: Masaki Kobayashi (&lt;i&gt;Kwaidan&lt;/i&gt;, 1964), Kenji Mizoguchi (&lt;i&gt;Ugetsu Monogatari&lt;/i&gt;, 1953) dan Kaneto Shindo (&lt;i&gt;Kuroneko&lt;/i&gt;, 1968). Sutradara &lt;i&gt;Jigoku (1960)&lt;/i&gt;, Nobuo Nakagawa, adalah salah satu sutradara yang terkenal dengan beberapa film kaidan klasik karyanya seperti &lt;i&gt;The Ghost of Kasane Swamp (1957)&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;The Black Cat (1958)&lt;/i&gt;.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak film pink meraih perhatian filmgoers Jepang pada pertengahan dekade 1960an, sebuah sub-genre yang menggabungkan pornografi softcore dan elemen horor juga ikut dilirik pihak produser. Banyak film bertema &lt;i&gt;ero-guro (erotic-grotesque)&lt;/i&gt; dan penyiksaan fisik terhadap perempuan diproduksi. &lt;i&gt;Blind Beast&lt;/i&gt; (Yasozu Masumura, 1961) merupakan salah satu contoh esensialnya. Teruo Ishii merupakan nama yang juga dikenal sudah menghasilkan beberapa film &lt;i&gt;pinky violence&lt;/i&gt; klasik bernilai produksi tinggi. &lt;i&gt;Horrors of Malformed Men (1969)&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;The Joy of Torture (1969)&lt;/i&gt; bisa dikatakan sebagai beberapa film Ishii yang paling dikenal.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti ketika &lt;i&gt;King Kong&lt;/i&gt; meraih sukses besar di tahun 1933 silam, Jepang juga memiliki film monster raksasa yang diketahui dengan istilah kaiju. &lt;i&gt;Gojira (1954)&lt;/i&gt; karya Ishirō Honda dianggap film terpenting dalam sub-genre kaiju, yang akan diikuti oleh banyak sekuel, sementara banyak monster-monster raksasa baru ikut memperkenalkan diri mereka di layar&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di Inggris juga banyak terdapat harta karun sinematik bergenre horor. Sebut saja beberapa yang paling terkenal antara lain: &lt;i&gt;Village of the Damned&lt;/i&gt; (Wolf Rilla, 1960), &lt;i&gt;The Innocents&lt;/i&gt; (Jack Clayton, 1961), &lt;i&gt;Don’t Look Now&lt;/i&gt; (Nicolas Roeg, 1973) dan &lt;i&gt;The Wicker Man&lt;/i&gt; (Robin Hardy, 1973). Namun perusahaan produksi film yang punya pengaruh terbesar dalam perkembangan genre horror adalah Hammer. Di pertengahan dekade 1950an, Hammer menelurkan beberapa film sukses seperti &lt;i&gt;The Quatermass Xperiment (1955)&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;The Curse of Frankenstein (1957)&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Horror of Dracula (1958)&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;The Mummy (1959)&lt;/i&gt; yang akan dibuatkan sekuel-sekuelnya pada dekade berikutnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masih banyak momen penting dalam sejarah sinema horor dari negara-negara lain. Brazil mempunyai Jose Mojica Marins yang terkenal dengan seri film horor sataniknya, Coffin Joe. Di Meksiko terpendam film-film bagus bertemakan hantu, termasuk ‘trilogi’ horor  karya Carlos Enrique Taboada: &lt;i&gt;Even the Wind Has Fear (1968)&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;The Book of Stone (1969)&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;Blacker than the Night (1975)&lt;/i&gt;. Termasuk Spanyol yang memiliki &lt;i&gt;Who Can Kill A Child? (1976)&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;The Living Dead at Manchester Morgue (1974)&lt;/i&gt;. Dan tentu masih banyak contoh lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perkembangan film horror bernuansa art-house ini jugalah yang mengilhami Andy Warhol dan kelompoknya &lt;i&gt;The Factory&lt;/i&gt; untuk memproduseri film dengan nuansa art-house dan seksualitas seperti &lt;i&gt;Flesh for Frankenstein&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Blood for Dracula&lt;/i&gt;.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Horor Modern&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-H9J1obTruWI/TsaZSAoyhkI/AAAAAAAAASE/Dxl19DMc9qI/s1600/possession.jpg" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Possession (1981)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gelombang pembaharuan dalam perkembangan film horror menjadi sedikit stagnan di era 1980an. Era dimana film horror secara general berkutat di sekitar slasher murahan, dan zombie. Tetapi, tetap ada harta karun terpendam untuk penggemar film horror yang menginginkan film dengan nuansa berbeda dan berkualitas. Abel Ferrara, “the bad boy in American film industry”, pada tahun 1995 merilis &lt;i&gt;The Addiction&lt;/i&gt;, sebuah film vampire yang penuh dengan metafor tentang dosa dan penebusan dosa, spiritual, serta human nature. Penuh dengan pertanyaan filosofis, Ferrara membuat cerita yang edgy dan cerdas di saat bersamaan, sebuah film yang personal di sebuah era dimana independensi menjadi begitu berharga.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menjawab pertanyaan di paragraf pertama: Bisakah sebuah film horor jadi menantang, cantik, atau memberi kita pengalaman baru seperti bentuk seni lainnya? Secara pengakuan, mungkin &lt;i&gt;Possession (1981)&lt;/i&gt; karya Andrzej Zulawski bisa menjadi contoh jawaban sempurnanya. Masuk ke dalam kategori &lt;i&gt;video nasty&lt;/i&gt;, sekaligus berjaya di festival film Cannes. Namun malang sekali mendengar kabar kalau film ini dipotong sebanyak 40 menit untuk rilisnya di Amerika Serikat.&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7942573538273671699-5179086051911630559?l=cinemaexposure-reviews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/feeds/5179086051911630559/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2011/11/sisi-lain-film-horor.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/5179086051911630559'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/5179086051911630559'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2011/11/sisi-lain-film-horor.html' title='Sisi Lain Film Horor'/><author><name>Cinema Exposure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12014535301006601988</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='8' src='http://3.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TLtAXbNstRI/AAAAAAAAACI/Ezb3Bup_eDQ/S220/headerblog3+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-LawFOu-ccEE/TsaTLHZz_hI/AAAAAAAAARc/iCytqi7py1Q/s72-c/caligari.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7942573538273671699.post-5790971262362632539</id><published>2011-11-15T19:03:00.001-08:00</published><updated>2011-11-15T21:19:23.802-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Figur'/><title type='text'>John Cassavetes dan Gairah Personalnya</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-mNi5JJCUkmY/TsM47Xg-YhI/AAAAAAAAAQU/bCJ9r3MUvuk/s1600/cassavetes.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-mNi5JJCUkmY/TsM47Xg-YhI/AAAAAAAAAQU/bCJ9r3MUvuk/s1600/cassavetes.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Oleh Yuki Aditya&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika membicarakan tentang John Cassavetes, maka tidak akan jauh dengan asosiasi independensi. Benar jika John Cassavetes bukanlah sutradara film yang secara mandiri mendanai film-film produksinya sendiri. Ada Shirley Clarke (&lt;i&gt;Portrait of Jason&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;The Connection&lt;/i&gt;), Maya Deren (&lt;i&gt;Meshes of the Afternoon&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;At Land&lt;/i&gt;), Lionel Rogosin (&lt;i&gt;Come Back Africa&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;On the Bowery&lt;/i&gt;), dan Morris Engel (&lt;i&gt;Little Fugitive&lt;/i&gt;) yang telah lebih dahulu berjuang keras di jalur independen. Tetapi John Cassavetes yang dianggap sebagai sutradara independen pertama yang memperlihatkan bahwa mengumpulkan dana, membuat, lalu mendistribusikan film sendiri adalah hal yang sangat mungkin dilakukan. Tanpa campur tangan Hollywood dan jaringan bioskop besar, sukses Cassavetes dengan karya perdananya Shadows, secara ironis didapatkan pertama kali di luar negaranya sendiri. Shadows meraih sukses dengan diputar di kota-kota besar Eropa seperti Paris, London, dan Roma, baru setelah itu dilirik oleh distributor film di Amerika.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;John Cassavetes sendiri sebelum membuat debutnya dengan &lt;i&gt;Shadows&lt;/i&gt; adalah seorang aktor papan tengah yang telah cukup punya nama di Hollywood. Peran-perannya berkisar pada lelaki macho kelas pekerja atau pria yang berada dalam lingkaran kejahatan. Untuk urusan akting pun nama Cassavetes sudah terkenal sebagai seorang aktor yang gemar memberontak. Cassavetes sering protes dan membangkang dengan bagaimana cara peran-perannya harus dibawakan a la Method acting yang dipopulerkan di Hollywood oleh Lee Strasberg. Dapat kita lihat aktingnya yang terasa beda dengan film- film produksi Hollywood pada zamannya (bahkan sampai sekarang) pada film &lt;i&gt;Edge of the City&lt;/i&gt; arahan Martin Ritt. Kolaborasinya dengan Sidney Poitier terasa begitu nyata, dan "raw". Ideologi  akting cara itulah yang di kemudian hari dijadikan dasar pada hampir semua film-film yang dia sutradarai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kesuksesan Shadows sendiri pada sirkuit festival film di Eropa membuat nama Cassavetes dilirik Hollywood sebagai seorang sutradara yang mempunyai talenta dan harus segera dipekerjakan. Cassavetes pun dikontrak bekerja di Hollywood, diberi kantor yang lapang, gaji besar dan sekretaris. &lt;i&gt;Too Late Blues&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;A Child is Waiting&lt;/i&gt; adalah dua film yang dia sutradarai untuk studio Hollywood. Yang pertama adalah sebuah film yang kalau dinilai dari sisi ekonomisnya bisa dikategorikan sebuah B-picture, sedang yang kedua adalah produksi lumayan besar karena melibatkan mahabintang saat itu Burt Lancaster dan Judy Garland yang popularitasnya tengah meredup.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bekerja untuk Hollywood tampaknya memang kurang cocok untuk diri Cassavetes. Tidak terhitung berapa kali perselisihan terjadi antara dirinya dan para produser dan bintang film Hollywood tersebut. Yang paling terkenal adalah dengan produser ternama Stanley Kramer serta Judy Garland dalam &lt;i&gt;A Child is Waiting&lt;/i&gt;. Cassavetes sempat memberi pukulan telak di wajah Kramer yang berpendapat bahwa film tersebut kurang memenuhi selera pasar sehingga Kramer berusaha meng-edit versi akhir &lt;i&gt;A Child is Waiting&lt;/i&gt;, dengan menambah score film, serta close-up untuk menambah nuansa sentimental untuk film yang berkisah tentang perjuangan seorang wanita yang menjadi guru di sebuah sekolah luar biasa untuk anak-anak yang mengalami keterbatasan fisik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertikaiannya dengan figur-figur penting di Hollywood itu membuat namanya menjadi buruk di kalangan pelaku industri film lainnya. Oleh karena itu fokus pembahasan saya di bawah ini akan lebih kepada 5 film independen murni produksi dan distribusi John Cassavetes sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;1. Shadows (1959)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-U480303tdTE/TsM_DcZhUdI/AAAAAAAAAQc/Ek2Q6Oz-l10/s1600/shadows.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-U480303tdTE/TsM_DcZhUdI/AAAAAAAAAQc/Ek2Q6Oz-l10/s1600/shadows.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak ada satupun karakter yang hitam-putih baik-jahatnya dalam film-film Cassavetes. Semua karakter berada diantara baik dan buruk. Jika Lelia, Tony, Bennie, Hughie, dan karakter lain dalam Shadows mempunyai masalah, maka masalah-masalah itu di ciptakan oleh mereka sendiri dan mereka pulalah yang mesti memecahkan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam karya-karya Cassavetes, permasalahan bukanlah dari luar tapi didalam diri para karakternya. Setiap karakter di Shadows memainkan sebuah peran yang menyalahi kodrat mereka sendiri atau mencoba menjadi bukan diri mereka sendiri. Tony ingin menjadi seorang cowok yang dikagumi banyak wanita, Bennie ingin terlihat asik, Hughie ingin dianggap kuat, melindungi, dan kakak yang baik, Lelia berpura-pura bahwa masalah ras tidak penting dan seks tidak mempunyai konsekuensi emosional. Kebohongan yang mereka tampilkan bukanlah kebohongan yang kita katakan kepada orang lain, tapi yang kita katakan pada diri kita sendiri. Tentu saja, ketika kita bertindak bodoh pada diri sendiri, selalu kitalah yang paling terakhir menyadarinya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cassavetes ingin menyorot tentang metafora yang hadir di sekeliling kita sendiri yaitu perbandingan antara "topeng" yang kita pakai di masyarakat, dengan "wajah" asli kita yang kita sembunyikan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Versi film Shadows yang dapat kita saksikan sekarang merupakan versi kedua. Versi ini merupakan hasil editan yang disebabkan oleh buruknya reaksi dari penonton, ketika untuk pertama kalinya Shadows diputar di sebuah acara. Dari semua penonton yang hadir, semua keluar dari teater kecuali seorang kritikus film yang juga seorang sutradara bernama Jonas Mekas. Pada zaman itu apa yang dilakukan Cassavetes bisa disebut revolusioner. Shadows tidak mempunyai cerita selain sepenggal kisah hidup masing-masing karakter yang telah disebut di atas. Disjointed editing, compulsive laughter, dan maniacal anger muncul secara obtrusif. Namun Mekas yang begitu terkesima menuliskan pengalamannya menonton Shadows sebagaimana medium film itu baru pertama kali ditemukan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka ketika Cassavetes memutuskan untuk meng-edit ulang Shadows menjadi lebih tertata, Jonas Mekas-lah orang yang pertama kali merasa kecewa. Protesnya di Village Voice menyebut John Cassavetes telah terjual jiwa-nya. Namun Cassavetes berdalih apa yang Mekas saksikan pertama kali itu merupakan suatu eksperimen yang belum sempurna.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;2. Faces (1968)&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-VBQI0gIBruI/TsM_Pnn6pwI/AAAAAAAAAQk/Z1GYPfa0CBM/s1600/faces.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-VBQI0gIBruI/TsM_Pnn6pwI/AAAAAAAAAQk/Z1GYPfa0CBM/s1600/faces.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Faces melanggar semua batas-batas bagaimana sebuah film itu dapat dipresentasikan. Layaknya Shadows sekuensnya tidak indah sama sekali bila ditilik dari standar film Hollywood saat itu, dialognya tidak elegan, akting para karakternya mengejutkan seperti kamera yang mengikuti bergeraknya mereka dan bukan aktor dan aktrisnya yang mengikuti sebuah storyboard yang telah digariskan oleh sutradara sebelumnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Faces dibuat sebagai ungkapan kekecewaan Cassavetes terhadap studio Hollywood yang baru saja menyewanya untuk menyutradarai &lt;i&gt;Too Late Blues&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;A Child is Waiting&lt;/i&gt;. Cassavetes merasa 2 film tersebut medioker dan pengalaman terburuk dalam karirnya karena campur tangan terlalu besar dari eksekutif studio di Hollywood, seakan kata "Art" adalah haram bagi mereka, sehingga Faces direncanakan Cassavetes sebagai gambaran hidup mereka. Hasilnya Faces mengobrak-abrik mitologi tentang "the American life" khususnya kehidupan Hollywood beserta etika bisnisnya dan bagaimana suatu film itu mesti dibuat. Penyembahan terhadap keglamoran, uang dan kekuasaan seseorang ditampilkan tanpa terjebak dalam formula lama, hal-hal klise dengan harapan penonton dapat menemukan cara lain dalam mengerti perilaku para karakternya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;3. A Woman Under the Influence (1974)&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-zDF5hFSNSjk/TsM_Z3Ko85I/AAAAAAAAAQs/jbLpCspWiRA/s1600/wuti.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-zDF5hFSNSjk/TsM_Z3Ko85I/AAAAAAAAAQs/jbLpCspWiRA/s1600/wuti.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;A Woman under the Influence&lt;/i&gt; adalah sebuah perayaan mengenai perbedaan kita dengan orang lain, dalam hal fisik, pemikiran, status sosial, atau seksual.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mabel adalah seorang istri dari seorang pekerja kasar dengan dikaruniai 3 anak. Mabel mempunyai kelainan dimana pada satu saat dia dapat bertindak layaknya wanita normal dan di saat lain dapat berubah seperti orang gila dengan berprilaku berlebihan, atau bahkan lupa ingatan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Film ini dibuat berdasar pengalaman kehidupan pernikahan Cassavetes dengan Gena Rowlands. Gena dalam film ini memerankan Mabel, ibu rumah tangga yang mengidap kelainan seperti telah disebut sebelumnya. Namun kehebatan Cassavetes terletak pada observasinya yang mendalam terhadap individu-individu dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak diberi dialog-dialog cerdas khas Tarantinian, tetapi dialog yang simpel, kadang terdengar bodoh, dan lucu seperti yang kita dengar dan lakukan dalam keseharian hidup kita. Emosi dan gambaran karakter kita tangkap karena kita mengenal karakter-karakter tersebut dari dialog dan tindakan mereka. Simpati dan benci kita terhadap suatu karakter muncul seperti saat kita mengevaluasi seorang teman atau kerabat dari aksi nyata yang mereka perlihatkan dan lakukan kepada kita. Everything that is on the surface.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cassavetes mencoba untuk mendudukkan kita pada posisi Nick, Mabel, ketiga anaknya, maupun peran pembantu lainnya. Bagaimana kita merespon situasi tersebut. Bagaimana kita membuat diri kita terlihat bodoh, hilang arah, perduli dengan pendapat dan perkataan orang lain hanya untuk terlihat baik dimata orang luar, dan bagaimana kita dapat menemukan diri kita sendiri, jikalau kita beruntung dan berani untuk membuka pikiran untuk mencoba mengerti permasalahan yang terjadi pada orang lain.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak karakter-karakter dalam film Cassavetes adalah alter-egonya sendiri, tetapi tidak ada yang lebih mendekati daripada Mabel. Mabel adalah Cassavetes, entertainer yang eksentrik, pantomim yang suka memparodikan orang di sekitarnya, mistress of ceremonies penuh guyonan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resensi lengkapnya bisa dilihat &lt;a href="http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2010/10/woman-under-influence-1974.html"&gt;di sini&lt;/a&gt;. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;4. Killing of a Chinese Bookie (1976)&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-4lo_sHVFKmY/TsM_kpbbYMI/AAAAAAAAAQ0/BC9uLem5oF8/s1600/chinesebookie.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-4lo_sHVFKmY/TsM_kpbbYMI/AAAAAAAAAQ0/BC9uLem5oF8/s1600/chinesebookie.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika film-film gangster biasanya bangga akan ketangguhan, kemaskulinan, ke bagaimana "keren"nya penampilan mereka, atau kekerasan karakter dan jalan ceritanya, Cassavetes mengambil-alur lain melalui &lt;i&gt;Killing of a Chinese Bookie&lt;/i&gt;. Cassavetes mempertanyanya hal-hal diatas dan melihat hal-hal tersebut sebagai pelarian yang tragis dari kehidupan para gangster.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika Ingmar Bergman didaulat sebagai sutradara yang paling mengerti jiwa wanita, atau Fassbinder paling mengerti jiwa kelompok gay, maka Cassavetesadalah yang paling mengerti jiwa lelaki. Cassavetes menggambarkan tuntas bermacam bentuk lelaki dalam berbagai manifestasinya. Tony di Shadows, salesman di Faces, dan kali ini Cosmo dalam Killing of a Chinese Bookie digambarkan  sebagai seorang lelaki pemilik tempat hiburan malam yang rada kinky, sedang terjebak dalam hutang judi sehingga ditugaskan untuk membunuh kepala gangster dari geng Tionghoa agar utangnya lunas.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cassavetes memakai Ben Gazzara sebagai Cosmo karena image berwibawa dan tegar yang terlihat pada Ben. Cosmo terlihat kokoh secara emosi diluar. Dia tidak membiarkan siapapin, bahkan kekasihnya Rachel untuk mempengaruhi  keputusan atau jalan pikirannya. Dia terus menjalankan show kinky nya baik disaat ramai atau bisnis sedang menurun, dia terlihat dingin bahkan dalam keadaan  terjepit. Obsesinya adalah tampil baik dan keren di segala kesempatan, baik di panggung maupun di luar panggung -- dan sukses. Tetapi Cassavetes ingin agar kita menilai dan berpikir bahwa biaya tertentu yang harus dibayar jika penampilan sematalah yang kita kejar. Cassavetes ingin kita bertanya pada hidup kita apa yang dapat terjadi jika penampilan baik dan sikap keren sebegitu pentingnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;5. Opening Night (1977)&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-ogZiA0gDLAo/TsM_rwihOVI/AAAAAAAAAQ8/-z2xEo3BNHo/s1600/openingnights.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-ogZiA0gDLAo/TsM_rwihOVI/AAAAAAAAAQ8/-z2xEo3BNHo/s1600/openingnights.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Amerika menampilkan sosok aktrisnya yang tengah menua dalam film, kebanyakan tidak berdasar pada kedalaman dan penggalian jiwa dan semangat mereka. Dari mulai high-camp bitchiness dalam &lt;i&gt;All about Eve&lt;/i&gt; sampai misoginy dan sinisme dalam &lt;i&gt;Sunset Boulevard&lt;/i&gt;, mereka ditampilkan sebagai sosok yang mesti dikasihani dan/atau berbahaya. Dalam &lt;i&gt;Opening Night&lt;/i&gt;, Cassavetes mengejawantahkan simpatinya kepada sosok aktris yang menolak konformitas atas pencarian identitas diri dan perjuangan hidupnya. Gena Rowlands sebagai Myrtle Gordon, seorang aktris teater senior dan terkenal, mencoba mentranslasikan karakter dalam sandiwara teater terbarunya berjudul &lt;i&gt;The Second Woman&lt;/i&gt;. Myrtle "bertarung" melawan kawan mainnya (diperankan secara brillian oleh Cassavetes sendiri), sutradara, penulis, dan terutama bayang-bayang masa mudanya yang dipersonifikasikan dalam sosok hantu seorang penggemar Myrtle.  Myrtle menolak untuk memainkan perannya sebagaimana telah tertulis dalam naskah dengan alasan naskah tersebut tidak mempunyai "Hope" atau terlalu kelam. Ketika penulis naskah (yang diperankan oleh bintang kawakan Joan Blondell dalam peran terakhir sekaligus terbaiknya ini) mengkonfrontirnya, Myrtle melawan balik dengan dalih untuk yang dia coba tunjukkan adalah refleksi personalnya. Semua film Cassavetes mempunyai benang merah yang sama seperti ini. Perjuangan fisik dan batin yang dialami karakter-karakternya sama dalam film-film awal Cassavetes. &lt;i&gt;Opening Night&lt;/i&gt; pun mengeksplorasi celah medan juang antara dirinya sendiri melawan orang-orang di sekitarnya, paralelitas antara penampilan panggung dan keseharian hidupnya, serta kemenangan dan kepuasan dirinya untuk bangkrut dan berani gila melawan rasionalitas yang formulaic.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Film-film John Cassavetes dapat dikatakan sebagai suatu karya seni yang hebat, layaknya karya dari maestro lainnya seperti Carl Theodor Dreyer,Yasujiro Ozu, Robert Bresson, dan Andrei Tarkovsky. Film-film tersebut merubah persepsi, memberi pengetahuan dan pengalaman yang baru, emosi yang baru, otak yang baru, hati, mata dan bahkan kuping yang baru. Visi dari Cassavetes dari film adalah sebuah eksplorasi personal dari dirinya terhadap arti hidup dan kehidupan lain dari orang-orang di sekelilingnya baik yang dia suka atau dia tidak suka.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dua elemen penting yang selalu ada bila kita membicarakan karya-karya John Cassavetes adalah impresi atau kesan dari improvisasi, walau kita tahu bahwa film-filmnya bukan merupakan suatu bentuk improvisasi, dan satu lagi adalah elemen teknisnya yang terasa "anti-filmis", yang tidak membentuk karakter-karakternya di depan kamera berdasar tanda di lantai, pergerakan kamera dan storyboard untuk menunjukkan dimana aktornya harus berdiri, melainkan digunakan secara hemat ketika dibutuhkan dan performa aktor-aktornyalah yang paling utama. Oleh karena itu ada gaya yang membedakan kualitas akting dan performa film-filmnya, dan itu muncul secara dinamis yang dimulai sejak proses pembuatan skenario, pengambilan gambar, editing, serta cara kerja dengan aktor-aktornya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada saat yang bersamaan pula, karya-karya John Cassavetes, menampilkan sensibilitas artistik kuat yang bersekutu dengan makna naturalism. Walau karakter-karakternya terkadang terlihat aneh, mereka datang dari kehidupan sehari-hari. Mereka hidup dalam suatu lingkungan sosial yang spesifik yang mana aksi dan reaksi mereka merupakan konsekuensi dari sejarah hidup personal yang mereka telah jalani dan dorongan dari lingkungan sekitarnya. Sejalan dengan tendensi yang diasosiasikan dengan naturalism, karakter-karakter Cassavetes, sebagaimana juga diperlihatkan oleh aktor-aktornya, sering kali tidak dapat mengekspresikan atau bahkan mengerti situasi yang sedang mereka jalani. Seperti orang dalam kehidupan nyata, mereka berimprovisasi seiring situatsi tersebut berjalan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7942573538273671699-5790971262362632539?l=cinemaexposure-reviews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/feeds/5790971262362632539/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2011/11/john-cassavetes-dan-gairah-personalnya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/5790971262362632539'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/5790971262362632539'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2011/11/john-cassavetes-dan-gairah-personalnya.html' title='John Cassavetes dan Gairah Personalnya'/><author><name>Cinema Exposure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12014535301006601988</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='8' src='http://3.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TLtAXbNstRI/AAAAAAAAACI/Ezb3Bup_eDQ/S220/headerblog3+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-mNi5JJCUkmY/TsM47Xg-YhI/AAAAAAAAAQU/bCJ9r3MUvuk/s72-c/cassavetes.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7942573538273671699.post-3334454856732897811</id><published>2011-08-14T12:25:00.000-07:00</published><updated>2011-11-16T07:04:46.737-08:00</updated><title type='text'>The Tree of Life (2011)</title><content type='html'>(USA)&lt;br /&gt;Sutradara: Terrence Malick&lt;br /&gt;Penulis: Terrence Malick&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rating:&lt;br /&gt;Rajiv Ibrahim&lt;br /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt; &lt;br /&gt;Yuki Aditya&lt;br /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt; &lt;br /&gt;Erdiawan Putra&lt;br /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt; &lt;br /&gt;Bayu Wiratama &lt;br /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-2qbH8r_17oY/TkgjJZHhI7I/AAAAAAAAAPY/nyOarW2pCRE/s1600/tree-of-life.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://1.bp.blogspot.com/-2qbH8r_17oY/TkgjJZHhI7I/AAAAAAAAAPY/nyOarW2pCRE/s400/tree-of-life.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;Ditulis oleh Rajiv Ibrahim&lt;br /&gt;Disunting oleh Yuki Aditya&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Unless you love, your life will flash by"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebuah petikan dari film The Tree of Life, karya terbaru dari Terrence Malick, sutradara yang terkenal pemalu dan sangat berhati-hati untuk menutupi jati dirinya dari sorotan publik itu. Petikan diatas bisa dikatakan merupakan intisari dan gambaran yang akurat mengenai seperti apa film ke-lima Terrence Malick ini. Film ini berlumuran dengan cinta, mulai dari kecintaannya terhadap makna evolusi makhluk hidup yang memulai segalanya diatas dunia ini sampai ke perubahan makna cinta yang terjadi pada diri Jack, karakter utama yang diceritakan Malick sedang mengingat kembali masa kecilnya di masa kesuksesan hidupnya kini yang terasa hampa. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;Film ini terinspirasi dari kisah masa kecil Terrence Malick sendiri, atau dapat disebut semi-autobiografi Malick sendiri."My brother died when I was 19" begitulah The Tree of Life dibuka oleh Jack (Sean Penn), satu sosok pria yang dikesankan sedang dalam masa kesuksesan karirnya. Pandangannya nanar, tatapannya kosong menengadah ke langit, seolah sedang bingung ada suatu bagian dari hidupnya yang tidak lengkap. Lalu kita dibawa ke Texas di era 1950-an, sebuah kota pinggiran Urbana yang mendefinisikan kehidupan di sehari-hari dan nilai "American Dream" adalah suatu pencapaian yang harus digapai oleh sebuah keluarga kecil.Keluarga tersebut beranggotakan seorang ayah, ibu, dan ketiga anak lelakinya. Berdasar kalimat pembuka dari Jack yang telah disebut di awal, film ini adalah merupakan rekoleksi memori dari Jack, seorang arsitek yang masa kecilnya dibesarkan dengan cara yang bertolak belakang oleh orang tuanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-oVPkF-xEFHw/TkgjKFncPCI/AAAAAAAAAPc/pmDtoFmwL_c/s1600/tree-of-life2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://3.bp.blogspot.com/-oVPkF-xEFHw/TkgjKFncPCI/AAAAAAAAAPc/pmDtoFmwL_c/s400/tree-of-life2.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ayahnya (Brad Pitt) membesarkannya dengan cara 'nature way' yaitu dengan tegas dan keras sedangkan ibunya (Jessica Chastain) dengan 'the way of grace' yang lembut dan penuh cinta. Dalam reka ulang pengalamannya, kita melihat Jack kecil (yang diperankan dengan brilian oleh Hunter McCracken) dan masa-masa coming -of-age nya, termasuk dilema dalam tingkah lakunya, kebingungan-kebingungannya, pertanyaan-pertanyaannya, hingga fantasinya. Kita pernah mendengar bahwa anak itu dilahirkan ibarat seonggok kapas putih bersih yang akan cepat menyerap air yang menetesinya, begitulah kira-kira tindak-tanduk Jack kecil digambarkan oleh Malick. Perilaku Jack adalah hasil cerminan dari apa yang dia lihat dan perlakuan yang dia terima dari kedua orang tuanya. Jack adalah pemimpin dalam gengnya, dia juga sosok yang berpengaruh dan disegani oleh adik-adiknya namun juga pelindung mereka, dengan hasrat seksual yang berkembang seiring perubahan fisik dan kematangannya. Dia belajar tegar dan kuat dari sang ayah dan bagaimana memperlakukan orang lain dari si ibu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Film ini diinterupsi oleh scene yang berdurasi kira-kira 18-20 menit yang menggambarkan Kelahiran alam semesta dan juga bumi beserta organisme-organismenya yang terkadang diiringi oleh voice-over dari sang ibu. Evolusi tersebut seperti menunjukkan kembali lagi ke filosofinya mengenai eksistensial, yaitu untuk memberikan rasa awas kita akan posisi dan keberadaan mereka sebagai manusia berkontradiksi dengan alam, agungnya Tuhan serta permasalahan maupun pengalaman yang memperkaya kehidupan mereka di muka bumi ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-rUScUhGWEtg/TkgjMc7oAtI/AAAAAAAAAPk/VLxuImw1vhE/s1600/tree-of-life4.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://1.bp.blogspot.com/-rUScUhGWEtg/TkgjMc7oAtI/AAAAAAAAAPk/VLxuImw1vhE/s400/tree-of-life4.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Walaupun scene tersebut memberikan efek yang epik terhadap film ini, dan yang disebut oleh banyak orang terlalu ambisius, Malick juga tipe sutradara yg menyukai hal-hal atau detail-detail kecil. Dalam film ini porsi kecintaannya pada hal-hal kecil, gestur-gestur yang indah, dan keindahan alam sangat besar. Pengejawantahannya ada dalam interaksi tangan yang saling bersentuhan, keindahan perut sang ibu yang membengkak mengandung, kaki kecil bayi yang baru lahir dalam genggaman sang ayah, katak-katak yang berlompatan, bayangan-bayangan anak-anak yang sedang berlarian, ditambah dengan ciri khas Malick dalam pergerakan kamera yang bebas dan juga pencahayaan menggunakan semburat cahaya alam, seakan-akan alam dan tuhan pun membantu dirinya dalam meng-orkestrasi semuanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wajar jika film ini terasa sebagai penyempurnaan film Malick dari sisi penyutradaraan dan visi-nya sebagai seorang sutradara. Karena jika dilihat 2 film pertama malick, Badlands dan Days of Heaven, dimana voice-overnya disuarakan layaknya kita mendengar dongeng dari nenek kita, tanpa berbisik layaknya metafora atas kesedihan, harapan dan kemarahan dalam tiap lirih karakter film-film Malick selanjutnya. Namun satu hal yang sudah terlihat akan menjadi ciri khas filmnya adalah filosofi-filosofi eksistensialnya. Setelah film Days of Heaven laku keras dalam hal menuai banyak nominasi penghargaan dan dipuji kritikus, secara mengejutkan Malick malah menghilang selama 20 tahun sebagai sutradara, dalihnya adalah dia tidak suka dengan ketenaran. Namun setelah itu, Malick kembali dengan gaya kamera yang lebih liar dalam menangkap objeknya, serta puitis dan gamblang dalam penyampaian ideologi melalui voice-overnya The Thin Red Line dan The New World.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-lMtzVVB-w7w/TkgjLK9ZMWI/AAAAAAAAAPg/PTRGffyRmd0/s1600/tree-of-life3.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://3.bp.blogspot.com/-lMtzVVB-w7w/TkgjLK9ZMWI/AAAAAAAAAPg/PTRGffyRmd0/s400/tree-of-life3.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Terkadang semakin kita menelanjangi diri kita sendiri maka semakin membumilah dan juga mudah sebuah cerita untuk mempunyai koneksi dengan manusia lain. Hal ini yang saya rasa berlaku pada The Tree of Life, yang juga merupakan titik balik visi Malick dalam mengungkapkan sejarah dirinya. Karena jika dalam 2 film terakhir, Malick memakai platform cerita dari kejadian atau kisah yang telah ada sebelumnya, sehingga terasa ada diskoneksi dalam filmnya (The Thin Red Line bercerita ttg perang di Guadalcanal dimana Malick tidak pernah terlibat dalam perang apapun, sedangkan The New World adalah rendisi Malick terhadap folklore Pocahontas), dalam The Tree of Life ceritanya murni dari pengalaman Terrence Malick sendiri sehingga film secara keseluruhan terasa seperti satu serpihan dari pribadi dan apa yang membentuknya sampai sekarang ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;The Tree of Life bukanlah sebuah film dengan suatu jalinan kisah dengan narasi dalam makna umum, film ini lebih merupakan suatu impresi atau kesan dari apa saja yang telah memperkaya karakter-karakternya secara spiritual, yang sesungguhnya universal, juga sebuah rangkaian dari pengalaman, pengalaman tentang bagaimana menjalani masa kecil, mengurus anak, dan tegar menghadapi musibah untuk kemudian bangkit lagi untuk menjadi lebih kuat. Banyak sekali voice-over yang sangat mirip esensinya dengan puisi-puisi sufi dan intisari ajaran tersebut, dimana Tuhan adalah cinta dalam berbagai manifestasiNya. Terrence Malick disini menuangkan begitu banyak cinta, dan menyampaikan salah satu cara untuk bahagia adalah hanya dengan cinta. Memang terdengar klise namun itulah kebenaran hakiki yang sering kita lupakan. Jack dewasa sering mengeluhkan dunia modern dimana cinta sudah pudar sehingga memori hangatnya dari masa lalu menyeruak dan ingin dia rasakan kembali. Begitu besar rasa rindunya akan cinta. Cinta kedua orang tuanya, terutama ke ibunya. Sang ibu digambarkan begitu anggun, menawan, cantik, dan rapuh persis seperti karakteristik film ini. E.M Cioran, seorang filsuf asal Rumania pernah berujar "We always love....despite; and that "despite" covers an infinity." Dan kembali ke premis film ini yang terasa sungguh merupakan surat cinta kepada arti cinta itu sendiri dan elemen-elemen cinta yang pernah menghampiri diri Malick, tanpa terkecuali dan tanpa ada batasnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7942573538273671699-3334454856732897811?l=cinemaexposure-reviews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/feeds/3334454856732897811/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2011/08/tree-of-life-2011.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/3334454856732897811'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/3334454856732897811'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2011/08/tree-of-life-2011.html' title='The Tree of Life (2011)'/><author><name>Cinema Exposure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12014535301006601988</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='8' src='http://3.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TLtAXbNstRI/AAAAAAAAACI/Ezb3Bup_eDQ/S220/headerblog3+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-2qbH8r_17oY/TkgjJZHhI7I/AAAAAAAAAPY/nyOarW2pCRE/s72-c/tree-of-life.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7942573538273671699.post-1752704068794970126</id><published>2011-07-22T07:37:00.000-07:00</published><updated>2011-07-22T09:55:20.430-07:00</updated><title type='text'>Decades Under the Influence - Movies I Like from the 1930s</title><content type='html'>Oleh Yuki Aditya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The early sound era, where awkwardness and enthusiasm blended... in a glorious way.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Honorable Mentions&lt;/b&gt;:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Me and My Gal&lt;/i&gt; (Raoul Walsh, USA, 1932)&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Limite&lt;/i&gt; (Mario Peixoto, Brazil, 1931)&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Love Me Tonigh&lt;/i&gt;t (Rouben Mamoulian, USA, 1932)&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Rose Hobart&lt;/i&gt; (Joseph Cornell, USA, 1936)&lt;br /&gt;&lt;i&gt;A Nous La Liberte&lt;/i&gt; (Rene Clair, France, 1931)&lt;br /&gt;&lt;i&gt;The Childhood of Maxim Gorky&lt;/i&gt; (Mark Donskoi,Soviet Union, 1938)&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Arigato-San / Mr. Thank You&lt;/i&gt; (Hiroshi Shimizu, Japan, 1936)&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Boudu Sauvé des Eaux / Boudu Saved from Drowning&lt;/i&gt; (Jean Renoir, France, 1932)&lt;br /&gt;&lt;i&gt;It's Love I'm After&lt;/i&gt; (Archie B. Mayo, USA, 1937)&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Trouble in Paradise&lt;/i&gt; (Ernst Lubitsch, USA, 1932)&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Tokyo No Yado / An Inn in Tokyo&lt;/i&gt; (Yasujiro Ozu, Japan, 1935)&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Young Mr. Lincoln&lt;/i&gt; (John Ford, USA, 1939)&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Der Blaue Engel / The Blue Angel&lt;/i&gt; (Josef von Sternberg, Germany, 1930)&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bitter Tea of General Yen&lt;/i&gt; (Frank Capra, USA, 1933)&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Le Sang de Poet / Blood of a Poe&lt;/i&gt;t (Jean Cocteau, France, 1930)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;50. L'Age D'or&lt;/b&gt; (Luis Bunuel, France, 1930)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-4NlYBUyCu-Q/TimM2tFhdPI/AAAAAAAAAMY/sYTL59j2HIU/s1600/lagedor.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://3.bp.blogspot.com/-4NlYBUyCu-Q/TimM2tFhdPI/AAAAAAAAAMY/sYTL59j2HIU/s400/lagedor.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;49. The Wizard of Oz&lt;/b&gt; (Victor Fleming, USA, 1939)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Ls1gnmH56F0/TimNXBLowkI/AAAAAAAAAMc/ALScRpU7-3M/s1600/Wizard+of+Oz2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ls1gnmH56F0/TimNXBLowkI/AAAAAAAAAMc/ALScRpU7-3M/s400/Wizard+of+Oz2.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;48. Design for Living&lt;/b&gt; (Ernst Lubitsch, USA, 1933)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-vDfyRJ6is38/TimOgcjw5QI/AAAAAAAAAMk/4izPe7DdM0o/s1600/design+for+living.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://4.bp.blogspot.com/-vDfyRJ6is38/TimOgcjw5QI/AAAAAAAAAMk/4izPe7DdM0o/s400/design+for+living.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;47. The Prisoner of Shark Island&lt;/b&gt; (John Ford, USA, 1937)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-djwnHU3lHQs/TimO5q0H51I/AAAAAAAAAMo/85MGuu-0OBw/s1600/prisonerofsharkisland.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://2.bp.blogspot.com/-djwnHU3lHQs/TimO5q0H51I/AAAAAAAAAMo/85MGuu-0OBw/s400/prisonerofsharkisland.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;46. Scarface&lt;/b&gt; (Howard Hawks, USA, 1932)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-10RS51uwwaw/TimPVGf5ohI/AAAAAAAAAMs/vTlNsuR8esE/s1600/scarface.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://4.bp.blogspot.com/-10RS51uwwaw/TimPVGf5ohI/AAAAAAAAAMs/vTlNsuR8esE/s400/scarface.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;45. Freaks&lt;/b&gt; (Tod Browning, USA, 1932)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-9G-0hNqd-6M/TimPmfk9gaI/AAAAAAAAAMw/POEKA4SH8ok/s1600/freaks.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://4.bp.blogspot.com/-9G-0hNqd-6M/TimPmfk9gaI/AAAAAAAAAMw/POEKA4SH8ok/s400/freaks.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;44. Scarlet Empress&lt;/b&gt; (Josef von Sternberg, USA, 1934)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-do-F-QBDNGs/TimQNjdE8rI/AAAAAAAAAM0/INmuntune4g/s1600/scarlettempress.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://2.bp.blogspot.com/-do-F-QBDNGs/TimQNjdE8rI/AAAAAAAAAM0/INmuntune4g/s400/scarlettempress.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;43. Hitori Musuko / The Only Son&lt;/b&gt; (Yasujiro Ozu, Japan, 1936)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-yHl8bygoTPc/TimQmZF52xI/AAAAAAAAAM4/2hZB7kpYrFw/s1600/theonlyson.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://2.bp.blogspot.com/-yHl8bygoTPc/TimQmZF52xI/AAAAAAAAAM4/2hZB7kpYrFw/s400/theonlyson.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;42. Swing Time&lt;/b&gt; (George Stevens, USA, 1936)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-JNk9YS87PYc/TimQ27JuhgI/AAAAAAAAAM8/gZw-Jogh_ug/s1600/swing+time.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://3.bp.blogspot.com/-JNk9YS87PYc/TimQ27JuhgI/AAAAAAAAAM8/gZw-Jogh_ug/s400/swing+time.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;41. Roberta&lt;/b&gt; (William A. Seiter, USA, 1935)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-FTdjbY_08xY/TimRWmyahgI/AAAAAAAAANE/WD2-Sm5ZoTk/s1600/roberta.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://3.bp.blogspot.com/-FTdjbY_08xY/TimRWmyahgI/AAAAAAAAANE/WD2-Sm5ZoTk/s400/roberta.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;40. Tsuma Yo Bara No Yo Ni / Wife! Be Like a Rose&lt;/b&gt; (Mikio Naruse, Japan, 1935)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-WkN31eh80G0/TimSYDOfWAI/AAAAAAAAANI/4zjNSpEIy-E/s1600/wife+be+like+rose.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://4.bp.blogspot.com/-WkN31eh80G0/TimSYDOfWAI/AAAAAAAAANI/4zjNSpEIy-E/s400/wife+be+like+rose.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;39. Sequoia&lt;/b&gt; (Chester M. Franklin, USA, 1934)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-wKjWlFsSHmU/TimSvz7kC0I/AAAAAAAAANM/CqdVaSoApKg/s1600/sequoia.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://2.bp.blogspot.com/-wKjWlFsSHmU/TimSvz7kC0I/AAAAAAAAANM/CqdVaSoApKg/s400/sequoia.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Forget &lt;i&gt;Bambi&lt;/i&gt; because this forgotten gem is the most believable and heartbreaking of all animal movies. Not only the friendship of a Mountain Lion and a Reindeer depicted by real animals. How Franklin shot the scene when the Lion and Reindeer meets again for the first time after separated for a long time, is sublime (they stare at each other and then kiss each other people). Mesmerizing for tis action quality too.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;38. Snow White and the Seven Dwarfs&lt;/b&gt; (David Hand, USA, 1937)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-DE2wu-M8ByM/TimTLo046-I/AAAAAAAAANQ/gri-_5sK4Q8/s1600/snow+white.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://3.bp.blogspot.com/-DE2wu-M8ByM/TimTLo046-I/AAAAAAAAANQ/gri-_5sK4Q8/s400/snow+white.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;37. Hands Across the Table&lt;/b&gt; (Mitchell Leisen, USA, 1935)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-vnjk1jqjVcA/TimTg4-fWNI/AAAAAAAAANU/eCkJVANp2WE/s1600/hands+across+the+table.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://4.bp.blogspot.com/-vnjk1jqjVcA/TimTg4-fWNI/AAAAAAAAANU/eCkJVANp2WE/s400/hands+across+the+table.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;36. Sylvia Scarlett&lt;/b&gt; (George Cukor, USA, 1935)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-ePfPueq4wns/TimUACBEZRI/AAAAAAAAANY/CNdPLYlsB_A/s1600/Sylvia+Scarlett.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://3.bp.blogspot.com/-ePfPueq4wns/TimUACBEZRI/AAAAAAAAANY/CNdPLYlsB_A/s400/Sylvia+Scarlett.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;35. Topaze&lt;/b&gt; (Harry d'Abbadie d'Arrast, USA, 1933)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-XkR48f_HaEc/TimUgo_l3fI/AAAAAAAAANc/toW8xu7TqJ8/s1600/topaze.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://2.bp.blogspot.com/-XkR48f_HaEc/TimUgo_l3fI/AAAAAAAAANc/toW8xu7TqJ8/s400/topaze.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;34. Bringing up Baby&lt;/b&gt; (Howard Hawks, USA, 1938)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-S1jVREBe1Fs/TimVAxdL6qI/AAAAAAAAANg/n01B5144P7I/s1600/bringingupbaby2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://1.bp.blogspot.com/-S1jVREBe1Fs/TimVAxdL6qI/AAAAAAAAANg/n01B5144P7I/s400/bringingupbaby2.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;33. It Happened One Night&lt;/b&gt; (Frank Capra, USA, 1934)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-PIF96Wt1gTw/TimVTeUm4YI/AAAAAAAAANk/69lXm6OF6xA/s1600/ithappenedonenight.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://4.bp.blogspot.com/-PIF96Wt1gTw/TimVTeUm4YI/AAAAAAAAANk/69lXm6OF6xA/s400/ithappenedonenight.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;32. Kaze no Naka no Kodomo / Children in the Wind&lt;/b&gt; (Hiroshi Shimizu, Japan, 1937)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-SBS0hZ44nMs/TimVpFqDZAI/AAAAAAAAANo/5GJ-AHcIono/s1600/childreninthewind.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://1.bp.blogspot.com/-SBS0hZ44nMs/TimVpFqDZAI/AAAAAAAAANo/5GJ-AHcIono/s400/childreninthewind.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;31. Our Daily Bread&lt;/b&gt; (King Vidor, USA, 1934)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-sMRY4zvdj3o/TimWIbhUsmI/AAAAAAAAANs/BTeoS2P3eWI/s1600/our+daily+bread.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://2.bp.blogspot.com/-sMRY4zvdj3o/TimWIbhUsmI/AAAAAAAAANs/BTeoS2P3eWI/s400/our+daily+bread.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;30. The Gay Divorcee&lt;/b&gt; (Mark Sandrich, USA, 1934)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-gbJbYPyP8n8/TimXIDtO3iI/AAAAAAAAANw/l6FTXz_PMFQ/s1600/gaydivorcee.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://3.bp.blogspot.com/-gbJbYPyP8n8/TimXIDtO3iI/AAAAAAAAANw/l6FTXz_PMFQ/s400/gaydivorcee.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;29. Pepe le Moko&lt;/b&gt; (Julien Duvivier, France, 1935)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-JfXxZ0YRuTI/TimXar-66-I/AAAAAAAAAN0/zltDDmAbC2M/s1600/Pepe+le+Moko.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://1.bp.blogspot.com/-JfXxZ0YRuTI/TimXar-66-I/AAAAAAAAAN0/zltDDmAbC2M/s400/Pepe+le+Moko.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;28. Earth / Zemlya&lt;/b&gt; (Aleksandr Dovzhenko, Soviet Union, 1930)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-skp2sbHluvQ/TimYBqY4xbI/AAAAAAAAAN4/KRb0xIAggzc/s1600/earth.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://4.bp.blogspot.com/-skp2sbHluvQ/TimYBqY4xbI/AAAAAAAAAN4/KRb0xIAggzc/s400/earth.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;27. Lost Horizon&lt;/b&gt; (Frank Capra, USA, 1937)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-7v8cRSJLOrU/TimYaZo-ygI/AAAAAAAAAN8/pjwPsxl4lgg/s1600/lost+horizon.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://2.bp.blogspot.com/-7v8cRSJLOrU/TimYaZo-ygI/AAAAAAAAAN8/pjwPsxl4lgg/s400/lost+horizon.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;26. L'Atalante&lt;/b&gt; (Jean Vigo, France, 1934)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-paHdlVDxCWo/TimYzOzbQII/AAAAAAAAAOA/e3KhmIlYJ7I/s1600/L%2527Atalante.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://4.bp.blogspot.com/-paHdlVDxCWo/TimYzOzbQII/AAAAAAAAAOA/e3KhmIlYJ7I/s400/L%2527Atalante.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;25. Tonari no Yae-chan / Our Neighbor Miss Yae&lt;/b&gt; (Yasujiro Shimazu, Japan, 1936)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-V82MI97hxXg/TimZJtKcpYI/AAAAAAAAAOE/D56AT5aDg4A/s1600/missyae.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://1.bp.blogspot.com/-V82MI97hxXg/TimZJtKcpYI/AAAAAAAAAOE/D56AT5aDg4A/s400/missyae.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;24. I Am A Fugitive in a Chain Gang&lt;/b&gt; (Mervyn LeRoy, USA, 1932)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-97vh7uPMFAc/TimZVwwVCRI/AAAAAAAAAOI/QdkuNiIPSEM/s1600/I+Am+A+Fugitive+in+a+Chain+Gang.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://4.bp.blogspot.com/-97vh7uPMFAc/TimZVwwVCRI/AAAAAAAAAOI/QdkuNiIPSEM/s400/I+Am+A+Fugitive+in+a+Chain+Gang.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;23. Testament of Dr. Mabuse&lt;/b&gt; (Fritz Lang, Germany, 1932)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-KhvtNWnnoD0/TimZjRyzmFI/AAAAAAAAAOM/srBO_W_fETg/s1600/Film_231w_TestamentMabuse.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://3.bp.blogspot.com/-KhvtNWnnoD0/TimZjRyzmFI/AAAAAAAAAOM/srBO_W_fETg/s400/Film_231w_TestamentMabuse.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;22. Top Hat&lt;/b&gt; (Mark Sandrich, USA, 1935)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-G0n1AWKFX3E/TimZ3-TqbPI/AAAAAAAAAOQ/FntmBgR_EN4/s1600/top+hat.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://4.bp.blogspot.com/-G0n1AWKFX3E/TimZ3-TqbPI/AAAAAAAAAOQ/FntmBgR_EN4/s400/top+hat.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;21. Le Jour Se Leve&lt;/b&gt; (Marcel Carne, France, 1939)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-pdAm89E3S7w/TimaNd02NmI/AAAAAAAAAOU/Ilz-tntmd0w/s1600/Le+Jour+Se+Leve.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://3.bp.blogspot.com/-pdAm89E3S7w/TimaNd02NmI/AAAAAAAAAOU/Ilz-tntmd0w/s400/Le+Jour+Se+Leve.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;20. You Can't Take it with You&lt;/b&gt; (Frank Capra, USA, 1938)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-0Sru8xon70s/TimbKySzfxI/AAAAAAAAAOk/Qz7ridWN71Y/s1600/You+Can%2527t+Take+it+with+You.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://3.bp.blogspot.com/-0Sru8xon70s/TimbKySzfxI/AAAAAAAAAOk/Qz7ridWN71Y/s400/You+Can%2527t+Take+it+with+You.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;19. Blonde Crazy&lt;/b&gt; (Roy del Ruth, USA, 1931)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-B4ehxjSLa7A/Timbe2aHIeI/AAAAAAAAAOo/OJ7_13ym2ss/s1600/blondecrazy.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://3.bp.blogspot.com/-B4ehxjSLa7A/Timbe2aHIeI/AAAAAAAAAOo/OJ7_13ym2ss/s400/blondecrazy.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;18. Le Crime de Monsieur Lange&lt;/b&gt; (Jean Renoir, France, 1936)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-9AFiIG_9g2o/Timb6aqkcHI/AAAAAAAAAOs/th-Pa78vNNk/s1600/monsieurlange.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://3.bp.blogspot.com/-9AFiIG_9g2o/Timb6aqkcHI/AAAAAAAAAOs/th-Pa78vNNk/s400/monsieurlange.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;17. Ruggles of Red Gap&lt;/b&gt; (Leo McCarey, USA, 1935)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-kgIdHwLz8CA/TimcaZiRzjI/AAAAAAAAAOw/lX2zRN9tWKo/s1600/Ruggles+of+Red+Gap.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://1.bp.blogspot.com/-kgIdHwLz8CA/TimcaZiRzjI/AAAAAAAAAOw/lX2zRN9tWKo/s400/Ruggles+of+Red+Gap.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;16. The Devil Doll&lt;/b&gt; (Tod Browning, USA, 1936)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-biI65D6Fo9I/TimdLzzqQ5I/AAAAAAAAAO0/b26XwUo3f-E/s1600/devildoll.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://4.bp.blogspot.com/-biI65D6Fo9I/TimdLzzqQ5I/AAAAAAAAAO0/b26XwUo3f-E/s400/devildoll.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;15. Fury&lt;/b&gt; (Fritz Lang, USA, 1936)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-5nwQhB93ScU/Timdhg1YgmI/AAAAAAAAAO4/gNzTda3u8q0/s1600/fury2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://3.bp.blogspot.com/-5nwQhB93ScU/Timdhg1YgmI/AAAAAAAAAO4/gNzTda3u8q0/s400/fury2.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;14. Shennu / The Goddess&lt;/b&gt; (Wu Yonggang, China, 1934)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-PXCJvgshmpM/Timd8Mdon9I/AAAAAAAAAO8/MSDGHqGmFLs/s1600/goddess.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://1.bp.blogspot.com/-PXCJvgshmpM/Timd8Mdon9I/AAAAAAAAAO8/MSDGHqGmFLs/s400/goddess.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;She was Greta Garbo to the Chinese people. Her funeral procession was three miles long, and three women committed suicide at it. And she depicted her naturalism and acting talent which could be considered ahead from its time, predated The Method of Lee Strassberg by more than 20 years, and also check her biopic directed by Stanley Kwan, also wonderfully acted by Maggie Cheung, titled The Actress. Here, Ruan played the sympathetic figure of a prostitute with one little boy as her only consolation as a mother. Her life ruined by the gangsters from a Gambling den and viciously judged by society itself. Truly one of the best silent film I've ever seen.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;13. Man's Castle&lt;/b&gt; (Frank Borzage, USA, 1933)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-kFqWuMExWks/TimesBgPTMI/AAAAAAAAAPA/Aa-YJ4LKIQo/s1600/manscastle.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://4.bp.blogspot.com/-kFqWuMExWks/TimesBgPTMI/AAAAAAAAAPA/Aa-YJ4LKIQo/s400/manscastle.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;12. Mr. Smith Goes to Washington&lt;/b&gt; (Frank Capra, USA, 1939)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-NAs04dEz90c/Time9WL9wqI/AAAAAAAAAPE/7A_SLHQBlQk/s1600/mrsmith.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://1.bp.blogspot.com/-NAs04dEz90c/Time9WL9wqI/AAAAAAAAAPE/7A_SLHQBlQk/s400/mrsmith.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;11. Les Perles de la Couronne / Pearls of the Crown&lt;/b&gt; (Sacha Guitry, France, 1937)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-xi9NW_t3TdA/TimfekCcysI/AAAAAAAAAPI/QWgntQqyn0k/s1600/pearlsofcrown.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://3.bp.blogspot.com/-xi9NW_t3TdA/TimfekCcysI/AAAAAAAAAPI/QWgntQqyn0k/s400/pearlsofcrown.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aside from the films of Jacques Tati, I rarely found a good comedy from the French cinema. But this Guitry obviously one of my greatest discovery. It's about the chronicle of the Pearls which once was put in the Queen of England's crown. Guitry took us to three kingdoms of England, Italy, and France with their romance and intrigues through the journey of the pearls.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;10. Modern Times&lt;/b&gt; (Charlie Chaplin, USA, 1936)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-s81eiV0A2jY/TimIvW5YqdI/AAAAAAAAAMU/WZ1SXAkufZs/s1600/moderntimes.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://2.bp.blogspot.com/-s81eiV0A2jY/TimIvW5YqdI/AAAAAAAAAMU/WZ1SXAkufZs/s400/moderntimes.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;9. La Regle du Jeu / Rules of the Game&lt;/b&gt; (Jean Renoir, France, 1939)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Zy8PYtOuswg/TimN23lSn2I/AAAAAAAAAMg/Yt42euA3TiE/s1600/rules-of-the-game.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://1.bp.blogspot.com/-Zy8PYtOuswg/TimN23lSn2I/AAAAAAAAAMg/Yt42euA3TiE/s400/rules-of-the-game.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;8. M&lt;/b&gt; (Fritz Lang, Germany, 1931)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-owHW8gWvm3w/TimIKb24N-I/AAAAAAAAAMQ/0N4dbe3sDKk/s1600/m2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://4.bp.blogspot.com/-owHW8gWvm3w/TimIKb24N-I/AAAAAAAAAMQ/0N4dbe3sDKk/s400/m2.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;7. Make Way for Tomorrow&lt;/b&gt; (Leo McCarey, USA, 1937)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-wphqeE2IYVA/TimFdsagA8I/AAAAAAAAAMI/FsuOkPNDOf4/s1600/Make+Way+for+Tomorrow.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://2.bp.blogspot.com/-wphqeE2IYVA/TimFdsagA8I/AAAAAAAAAMI/FsuOkPNDOf4/s400/Make+Way+for+Tomorrow.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Regarded as one of Ozu's inspiration in making Tokyo Story, McCarey takes on the plight of an elderly couple visiting their now-successful children. Beulah Bondi stole the thunder of the film with her brilliant performance.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;6. Angel with Dirty Faces&lt;/b&gt; (Michael Curtiz, USA, 1938)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-5PjTwo2UpnU/TimEaFimJEI/AAAAAAAAAME/NDZx-lIGi_o/s1600/Angels_with_Dirty_Faces.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://1.bp.blogspot.com/-5PjTwo2UpnU/TimEaFimJEI/AAAAAAAAAME/NDZx-lIGi_o/s400/Angels_with_Dirty_Faces.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;My favorite James Cagney movie. His role as the veteran gangster member who seeks to avenge his betrayer friends. Cagney is now a role-model for the street-kids to do their own crimes. He made us to sympathy to an unsympathetic character.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5. The Petrified Forest&lt;/b&gt; (Archie B. Mayo, USA, 1936)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-LV3W5pj9RXk/TimEARWjFPI/AAAAAAAAAMA/RuJB3lnGu08/s1600/petrifiedforest.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://3.bp.blogspot.com/-LV3W5pj9RXk/TimEARWjFPI/AAAAAAAAAMA/RuJB3lnGu08/s400/petrifiedforest.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. Midnight&lt;/b&gt; (Mitchell Leisen, USA, 1939)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-DjMwCg7dj7A/TimCvI5tmnI/AAAAAAAAAL8/09KJ08fzHJU/s1600/midnight.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://1.bp.blogspot.com/-DjMwCg7dj7A/TimCvI5tmnI/AAAAAAAAAL8/09KJ08fzHJU/s400/midnight.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wonderfully scripted by Billy Wilder this film hilarious film made him hating Leisen so much and wanted to direct his own script. Leisen butchered many of the so-called witty dialogues --claimed by Wilder-- into a more compact but visually more interesting than any Wilder films. Leisen whose fame now overcast and suffered by the malicious attack by Wilder, was once an acclaimed and one of the most highly paid in his heyday, proved by his own signature appeared on the films'director credit title equivalent to the French "un film de" aside from Hitchcock, Capra, and Cecil B. DeMille. The story is delicious with Claudette Colbert as a destitude dancer in Paris now is looking for a job, and "trapped" into a game by a count to test his wife's fidelity. Clearly Wilder's script sparks his wits, but with the touch of romantic and elegance a la Leisen.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Umarete Wa Mita Keredo / I Was Born But...&lt;/b&gt; (Yasujiro Ozu, Japan, 1932)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-xdcQDmll4Mw/TimCBTrRGLI/AAAAAAAAAL4/TX7VOLYPKxo/s1600/iwasborn.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://3.bp.blogspot.com/-xdcQDmll4Mw/TimCBTrRGLI/AAAAAAAAAL4/TX7VOLYPKxo/s400/iwasborn.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;It's strange enough that many of my favorite silent films coming from the 30s. This Ozu masterpiece stands out among his best films such the likes of Tokyo Story, Late Spring or Equinox Flower. Predated his so-called remake Good Morning, I Was Born But for me is more heartwarming and most important funnier. The life of a pair of brat from a middle-class family is ruined by the fact that their father is only a middle-level staff in company, which boss humiliate him by making him to clown around.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Mr. Deeds Goes to Town&lt;/b&gt; (Frank Capra, USA, 1936)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-5thMXmSfiwU/TimBiNc83LI/AAAAAAAAAL0/CJ-Zn9dBhZc/s1600/mrdeeds.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://4.bp.blogspot.com/-5thMXmSfiwU/TimBiNc83LI/AAAAAAAAAL0/CJ-Zn9dBhZc/s400/mrdeeds.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Zangiku Monogatari / Story of the Last Chrysanthemums&lt;/b&gt; (Kenji Mizoguchi, Japan, 1939)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-50csMnV_sWY/Til-2gofEoI/AAAAAAAAALs/ILbod4nyEqk/s1600/zangiku.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" height="227" src="http://1.bp.blogspot.com/-50csMnV_sWY/Til-2gofEoI/AAAAAAAAALs/ILbod4nyEqk/s1600/zangiku.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mizoguchi cross-referenced the art form of cinema and kabuki in this depressing lives of a kabuki actor whose fame relies on his sacrification of his wife's suffering. Arguably it has the most experimental element in all of Mizoguchi cinematography in his signature theme about the plight of a woman. Captivating from start to finish.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7942573538273671699-1752704068794970126?l=cinemaexposure-reviews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/feeds/1752704068794970126/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2011/07/decades-under-influence-movies-i-like.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/1752704068794970126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/1752704068794970126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2011/07/decades-under-influence-movies-i-like.html' title='Decades Under the Influence - Movies I Like from the 1930s'/><author><name>Cinema Exposure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12014535301006601988</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='8' src='http://3.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TLtAXbNstRI/AAAAAAAAACI/Ezb3Bup_eDQ/S220/headerblog3+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-4NlYBUyCu-Q/TimM2tFhdPI/AAAAAAAAAMY/sYTL59j2HIU/s72-c/lagedor.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7942573538273671699.post-4984624227394600202</id><published>2011-06-03T05:01:00.000-07:00</published><updated>2011-07-22T07:35:11.425-07:00</updated><title type='text'>Decades Under the Influence:  Movies I Like from the Early Cinema &amp; 1920s</title><content type='html'>Oleh Yuki Aditya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebuah era dimana antusiasme, passion, dan kreativitas ide bersatu untuk sebuah medium seni paling muda dan medium hiburan yang di kemudian hari akan menjadi salah satu yang paling populer. Era ini mungkin era terlemah Saya, dimana Saya baru menonton sekitar 200an judul termasuk beberapa film pendek. Namun juga era favorit dalam kaitan istilah "penemuan", karena sebelumnya Saya tidak pernah terpikir kalau akan sangat menikmati film-film bisu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Honorable Mentions&lt;/b&gt;:&lt;br /&gt;- &lt;i&gt;Tartuffe&lt;/i&gt; (Friedrich Wilhelm Murnau, Germany, 1925)&lt;br /&gt;- &lt;i&gt;Le Voyage dans la Lune / A Trip to the Moon&lt;/i&gt; (Georges Melies, France, 1902) &lt;br /&gt;- &lt;i&gt;Metropolis&lt;/i&gt; (Fritz Lang, Germany, 1925)&lt;br /&gt;- &lt;i&gt;Phantom&lt;/i&gt; (Friedrich Wilhelm Murnau, Germany, 1922)&lt;br /&gt;- &lt;i&gt;A Dog's Life&lt;/i&gt; (Charles Chaplin, USA, 1918)&lt;br /&gt;- &lt;i&gt;The Cook&lt;/i&gt; (Roscoe 'Fatty' Arbuckle, USA, 1918)&lt;br /&gt;- &lt;i&gt;One Week&lt;/i&gt; (Edward F. Cline &amp;amp; Buster Keaton, USA, 1920)&lt;br /&gt;- &lt;i&gt;The Iron Horse&lt;/i&gt; (John Ford, USA, 1924)&lt;br /&gt;- &lt;i&gt;Shakhmatnaya goryachka / Chess Fever&lt;/i&gt; (Vsevolod Pudovkin &amp;amp; Nikolai Shpikovsky, Soviet Union, 1925)&lt;br /&gt;- &lt;i&gt;Lazybones&lt;/i&gt; (Frank Borzage, USA, 1925)&lt;br /&gt;- &lt;i&gt;Chelovek s kino-apparatom / Man with a Movie Camera&lt;/i&gt; (Dziga Vertov, Soviet Union, 1929)&lt;br /&gt;- &lt;i&gt;Polizeibericht Überfall / Accident&lt;/i&gt; (Ernö Metzner, Germany, 1928)&lt;br /&gt;- &lt;i&gt;Tokkan Kozo / A Straightforward Boy&lt;/i&gt; (Yasujiro Ozu, Japan, 1929)&lt;br /&gt;- &lt;i&gt;Wasei Kenka Tomodachi / Fighting Friends&lt;/i&gt; (Yasujiro Ozu, Japan, 1929)&lt;br /&gt;- &lt;i&gt;Foolish Wives&lt;/i&gt; (Erich von Stroheim, USA, 1922)&lt;br /&gt;- &lt;i&gt;Mat / Mother&lt;/i&gt; (Vsevolod Pudovkin, Soviet Union, 1926)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;50. The General &lt;/b&gt;(Clyde Bruckman &amp;amp; Buster Keaton, USA, 1926)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-GIVZkq6umPo/TejDIj_2QZI/AAAAAAAAAG8/V_44G2KP_q0/s1600/general.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://4.bp.blogspot.com/-GIVZkq6umPo/TejDIj_2QZI/AAAAAAAAAG8/V_44G2KP_q0/s400/general.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;49. Der Golem / The Golem &lt;/b&gt;(Carl Boese &amp;amp; Paul Wegener, Germany, 1920)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-71MOh_BIAD4/TejJP7hgdTI/AAAAAAAAAHA/UAE-z0DhS_g/s1600/golem.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://4.bp.blogspot.com/-71MOh_BIAD4/TejJP7hgdTI/AAAAAAAAAHA/UAE-z0DhS_g/s400/golem.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;48. Easy Street &lt;/b&gt;(Charlie Chaplin, USA, 1917)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-1Nf3kTVzS90/TejJgyDJ3CI/AAAAAAAAAHE/ndNTsr9duXY/s1600/easy+street.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://4.bp.blogspot.com/-1Nf3kTVzS90/TejJgyDJ3CI/AAAAAAAAAHE/ndNTsr9duXY/s400/easy+street.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;47. The Thief of Baghdad &lt;/b&gt;(Raoul Walsh, USA, 1924)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-MEZWiNVmQEg/TejK8YstS8I/AAAAAAAAAHI/surjTJLMWSQ/s1600/bagdad.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://2.bp.blogspot.com/-MEZWiNVmQEg/TejK8YstS8I/AAAAAAAAAHI/surjTJLMWSQ/s400/bagdad.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;46. The Crowd &lt;/b&gt;(King Vidor, USA, 1928)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-RC-8QyQO9pI/TejLiGhBIUI/AAAAAAAAAHM/Nszjv2J9AUY/s1600/crowd.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://4.bp.blogspot.com/-RC-8QyQO9pI/TejLiGhBIUI/AAAAAAAAAHM/Nszjv2J9AUY/s400/crowd.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;45. The Docks of New York &lt;/b&gt;(Josef von Sternberg, USA, 1928)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-ZYTeboDEgxQ/TejL1hN9BDI/AAAAAAAAAHQ/l-CrInZJUxw/s1600/docs+of+ny.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://2.bp.blogspot.com/-ZYTeboDEgxQ/TejL1hN9BDI/AAAAAAAAAHQ/l-CrInZJUxw/s400/docs+of+ny.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;44. Du Skal Aere din Hustru / Master of the House &lt;/b&gt;(Carl Theodor Dreyer, Denmark, 1925)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-GGQ9M_YpfS4/TejMJpxvWhI/AAAAAAAAAHU/eQvRwxAIrfc/s1600/master+of+the+house.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://3.bp.blogspot.com/-GGQ9M_YpfS4/TejMJpxvWhI/AAAAAAAAAHU/eQvRwxAIrfc/s400/master+of+the+house.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;43. The Gold Rush &lt;/b&gt;(Charlie Chaplin, USA, 1925)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Y00k2KBz-AI/TejMYwX4EPI/AAAAAAAAAHY/5XQs0oTxXtM/s1600/gold+rush.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://4.bp.blogspot.com/-Y00k2KBz-AI/TejMYwX4EPI/AAAAAAAAAHY/5XQs0oTxXtM/s400/gold+rush.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;42. The Life and Death of 9413: A Hollywood Extra &lt;/b&gt;(Robert Florey &amp;amp; Slavko Vorkapich, USA, 1928)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-j3_Gfmhjf9s/TejMmgqmZqI/AAAAAAAAAHc/KiAjHlRwJHY/s1600/9413.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://1.bp.blogspot.com/-j3_Gfmhjf9s/TejMmgqmZqI/AAAAAAAAAHc/KiAjHlRwJHY/s400/9413.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;41. Our Hospitality &lt;/b&gt;(Buster Keaton &amp;amp; John G. Blystone, USA, 1923)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-HIPA2q1aiVI/TejM7V6-0RI/AAAAAAAAAHg/jMKfhnyW_vk/s1600/our+hospitality.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://3.bp.blogspot.com/-HIPA2q1aiVI/TejM7V6-0RI/AAAAAAAAAHg/jMKfhnyW_vk/s400/our+hospitality.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;40. Menilmontant &lt;/b&gt;(Dmitri Kirsanoff, France, 1926)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-5Mdp6j6gtwI/TejOq-MGqnI/AAAAAAAAAHk/c857yDpo06U/s1600/menilmontant.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://1.bp.blogspot.com/-5Mdp6j6gtwI/TejOq-MGqnI/AAAAAAAAAHk/c857yDpo06U/s400/menilmontant.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;39. The Ring &lt;/b&gt;(Alfred Hitchcock, United Kingdom, 1927)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-lIpqL7d57TU/TejO2TPm31I/AAAAAAAAAHo/MtDwpoA3UE8/s1600/ring.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://3.bp.blogspot.com/-lIpqL7d57TU/TejO2TPm31I/AAAAAAAAAHo/MtDwpoA3UE8/s400/ring.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;38. The Unknown &lt;/b&gt;(Tod Browning, USA, 1927)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-GT6Y_0cOcOc/TejPKdqZbOI/AAAAAAAAAHs/qjr3a77ZC-I/s1600/unknown.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://4.bp.blogspot.com/-GT6Y_0cOcOc/TejPKdqZbOI/AAAAAAAAAHs/qjr3a77ZC-I/s400/unknown.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;37. L'argent / Money &lt;/b&gt;(Marcel L'Herbier, France, 1928)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-KsT45_9Q67w/TejQBuH31YI/AAAAAAAAAHw/HHGtLeNaGow/s1600/money.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://3.bp.blogspot.com/-KsT45_9Q67w/TejQBuH31YI/AAAAAAAAAHw/HHGtLeNaGow/s400/money.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;36. Nanook of the North &lt;/b&gt;(Robert J. Flaherty, USA, 1922)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Uu_YLmgr9dk/TejQae0NNtI/AAAAAAAAAH0/BfHO_HEkNwM/s1600/nanook.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://1.bp.blogspot.com/-Uu_YLmgr9dk/TejQae0NNtI/AAAAAAAAAH0/BfHO_HEkNwM/s400/nanook.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;35. Kurutta Ippeji / Page of Madness &lt;/b&gt;(Teinosuke Kinugasa, Japan, 1926)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-48kicpIAcIw/TejQui4wXmI/AAAAAAAAAH4/PqA7x5IADWI/s1600/page+of+madness.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://2.bp.blogspot.com/-48kicpIAcIw/TejQui4wXmI/AAAAAAAAAH4/PqA7x5IADWI/s400/page+of+madness.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dibuat tanpa memanfaatkan intertitles, keajaiban film ini datang dari gambar-gambar mengerikan sebuah rumah sakit jiwa dengan mimik berlebihan dan kebiasaan orang-orang yang menempatinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;34. Girl Shy&lt;/b&gt; (Fred C. Newmeyer &amp;amp; Sam Taylor, USA, 1924)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-7EX173k1gug/TejROwyKIRI/AAAAAAAAAH8/tn0t4YCqDLc/s1600/girl+shy.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://3.bp.blogspot.com/-7EX173k1gug/TejROwyKIRI/AAAAAAAAAH8/tn0t4YCqDLc/s400/girl+shy.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;33. The Patsy&lt;/b&gt; (King Vidor, USA, 1928)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-oAjBo58tZJU/TejReJTGQbI/AAAAAAAAAIA/PpP2qBV8ADY/s1600/patsy.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://4.bp.blogspot.com/-oAjBo58tZJU/TejReJTGQbI/AAAAAAAAAIA/PpP2qBV8ADY/s400/patsy.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;32. The Burglar's Dilemma&lt;/b&gt; (D.W. Griffith, USA, 1912)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-fmb-uT86uCw/TejSjQOPFZI/AAAAAAAAAIE/Hr19ylDO3GM/s1600/burglar%2527s+dilemma.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://1.bp.blogspot.com/-fmb-uT86uCw/TejSjQOPFZI/AAAAAAAAAIE/Hr19ylDO3GM/s400/burglar%2527s+dilemma.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya mengakui tidak pernah menikmati film-film karya Griffith yang disebut-sebut sebagai mahakarya seperti &lt;i&gt;Intolerance (1916)&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;The Birth of a Nation (1915)&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;The Broken Blossom (1919)&lt;/i&gt;. Tetapi ini adalah sebuah film pendek yang luar biasa tentang seorang hipokrit mendakwa seorang pencuri yang muncul pada waktu yang tidak tepat, ketika orang itu sedang memukul kepala saudara lelakinya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;31. Safety Last&lt;/b&gt; (Fred C. Newmeyer &amp;amp; Sam Taylor, USA, 1923)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-DU62CYP-7Ys/TejTA--Y7WI/AAAAAAAAAII/82bVVcuQWUs/s1600/safety+last.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://1.bp.blogspot.com/-DU62CYP-7Ys/TejTA--Y7WI/AAAAAAAAAII/82bVVcuQWUs/s400/safety+last.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;30. Cops&lt;/b&gt; (Buster Keaton &amp;amp; Eddie Cline, USA, 1921)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-VQjk9WsR6Ww/TejVsdhONHI/AAAAAAAAAIM/5H8EEEr2lBU/s1600/cops.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://4.bp.blogspot.com/-VQjk9WsR6Ww/TejVsdhONHI/AAAAAAAAAIM/5H8EEEr2lBU/s400/cops.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;29. The Covered Wagon&lt;/b&gt; (James Cruze, USA, 1923)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-l0UjWLASY7M/TejV6fPolbI/AAAAAAAAAIQ/-eNS1h6zbS8/s1600/covered+wagon.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://3.bp.blogspot.com/-l0UjWLASY7M/TejV6fPolbI/AAAAAAAAAIQ/-eNS1h6zbS8/s400/covered+wagon.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;28. L'enfant de Paris / The Children of Paris&lt;/b&gt; (Léonce Perret, France, 1913)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-0eENcN4ydJM/TejWnpcNERI/AAAAAAAAAIU/gVfQfrgcNXU/s1600/children+of+paris.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://3.bp.blogspot.com/-0eENcN4ydJM/TejWnpcNERI/AAAAAAAAAIU/gVfQfrgcNXU/s400/children+of+paris.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;27. The Freshman&lt;/b&gt; (Fred C. Newmeyer and Sam Taylor, USA, 1925)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-UhO69QOGqpM/TejW9Lt9enI/AAAAAAAAAIY/7u-YDcrVR1c/s1600/freshman.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://4.bp.blogspot.com/-UhO69QOGqpM/TejW9Lt9enI/AAAAAAAAAIY/7u-YDcrVR1c/s400/freshman.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;26. Queen Kelly&lt;/b&gt; (Erich von Stroheim, USA, 1928)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-92p5VcfoDVA/TejXg379R0I/AAAAAAAAAIc/Cn3ssgjdNUA/s1600/queen+kelly.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://2.bp.blogspot.com/-92p5VcfoDVA/TejXg379R0I/AAAAAAAAAIc/Cn3ssgjdNUA/s400/queen+kelly.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;25. Herr Arnes Penningar / Sir Arne's Treasure&lt;/b&gt; (Mauritz Stiller, Sweden, 1919)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-vyabd7YwJ2s/TejYYLrHHzI/AAAAAAAAAIg/IAd1PeOPi5w/s1600/her+arness.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://3.bp.blogspot.com/-vyabd7YwJ2s/TejYYLrHHzI/AAAAAAAAAIg/IAd1PeOPi5w/s400/her+arness.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;24. Spione / Spies&lt;/b&gt; (Fritz Lang, Germany, 1928)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-f0OoxNA77Ms/TejYt0lNmEI/AAAAAAAAAIk/TiWF5Xwd7qc/s1600/spies.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://3.bp.blogspot.com/-f0OoxNA77Ms/TejYt0lNmEI/AAAAAAAAAIk/TiWF5Xwd7qc/s400/spies.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;23. The Electric House&lt;/b&gt; (Buster Keaton &amp;amp; Eddie Cline, USA, 1922)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-fvFmcEaC6GM/TejZQHBDhWI/AAAAAAAAAIo/l0VBsTTVmgw/s1600/electric+house.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://4.bp.blogspot.com/-fvFmcEaC6GM/TejZQHBDhWI/AAAAAAAAAIo/l0VBsTTVmgw/s400/electric+house.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;22. Pandora's Box&lt;/b&gt; (G.W. Pabst, Germany, 1929)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-0V2wyuxyxhY/TejZtzi_cHI/AAAAAAAAAIs/Ba3KgJpUKbI/s1600/pandora.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://2.bp.blogspot.com/-0V2wyuxyxhY/TejZtzi_cHI/AAAAAAAAAIs/Ba3KgJpUKbI/s400/pandora.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;21. Victory&lt;/b&gt; (Maurice Tourneur, USA, 1919)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-iLPDMRkpuds/TejZ2vXKuFI/AAAAAAAAAIw/swiHDzhKiJo/s1600/victory.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://1.bp.blogspot.com/-iLPDMRkpuds/TejZ2vXKuFI/AAAAAAAAAIw/swiHDzhKiJo/s400/victory.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sepertinya film Hollywood pertama yang bersetting di Indonesia, tepatnya di Surabaya. Bercerita tentang Axel yang lebih suka hidup menyendiri di pulau kecil dekat Surabaya, dan ke Surabaya jika ada keperluan belanja atau sedang butuh hiburan saja. Suatu hari, dia bertemu dengan gadis penari di hotel Soerabaja yang hidupnya tidak pernah lepas dari kemalangan dan siksaan sedari kecil, Axel membawanya ke pulau tempat dia tinggal. Seru, konyol dan sangat jenaka, Lon Chaney dalam salah satu film di awal karirnya. Entah ini sebuah romansa, kisah menegangkan, atau murni komedi, semua dicampur secara megah oleh tangan terampil sang sutradara ulung yang juga merupakan ayah dari sutradara terkenal Jacques Tourneur.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;20. The Wind&lt;/b&gt; (Victor Sjöström, USA, 1928)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-2ozv7-qsV7I/Tejbakw5WLI/AAAAAAAAAI0/71IMDIa3GJo/s1600/wind.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://3.bp.blogspot.com/-2ozv7-qsV7I/Tejbakw5WLI/AAAAAAAAAI0/71IMDIa3GJo/s400/wind.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;19. Regen / Rain&lt;/b&gt; (Joris Ivens, Netherlands, 1929)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-k1RLaNS29XY/Tejb2Ogk_7I/AAAAAAAAAI4/XNUSFST5TWU/s1600/rain.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://4.bp.blogspot.com/-k1RLaNS29XY/Tejb2Ogk_7I/AAAAAAAAAI4/XNUSFST5TWU/s400/rain.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak bisa dijelaskan bagaimana film pendek yang cantik karya Joris Ivens mampu menangkap hati Saya. Kesederhanaannya dalam menunjukkan bunyi puitis dari hujan atau perasaan sesudahnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;18. Korkalen / The Phantom Chariot&lt;/b&gt; (Victor Sjöström, Sweden, 1921)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-tBvk5Td9G_Q/TejcIbFD-dI/AAAAAAAAAI8/OF4ImNr8RqY/s1600/phantom+of+carriage.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://3.bp.blogspot.com/-tBvk5Td9G_Q/TejcIbFD-dI/AAAAAAAAAI8/OF4ImNr8RqY/s400/phantom+of+carriage.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak heran mengapa film ini berada diantara film-film favorit Ingmar Bergman. Film ini memiliki seorang malaikat pencabut nyawa sebagai sebuah metafora dari kematian yang memiliki kewajiban untuk mengunjungi orang-orang yang akan mati dan mengambil jiwa mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seorang pria tak bertanggung jawab, diperankan Sjostrom sendiri dengan sangat baik (tidak heran Bergman memberinya peran dalam Wild Strawberries), dihakimi masyarakat dan juga keluarganya sendiri sebagai pria tak berguna. Sang malaikat pencabut nyawa memutuskan bahwa pria tersebut akan menemaninya untuk mengambil jiwa orang-orang. Dia tidak siap dan harus menghadapinya dengan mata sendiri, ketika sesungguhnya orang-orang terdekatnya masih berharap banyak darinya agar kelak bisa menjadi orang yang lebih baik. Sarat akan pesan moral, tentu dalam penuturan yang baik.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;17. The Kid&lt;/b&gt; (Charlie Chaplin, USA, 1921)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-kfGvReR-x9g/TejcVzdUFTI/AAAAAAAAAJA/R_1uyzYXyVE/s1600/kid.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://3.bp.blogspot.com/-kfGvReR-x9g/TejcVzdUFTI/AAAAAAAAAJA/R_1uyzYXyVE/s400/kid.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;16. The Penalty&lt;/b&gt; (Wallace Worsley, USA, 1920)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-MKDxtKfCNwI/Tejcj2NnZsI/AAAAAAAAAJE/FxTwV5mQpFQ/s1600/penalty.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://1.bp.blogspot.com/-MKDxtKfCNwI/Tejcj2NnZsI/AAAAAAAAAJE/FxTwV5mQpFQ/s400/penalty.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lon Chaney adalah salah satu aktor favorit Saya yang hampir selalu melakoni peran sebagai penjahat di sepanjang filmografinya. Ia menunjukkan seringai dan senyuman sadisnya di sepanjang film ini sebagai orang cacat,  yang ketika masih kecil, kedua kakinya secara ceroboh diamputasi oleh seorang dokter muda. Sekarang Chaney dewasa menginginkan balas dendam dengan menjadi model untuk anak perempuan sang dokter yang sedang mengerjakan ukiran patung sebuah sosok setan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;15. He Who Gets Slapped&lt;/b&gt; (Victor Sjöström, USA, 1924)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-nyDWy_05f1w/Tejc5WnAlQI/AAAAAAAAAJI/E0TQjkKVxpk/s1600/he+who+gets+slapped.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://1.bp.blogspot.com/-nyDWy_05f1w/Tejc5WnAlQI/AAAAAAAAAJI/E0TQjkKVxpk/s400/he+who+gets+slapped.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;14. It&lt;/b&gt; (Clarence Badger, USA, 1927)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-bgq4ZqpdSlw/TejiDh3S-YI/AAAAAAAAAKA/EJc1khYMUOU/s1600/it.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://2.bp.blogspot.com/-bgq4ZqpdSlw/TejiDh3S-YI/AAAAAAAAAKA/EJc1khYMUOU/s400/it.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Walau jalan ceritanya seringkali terlalu sederhana bahkan sentimental rada basi, film bisu tidak terbantahkan mempunyai keunggulan dalam hal eksposisi dibanding film berbicara. Bagaimana sutradara-sutradara tersebut menggabungkan perca-perca gambar lalu kemudian akting dan ekspresi berlebihan untuk meng-ekspos perasaan dan situasi dalam film bisu adalah nilai lebih bagi saya dari film bisu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;IT menceritakan tentang seorang salesgirl--a flapper (julukan bagi social climber bagi perempuan di zaman itu) -- bahkan sebuah cerita Cinderella lagi--yang bermimpi agar boss barunya yang rupawan dapat menoleh kepada dirinya, walau hanya sekejap.  Kebetulan, boss baru nya itu sedang mencari seorang gadis yang mempunyai faktor "IT", suatu kualitas yang jarang dimiliki oleh wanita dan amat didambakan banyak pria.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Faktor "IT" itu sendiri didefinisikan secara gamblang, yaitu seorang wanita yang mempunyai "sex appeal" natural untuk menarik lawan jenisnya.  Clara Bow sebagai Betty Lou Spence, "the darling of the silent film era" dalam film komedi yang mulai terlupakan ini, akan memesona anda dengan semangat dan energi performanya, tanpa takut terlihat bodoh.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;13. Diary of a Lost Girl&lt;/b&gt; (G.W. Pabst, Germany, 1929)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-ntk3t6aDTvY/TejdL9JjRjI/AAAAAAAAAJM/5c9OkcggQs0/s1600/diary+of+a+lost+girl.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://1.bp.blogspot.com/-ntk3t6aDTvY/TejdL9JjRjI/AAAAAAAAAJM/5c9OkcggQs0/s400/diary+of+a+lost+girl.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;12. The Scarlet Letter&lt;/b&gt; (Victor Sjöström, USA, 1926)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-j-4Kep7gwMs/TejdcpYKKGI/AAAAAAAAAJQ/fEhhT7cym_k/s1600/scarlet+letter.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://4.bp.blogspot.com/-j-4Kep7gwMs/TejdcpYKKGI/AAAAAAAAAJQ/fEhhT7cym_k/s400/scarlet+letter.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;11. Seventh Heaven&lt;/b&gt; (Frank Borzage, 1927)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-TRVwG6DNRNg/Tejdt9Og1aI/AAAAAAAAAJU/FcK7m_mEFnw/s1600/7th+heaven.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://3.bp.blogspot.com/-TRVwG6DNRNg/Tejdt9Og1aI/AAAAAAAAAJU/FcK7m_mEFnw/s400/7th+heaven.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dunia dalam film Frank Borzage adalah dimana romantisme akan cinta ditransformasikan ke dalam ruang yang lebih privat, terasa rapuh tetapi sulit untuk dihancurkan, karena karakter-karakter didalamnya tidak memperdulikan moralitas dari kaum borjuis. Pemeran utama wanita dalam 7th Heaven adalah Janet Gaynor yang pada tahun tersebut (1927) juga berperan dalam Sunrise, satu masterpiece dari FW Murnau, dan Gaynor harus pergi bolak-balik diantara kedua set film tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cerita dalam 7th heaven, adalah perjalanan cinta yang terjadi pada satu pasangan dari kaum pekerja di kota Paris, Chico dan Diane. Ruang lingkup dunia kerja Chico adalah saluran pembuangan bawah tanah kota Paris yang kotor, tetapi rasa optimis selalu dimiliki oleh Chico. "Always look up, and be proud of yourself", Chico selalu menanamkan motto itu pada dirinya sendiri dan menebarkan kepada orang-orang yang berada di lingkungan sekitarnya. Diane bertemu Chico pada saat Diane merasa cukup disiksa oleh bibinya sendiri. Cinta mereka tumbuh tidak dengan mudah namun romantis dengan cara khas Borzage yang telah saya sebutkan diatas.  "Love Nest" mereka dibangun di puncak gedung rumah susun di pinggiran kota Paris, dan bagi mereka itulah lantai ketujuh dari surga mereka berdua. Tragedi dan kebahagiaan datang silih berganti, kesetiaan di uji dalam kebersamaan dan kemesraan mereka, tetapi yang penting bagi mereka adalah rasa sentimental dari bentuk cinta murni pasangan tersebut yang digugah Borzage sehingga teramu menjadi salah satu film dengan adegan rekonsiliasi terbaik dan paling menyentuh hati yang pernah ditangkap oleh kamera.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;10. Potomok Chingis Khana / Storms Over Asia&lt;/b&gt; (Vsevolod Pudovkin, Soviet Union, 1928)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-w8HwHmhKr6U/TejenIQvE1I/AAAAAAAAAJY/i9Rt2sE2Zxc/s1600/storm+over+asia.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://2.bp.blogspot.com/-w8HwHmhKr6U/TejenIQvE1I/AAAAAAAAAJY/i9Rt2sE2Zxc/s400/storm+over+asia.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bersama Aleksandr Dovzhenko, Sergei Eisenstein, Lev Kuleshov, dan Dziga Vertov, Vsevolod Pudovkin adalah nama yang membuat gerakan Russian montage terkenal dalam sejarah perfilman dunia. Melalui fragmen-fragmen gambar yang saling berhubungan, Pudokvkin telah menciptakan signature-nya sendiri, selain narasi-nya yang paling linear dibanding sutradara dari gerakan Russian montage lainnya. Sebuah editing jenius ketika adegan sekumpulan pasukan Mongolia bertombak di juxtapose dengan scene dimana pasir-pasir di suatu padang tercerai-berai oleh tiupan angin kencang, yang menciptakan suatu metafora akan runtuhnya suatu tiran oleh determinasi di sebuah kawasan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tema dalam film ini sendiri bisa dibilang revolusioner dibanding film dari rekan sejawatnya yang lain. Pudovkin Merekam jejak dari Bair, seorang berkebangsaan Mongolia yang selamat dari banyak percobaan penghinaan karakter yang dilakukan oleh Pasukan Imperialis Kulit Putih, yang mencoba peruntungan mereka untuk menginvasi tanah Mongolia melalui Bair, yang secara kebetulan adalah keturunan terakhir dari pewaris tahta Genghis Khan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika kamu pikir film bisu itu pasti lambat dan membosankan, Storm Over Asia harus ditonton untuk membuktikan pernyataan tak berdasar itu. Faktanya, editing dan pergantian antar-adegan terjadi cepat dan dinamis bahkan bila dibandingkan dengan standar film rilisan baru-baru ini. 2000 shots digunakan Pudovkin untuk adegan sekumpulan tentara berkuda menyebrangi indahnya lanskap tanah Mongolia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Walau ketika Storm Over Asia dirilis mendapatkan kritik tajam dari kritikus film Rusia dan Amerika untuk ketidak-realistisannya dan ketergantungannya yang besar terhadap penggunaan simbol-simbol dalam penceritaannya, sekarang kita dapat melihatnya sebagai narasi yang dinamis, sebuah puisi visual yang epic dan efektif dalam mendemonstrasikan kekuatan editing untuk menciptakan satu cara baru dalam penyampaian isi cerita.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;9. Mutter Krausens Fahrt ins Gluck / Mother Krausen's Journey to Happiness&lt;/b&gt; (Phil Jutzi, Germany, 1929)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-DyMZ8FGsBvg/TejfcZIzJII/AAAAAAAAAJc/CDKbS6NUFN4/s1600/mother+krause.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://4.bp.blogspot.com/-DyMZ8FGsBvg/TejfcZIzJII/AAAAAAAAAJc/CDKbS6NUFN4/s400/mother+krause.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;8. The Show People&lt;/b&gt; (King Vidor, USA, 1928)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-ROhV9_bc15g/TejflHFCLdI/AAAAAAAAAJg/coisKVQP5eA/s1600/show+people.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://1.bp.blogspot.com/-ROhV9_bc15g/TejflHFCLdI/AAAAAAAAAJg/coisKVQP5eA/s400/show+people.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;King Vidor takes on the dark side of the mentality of creating a movie star in the nitty gritty Hollywood studio lot. Rarely a satire comedy could be successful being comic too at the same time. Marion Davies as the newborn star hilariously was depicted with the good, the bad, and the ugly ethical work and attitude as Peggy Pepper which later changed her name into Patricia Pepoire. The clumsy, naive, yet ambitious new young actress struggles her way through the vicious system. Vidor shows while Hollywood is arguably the best and grandest place for a social climber like Peggy, he also shows that someone could learn as much as she would lose her own integrity with the self and media made-up promotion devices.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;7. Passion of Joan of Arc&lt;/b&gt; (Carl Theodor Dreyer, France, 1928)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-c_cd7O2I8Cs/Tejf-Qk104I/AAAAAAAAAJk/aInpPgBHVcA/s1600/joan+arc.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="291" src="http://3.bp.blogspot.com/-c_cd7O2I8Cs/Tejf-Qk104I/AAAAAAAAAJk/aInpPgBHVcA/s400/joan+arc.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;6. Sunrise&lt;/b&gt; (Friedrich Wilhelm Murnau, USA, 1927)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-U1FZv40Mbvk/TejgK7gxxOI/AAAAAAAAAJo/P0d62zjbgfU/s1600/sunrise.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://1.bp.blogspot.com/-U1FZv40Mbvk/TejgK7gxxOI/AAAAAAAAAJo/P0d62zjbgfU/s400/sunrise.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5. The Cameraman&lt;/b&gt; (Edward Sedgwick, USA, 1928)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-n0qRe8FP75I/TejgVof2qgI/AAAAAAAAAJs/6WU1iPXD2JY/s1600/cameraman.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://2.bp.blogspot.com/-n0qRe8FP75I/TejgVof2qgI/AAAAAAAAAJs/6WU1iPXD2JY/s400/cameraman.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;The Cameraman now is officially my second fave Keaton, right behind Seven Chances. Yes he does use the sets to perform his stunts, but i think he went farther by manipulating the sets to stimulate other people doing their stunts. And while his other films are dealing with him being pursued, now he's pursuing something LOL. This is the first time i cried in a silent movie.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. Seven Chances&lt;/b&gt; (Buster Keaton, USA, 1925)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/--4ZG2ik3eEQ/Tejgld7-ktI/AAAAAAAAAJw/VHLe6ebFI9U/s1600/seven+chances.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://4.bp.blogspot.com/--4ZG2ik3eEQ/Tejgld7-ktI/AAAAAAAAAJw/VHLe6ebFI9U/s400/seven+chances.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. The Circus&lt;/b&gt; (Charlie Chaplin, USA, 1928)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-0huXEWEyH_g/Tejg-7yQrYI/AAAAAAAAAJ0/QrWwwaUR0P8/s1600/circus.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://1.bp.blogspot.com/-0huXEWEyH_g/Tejg-7yQrYI/AAAAAAAAAJ0/QrWwwaUR0P8/s400/circus.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Greed&lt;/b&gt; (Erich von Stroheim, USA, 1924)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-apOF-ISYrSk/TejhRAVgpmI/AAAAAAAAAJ4/JeQD2ZwnJ6Q/s1600/greed.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://2.bp.blogspot.com/-apOF-ISYrSk/TejhRAVgpmI/AAAAAAAAAJ4/JeQD2ZwnJ6Q/s400/greed.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Greed is a dramatic and sordid social commentary about the evils of being greedy. And Von Stroheim was epitomized it with grand scenes. This Von Stroheim's fifth and his most ambitious project tells a story about the journey of a the heart of a man revolving aroundthe disputed ownership of a lottery ticket between the man and his wife. Departing from a poor family and now a successful dentist, married to a beautiful woman. The marriage life is steered completely by the wife and starting to crumble when his dentist license is suspended by the authority. Losing his job with the background of the Great Depression era, also he has to support his wife's "high maintenance" lifestyle. He started accusing his wife to have a scheme behind his back for not wanting to use the lottery ticket they won back then. The man's soul and personality traits gradually changed. The greed becomes greeder, they are all the victim of money.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Les Vampires&lt;/b&gt; (Louis Feuillade, France, 1915)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-rshDLGXGyPU/TejhfHMCqKI/AAAAAAAAAJ8/ZOY2yfxXHxA/s1600/les+vampires.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://1.bp.blogspot.com/-rshDLGXGyPU/TejhfHMCqKI/AAAAAAAAAJ8/ZOY2yfxXHxA/s400/les+vampires.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Les Vampires dibuat untuk maksud menyaingi popularitas film-film Amerika yang membanjiri dan mendominasi kultur sinema di Perancis pada masa itu. Dipaksa untuk bekerja super cepat tanpa dukungan mesin studio yang berlebihan di belakangnya, les Vampires is arguably Feuillade's most famous film, and it strongly conditioned of its shooting. Feuillade tidak punya waktu banyak karna tuntutan studio hanya satu, film kelar dan Feuillade produktif menyutraddarai film berikutnya. Tidak heran sepanjang karirnya filmography Feuillade mencapai sekitar 300 lebih film yang disutradarainya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cerita dari Les Vampires sendiri mungkin terdengar biasa, yaitu seorang jurnalis sebuah harian bernama Philippe Guerande dan partnernya yang komikal atau konyol bernama Oscar Mazamette, berusaha menyelidiki kematian dari seorang pejabat tinggi polisi yang ditemukan mati tanpa kepala. Berita yang ditulis pada harian tempatnya bekerja berencana menyajikan penyelidikan Philippe dan Mazamette secara berseri dan diupdate setiap hari berdasar perkembangan terbaru dari penyelidikan mereka terhadap berita misterius tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ternyata yang dihadapi Philippe dan partnernya Mazamette adalah bukan sebuah organisasi sembarangan, yaitu Les Vampires, yang dapat dikatakan sebuah organisasi kejahatan bawah tanah yang menghantui kalangan atas di kota Paris semenjak lama. Kejahatan berupa perampokan, dan pembunuhan yang dilakukan oleh organisasi tersebut dilakukan dengan sadis dan menggunakan alat-alat tercanggih pada masa itu, sehingga Feuillade secara tidak langsung juga menyajikan suatu satir terhadap lemahnya organisasi kepolisian di kota Paris yang butuh bantuan jurnalis untuk mengungkap berbagai percabangan kasus yang muncul di tengah penyelidikan Pihillppe tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak sampai disitu saja, apa yang membuat Les Vampires menurut saya sebagai salah satu pantheon dalam sejarah dunia sinema sepanjang masa dan tidak lekang dimakan waktu adalah unsur komedinya, well iit surely does a hilarious movie which doesnt lose even an inch of its charm even comparing to today's standard. Selain satir terhadap lemahnya organisasi kepolisian, les Vampires juga merupakan satir komedi tentang film detektif atau misteri pada umumnya. Karakter Mazamette yang kalau di film-film rilisan Hollywood pada masa itu atau pada masa sekarang akan dibuat sebagai partner biasa yang posisinya pasti akan lebih submissive dibanding karakter utama dalam suatu film, tetapi Feuillade secara adil memperlakukan karakter Mazamette bukan sekedar untuk mengeksploitasi kekonyolannya belaka, tetapi malah sering Mazamette-lah yang menyelamatkan atau membongkar sendiri percabangan misteri yang ada di film ini untuk kemudia Philippe yang mendapatkan kredit atas hasil kerjanya, atau dengan kata lain Feuillade memporak-porandakan sebuah etika tfilm tentang main character and his sidekick.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Les Vampires juga mempunyai karakter dan penampilan dari seorang villain paling diingat dan terkenal sepanjang masa yaitu karakter Irma Vep (anagram dari Vampire) yang diperankan secara simpatetik oleh Musidora, dengan kemampuannya menyamar, menipu dan menggunakan seks sebagai salah satu senjatanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Improvisasi dan inkoherensi juga merupakan salah satu kekuatan film ini. Secara terus menerus kita disajikan banyak scene yang terasa aneh tapi memberikan nuansa unik terhadap keseluuhan film--dimana melibatkan sekumpulan orang-orang kaya yang pingsan karena diberi gas beracun, sseorang aktris dibunuh diatas panggung, dan orang-orang diculik dengan cara dipancing keluar jendela balkon rumah mereka untuk kemudian di laso lehernya dan ditarik kebawah. Semua aksi itu dan banyak lagi lainnya jelas merupakan suatu pola yang telah diorkestrasi secara menarik oleh Feuillade, dengan tetap pada jalur penceritaan yang tradisional, dan dengan intuisi action yang dalam serta karakter-karakter yang selalu menghadap kamera layaknya gaya dalam sebuah teater. Tidak diragukan lagi Les Vampires adalah salah satu film paling menghibur yang pernah diciptakan di muka bumi ini (dan Feuillade juga mempunyai kemampuan menghibur dibanding film-film D.W. Griffith yang hingga saat ini banyak disebut sebagai pinnacle of the silent era) dengan kritik social yang tetap tajam akan kaum borjuis di Eropa yang mulai dikritisi keberadaannya setelah era Perang Dunia pertama, sehingga Andre Breton, Louis Aragon serta Luis Bunuel yang merupakan dedengkot seni aliran Surrealisme sepakat untuk menyebut Les Vampires sebagai "the Reality of this century. Beyond Fashion. Beyond Taste." 6 jam setengah paling menyenangkan dalam hidup saya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7942573538273671699-4984624227394600202?l=cinemaexposure-reviews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/feeds/4984624227394600202/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2011/06/decades-under-influence-movies-i-like.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/4984624227394600202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/4984624227394600202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2011/06/decades-under-influence-movies-i-like.html' title='Decades Under the Influence:  Movies I Like from the Early Cinema &amp; 1920s'/><author><name>Cinema Exposure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12014535301006601988</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='8' src='http://3.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TLtAXbNstRI/AAAAAAAAACI/Ezb3Bup_eDQ/S220/headerblog3+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-GIVZkq6umPo/TejDIj_2QZI/AAAAAAAAAG8/V_44G2KP_q0/s72-c/general.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7942573538273671699.post-4720556469813144860</id><published>2011-04-25T22:47:00.000-07:00</published><updated>2011-04-26T04:55:36.750-07:00</updated><title type='text'>As I Was Moving Ahead Occasionally I Saw Brief Glimpses of Beauty (2000)</title><content type='html'>(USA)&lt;br /&gt;Sutradara: Jonas Mekas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rating:&lt;br /&gt;Rajiv Ibrahim&lt;br /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt; &lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-zb_fjjyelTc/TbZbUT5_a2I/AAAAAAAAAG0/Wf-W1GLU3pY/s1600/5235015210_678c816bbe.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://3.bp.blogspot.com/-zb_fjjyelTc/TbZbUT5_a2I/AAAAAAAAAG0/Wf-W1GLU3pY/s400/5235015210_678c816bbe.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Oleh Rajiv Ibrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"This is not a film, i'm just filming"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kurang lebih seperti itu kutipan dari Jonas Mekas ditengah-tengah film ini. Masuk akal mengingat film ini merekam bukannya kejadian-kejadian penting, dramatis, spektakuler, atau sesuatu yang klimaks seperti film pada umumnya, melainkan film ini hanya merekam fleeting dan insignificance moments of daily life di sepanjang film yang berdurasi 288 menit ini. Jadi jangan mengharapkan akan adanya emotional rollercoaster dalam film ini, namun film ini menawarkan lebih dari itu dan sukar ditemukan di film lain, yaitu subtle feelings of beauty and happiness.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam satu kesempatan dalam film ini Jonas Mekas sempat membicarakan mengenai membaca sebuah image, yang menurut saya merupakan kunci untuk benar-benar menikmati film ini, dikarenakan film ini hanya berisi potongan-potongan shot of mundane life, jadi adalah esensial untuk melihat image as it is, apa adanya, tanpa berusaha untuk mencari tahu maksud dari film ini, karena seringkali orang terlanjur berprasangka akan adanya maksud atau arti tersembunyi dikarenakan oleh label 'avant-garde' atau 'experimental' yang terlanjur melekat dalam film ini. Oleh karena itu juga mungkin Jonas Mekas banyak campur tangan dengan memberikan narasi dengan frekuensi yang cukup banyak dibandingkan film-film terdahulunya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada awalnya, saya merasa agak kecewa dengan segala macam penjelasan yang diberikan oleh Mekas terhadap film ini, namun pada dasarnya film ini bertujuan to share beauty and happiness of his life, dan segala penjelasan dan keterlibatan diri Jonas Mekas itu hanya akan membuat penonton semakin dekat dengan film ini. Film ini seperti film-film Jonas Mekas lain, memang sekilas terlihat sangat sederhana, hanya mengambil gambar kehidupan sehari-hari, lalu kemudian masuk dalam ruang editing dan jadilah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya apa yang dilakukan Jonas Mekas mungkin adalah hal tersulit yang dapat dilakukan oleh filmmaker. Bukan tahap editingnya, walaupun teknik editing Mekas sangat superior karena dapat menciptakan atmosfer yang heavenlike, dan dengan keacakan penempatan footage yang dapat menimbulkan sense of time meditation, bukan pula dengan pengisian narasinya yang juga pantas diacungi jempol.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun keistimewaan Jonas Mekas adalah mengenai capturing those fleeting, insignificance, and honest moments tanpa merusak keaslian moment tersebut. Singkat kata, film ini tidak menyampaikan suatu pesan, tidak pula memberitahu kita apa yang harus dilakukan, namun film ini mengajak kita ke suatu tempat, tempat yang mungkin merupakan fragmen dari surga, dan tempat dimana kita bisa merayakan art dan life secara bersamaan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7942573538273671699-4720556469813144860?l=cinemaexposure-reviews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/feeds/4720556469813144860/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2011/04/as-i-was-moving-ahead-occasionally-i.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/4720556469813144860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/4720556469813144860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2011/04/as-i-was-moving-ahead-occasionally-i.html' title='As I Was Moving Ahead Occasionally I Saw Brief Glimpses of Beauty (2000)'/><author><name>Cinema Exposure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12014535301006601988</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='8' src='http://3.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TLtAXbNstRI/AAAAAAAAACI/Ezb3Bup_eDQ/S220/headerblog3+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-zb_fjjyelTc/TbZbUT5_a2I/AAAAAAAAAG0/Wf-W1GLU3pY/s72-c/5235015210_678c816bbe.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7942573538273671699.post-2570258148618848152</id><published>2011-04-18T11:43:00.000-07:00</published><updated>2011-06-10T04:25:51.086-07:00</updated><title type='text'>Nekromantik (1987)</title><content type='html'>(West Germany)&lt;br /&gt;Sutradara: Jörg Buttgereit &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rating:&lt;br /&gt;Erdiawan Putra &lt;br /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/-fAk7P9ws83M/TayFtMcNwKI/AAAAAAAAAGk/LImlyW7c1q8/s1600/star_pattern+copy0.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-TVgVWplfheY/TayF8CPVq2I/AAAAAAAAAGw/wFqiwi7juXA/s1600/vlcsnap-2011-04-19-01h37m44s63.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="290" src="http://3.bp.blogspot.com/-TVgVWplfheY/TayF8CPVq2I/AAAAAAAAAGw/wFqiwi7juXA/s400/vlcsnap-2011-04-19-01h37m44s63.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Oleh Erdiawan Putra &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Film horror yang mengangkat tema parafilia? Awalnya Saya pikir kalau sejauh itu bukan tentang scatofilia (bagi yang tidak tahu, itu adalah ketertarikan seksual terhadap feses), seharusnya akan baik-baik saja. Apalagi kalau hanya melakukan hubungan seks dengan mayat, mungkin Saya bisa menganggap adegan itu seksi. Ditambah juga sudah terbiasanya melihat film-film mondo. Tetapi ternyata Saya salah. Tanpa ada memperlihatkan feses pun, Nekromantik adalah salah satu film paling menjijikkan yang pernah Saya lihat. Mohon diperhatikan peringatan di awal filmnya sebelum melanjutkan menonton. Beberapa orang mungkin melihat film ini “grossly offensive”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Direkam menggunakan kamera super 8mm dengan biaya yang sangat rendah, Nekromantik adalah film panjang pertama karya sutradara asal Jerman, Jörg Buttgereit,  yang berikutnya membuat &lt;i&gt;The Death King (1990)&lt;/i&gt;—salah satu film horror favorit Saya sepanjang masa. Sejak peredarannya, sudah bisa ditebak kalau Nekromantik tentu memicu kontroversi yang&amp;nbsp; menjadi bahan pembicaraan selama lebih dari satu dekade karena keberaniannya untuk mengangkat tema taboo secara vulgar. John Waters pernah berkomentar bahwa Nekromantik adalah “film erotis pertama bagi para necrophile,” Kesuksesan film ini lengkap dengan status cult lantas diikuti dengan sebuah sekuel, &lt;i&gt;Nekromantik 2 (1991)&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“What lives that does not live from the death of someone else?” &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cerita Nekromantik adalah mengenai Rob Schmadtke (Daktari Lorenz), seorang pria yang bekerja sebagai pembersih mayat di jalanan. Pekerjaan ini begitu cocok dengan kelainan yang ia miliki, yaitu necrophilia, sehingga dalam berbagai kesempatan, ia mencoba membawa pulang organ yang tersisa dari mayat tersebut—dan kali ini, ia langsung membawa pulang sebuah mayat utuh untuk digunakan sebagai sosok baru dalam aktivitas seksualnya bersama pacarnya, Betty (Beatrice Manowski), yang juga seorang necrophile. Masalah mulai muncul ketika Rob kehilangan pekerjaannya, dan selanjutnya itu berdampak bagi hubungan romantis dan kehidupan seksualnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nekromantik memiliki properti dan efek make up yang sangat menunjang, dan itu juga secara tidak langsung didukung penggunaan kamera super 8 yang memberi kesan gambar tua. Lihat saja penggunaan cross-cutting antara fotage tetesan darah mayat dengan footage memasak daging. Dilanjutkan dengan adegan sarapan dimana sebagian penonton tidak akan bisa melihat kelezatan makanan mereka lagi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;Untuk selanjutnya, akan ada spoiler.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu adegan paling memorable dalam film ini adalah adegan threesome antara Rob, Betty dan si mayat. Rob memotong sebuah pipa yang akan dipakai sebagai pengganti penis berereksi sang mayat untuk Betty tunggangi. Dihadirkan dengan slow motion untuk menciptakan efek dramatis, dan diiringi musik instrumental piano yang romantis. Sejujurnya, di awal adegan ini, Saya menangkap kesan erotis sampai akhirnya Rob menghisap bola mata mayat itu, kesan itu bercampur dengan rasa jijik. Hebatnya, di sepanjang adegan seks ini, gestur Daktari dan Beatrice terlihat seperti benar-benar menikmati hubungan seks bersama mayat itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nekromantik lantas tidak sekedar menjadi film eksploitasi erotisme menyimpang bagi para penggemar horror. Buttgereit memasukkan nilai-nilai “artsy” di sini, necrophilia tetap ditunjukkan sebagai disorientasi seksual yang tidak lazim untuk dibuka, dan necrophile lebih dipandang secara manusiawi dengan membeberkan dampaknya ke dalam mental dan kehidupan sosial seseorang. Petunjuk awal mula bagaimana Rob mulai mencintai mayat sempat dijelaskan lewat tayangan TV tentang phobia, yang mengingatkannya terhadap memori masa kecil ketika kelinci kesayangannya disembelih, dikuliti dan dibedah secara brutal oleh ayahnya. Pada sebuah adegan di suatu bioskop kecil yang sedang memutar film slasher, sang sutradara ingin menunjukkan bahwa seseorang yang bahkan memiliki ketertarikan seksual terhadap mayat, ternyata sebenarnya bukanlah orang yang suka menyaksikan kekerasan. Rob sendiri tidak sanggup duduk di sepanjang film dimana orang-orang dengan orientasi seks yang lebih normal tampak menikmati film tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lebih jelas lagi terlihat pada adegan lain yang melibatkan prostitusi. Diceritakan bagaimana necrophilia itu sendiri sudah dirasa menjadi pengganggu kehidupan seksual Rob yang secara otomatis mempengaruhi turunnya libido ketika sedang bercinta dengan wanita hidup. Walaupun dia sudah mencoba ide untuk melakukan hubungan seks di kuburan yang diharapkan mampu merangsang gairahnya, namun penisnya tetap saja tidak bisa ereksi, dan alhasil ia ditertawakan seorang pelacur.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang terakhir adalah tentang bagian simbolis filmnya. Di akhir film, dalam usaha bunuh diri yang dilakukan Rob, footage dibantainya si kelinci peliharaan kembali muncul, tetapi kali ini diputar secara backward. Apa maksudnya? Dalam buku &lt;i&gt;Sex, Murder, Art: the films of Jörg Buttgereit (2002)&lt;/i&gt; tulisan David Kerekes, dijelaskan bahwa itu “mengilustrasikan apa yang dulu hancur, sekarang sudah dibangun kembali; luka lama bisa sembuh dan hal-hal buruk bisa berubah menjadi baik lagi,” Kematian?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7942573538273671699-2570258148618848152?l=cinemaexposure-reviews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/feeds/2570258148618848152/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2011/04/nekromantik-1987.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/2570258148618848152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/2570258148618848152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2011/04/nekromantik-1987.html' title='Nekromantik (1987)'/><author><name>Cinema Exposure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12014535301006601988</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='8' src='http://3.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TLtAXbNstRI/AAAAAAAAACI/Ezb3Bup_eDQ/S220/headerblog3+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-fAk7P9ws83M/TayFtMcNwKI/AAAAAAAAAGk/LImlyW7c1q8/s72-c/star_pattern+copy0.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7942573538273671699.post-105942488449795985</id><published>2011-04-16T08:35:00.000-07:00</published><updated>2011-06-22T20:25:10.894-07:00</updated><title type='text'>The Fall of the House of Usher (1928)</title><content type='html'>(USA)&lt;br /&gt;Sutradara: James Sibley Watson &amp;amp; Melville Webber&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rating&lt;br /&gt;Erdiawan Putra&lt;br /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt; &lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-QfGgdxe0urY/TamOtmGG--I/AAAAAAAAAGg/uF1ptxUXxo8/s1600/1241831073_2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="310" src="http://1.bp.blogspot.com/-QfGgdxe0urY/TamOtmGG--I/AAAAAAAAAGg/uF1ptxUXxo8/s400/1241831073_2.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebuah film avant-garde pendek yang berdasar pada cerita horror karya Edgar Allan Poe tahun 1839—juga sudah berkali-kali diadaptasi menjadi sebuah film. Sekedar memperjelas bagi yang kurang jeli, walaupun diangkat dari kisah yang sama, dan juga sama-sama dibuat tahun 1928, tapi ini film yang berbeda dengan adaptasi terkenal produksi prancis karya Jean Epstein itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Plotnya bercerita tentang seorang pelancong (Melville Webber) yang mengunjungi rumah milik kakak beradik Roderick (Herbert Stern) dan Madeline Usher (Hildegarde Watson) yang terkenal hidup di dalam kutukan keluarga. Kedatangan sang pelancong malam itu membawa dampak buruk bagi suasana rumah keluarga Usher yang terkutuk.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;The Fall of the House of Usher termasuk film avant-garde/eksperimental yang naratif―dan sebagai film bisu,&amp;nbsp; intertitle tidak digunakan dalam menyampaikan ceritanya. Sebenarnya diantara film-film dengan genre sejenis, yang biasanya menjadi poin plus di mata Saya adalah kreatifitas eksperimen visualnya, sering di atas plotnya sendiri. Dalam penggambarannya, Webber dan Watson banyak memvisualisasikan gambar-gambar abstrak yang estetik dan puitis khas film-film eksperimental, dan berhasil membangun citra halusinasi yang seperti mimpi, bahkan psychedelic.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di sini juga sangat terlihat pengaruh kental film-film dalam movement german expressionism seperti &lt;i&gt;The Cabinet of Dr Caligari (1920)&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Nosferatu (1922)&lt;/i&gt; dalam desain set-nya yang surreal, permainan cahaya serta pemanfaatan refleksi bayangan pada dinding. Perhatikan juga usaha mereka bereksperimen dalam penggunaan efek multiple exposure, slow motion, backwards, bahkan memutar kamera hingga mencapai sudut yang tak lazim. Sebuah adaptasi yang unik dari kisah gothic klasik tersebut, terlebih lagi, sebuah pengalaman visual sepanjang tiga belas menit yang sangat berkesan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7942573538273671699-105942488449795985?l=cinemaexposure-reviews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/feeds/105942488449795985/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2011/04/fall-of-house-of-usher-1928.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/105942488449795985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/105942488449795985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2011/04/fall-of-house-of-usher-1928.html' title='The Fall of the House of Usher (1928)'/><author><name>Cinema Exposure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12014535301006601988</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='8' src='http://3.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TLtAXbNstRI/AAAAAAAAACI/Ezb3Bup_eDQ/S220/headerblog3+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-QfGgdxe0urY/TamOtmGG--I/AAAAAAAAAGg/uF1ptxUXxo8/s72-c/1241831073_2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7942573538273671699.post-1044792761826514183</id><published>2011-04-15T12:11:00.000-07:00</published><updated>2011-04-18T13:52:33.704-07:00</updated><title type='text'>The Word  (1955)</title><content type='html'>Ordet&lt;br /&gt;(Denmark) &lt;br /&gt;Sutradara: Carl Theodor Dreyer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rating&lt;br /&gt;Yuki Aditya&lt;br /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;Erdiawan Putra&lt;br /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-9eqe7uYHqfg/TaiYKTJvhJI/AAAAAAAAAGU/KpSFr8syr8w/s1600/ordet_w.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://1.bp.blogspot.com/-9eqe7uYHqfg/TaiYKTJvhJI/AAAAAAAAAGU/KpSFr8syr8w/s400/ordet_w.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh Yuki Aditya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu pemenang dari penghargaan tertinggi Singa Emas dalam Festival Film Venice pada 1955. Sebagai perkenalan, dua sutradara terkenal dalam sirkuti film art-house internasional—Jean-luc Godard dan John Cassavetes pernah memproklamirkan bahwa Carl Dreyer adalah salah satu dari sutradara yang dapat memfilmkan “keajaiban” (dalam versi Godard sutradara lainnya adalah Alfred Hitchcock, sedangkan versi Cassavetes, sutradara lain tersebut adalah Frank Capra).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ordet adalah salah satu dari empat film berbicara yang disutradarai oleh Dreyer, yang juga merupakan empat feature film terakhir yang disutradarainya (yang lainnya adalah Vampyr, Day of Wrath, dan Gertrud, dengan pengecualian &lt;i&gt;Two People&lt;/i&gt; yang Dreyer sendiri menolak untuk mengakui sebagai salah satu film besutannya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dari film-film yang disutradarai Dreyer sebelumnya (&lt;i&gt;Passion of Joan of Arc&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Vampyr&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;Day of Wrath&lt;/i&gt;) yang menaturalkan pengalaman spiritual--dalam Ordet, Dreyer men-spiritualkan kehidupan sehari-hari (Ray Carney, &lt;i&gt;Speaking the Language of Desire: The Films of Carl Dreyer&lt;/i&gt;, hal. 175). Semua film Dreyer adalah eksplorasi terhadap persinggungan dari problematika kehidupan di luar akal sehat manusia dengan yang sesuatu yang lebih bersifat praktikal, dan juga sebuah pengamatan pada proses translasi dari satu dunia/alam yang satu ke yang lainnya; tetapi Ordet, lebih dibandingkan film Dreyer yang lainnya, mencoba merealisasikan tentang bagaimana pengalaman di luar akal sehat manusia dalam hal karakter dan peristiwa menjadi lebih dekat dengan pengalaman hidup sehari-hari kita sebagai penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dreyer menyoroti keseharian hidup dari sebuah keluarga yang kurang lebih adalah orang biasa sebagai subjeknya. Fokusnya adalah pada interaksi yang terjadi hari-ke-hari dari tiga generasi keluarga yang mempunyai peternakan tersebut, dimana praktik sosial keseharian mendefinisikan moral dari setiap anggota keluarga. Keluarga dalam film Dreyer yang lain bisa dikatakan sederhana dan skematis, tetapi Ordet adalah gambaran paling kompleks dari kelompok sosial paling batih ini. Sebuah keluarga yang terdiri dari tiga generasi, yang secara intim mengetahui betul baik-buruk prilaku dari setiap anggota keluarga tersebut sampai ke urat syaraf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Pt5X8z5h49A/TallPmPtj_I/AAAAAAAAAGc/aMtFDsd-YKo/s1600/vlcsnap-2011-04-16-06h47m17s177.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://1.bp.blogspot.com/-Pt5X8z5h49A/TallPmPtj_I/AAAAAAAAAGc/aMtFDsd-YKo/s400/vlcsnap-2011-04-16-06h47m17s177.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kepala keluarga itu bernama Morten Borgen (diperankan secara brilian oleh Henrik Malberg yang saat itu telah berusia 81 tahun) yang telah lama ditinggal mati istrinya dan sekarang menjalankan peternakan bersama tiga orang anak lelakinya, Mikkel, Johannes, dan Anders.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mikkel, anak tertua, menikah dengan Inger dan telah dikaruniai dua orang anak bernama Maren dan little Inger. Inger sedang mengandung anak ketiga mereka. Anak kedua Morten bernama Johannes sedang mengalami gangguan kejiwaan sepulangnya dari suatu sekolah seminari. Penyakit kejiwaan yang diderita oleh Johannes ditunjukkan oleh perilakunya yang selalu menuturkan doa serta ramalan yang mengutip dari kitab suci Injil, dan juga Johannes menganggap dirinya adalah Yesus. Anak termuda bernama Anders dimana lebih lanjut dalam film terungkap sedang jatuh cinta kepada gadis dari peternakan tetangga yang secara kebetulan berasal dari sekte agama berbeda dengan yang dianut oleh keluarga Morten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kekacauan kondisi psikologisnya, Johannes seperti kehilangan tempat dalam jalinan kehidupan keluarga itu, dia menjadi beban dan mendapat perhatian khusus dari anggota keluarga lainnya. Seiring bertambahnya usia, Mikkel mulai mempertanyakan dan mempertentangkan kepercayaan agama yang dipegang teguh oleh ayahnya itu dengan kegetiran dan kekecewaan yang diutarakannya dengan&amp;nbsp; kata-kata. Bahkan Anders yang paling muda pun mulai berani mengambil resiko untuk menerima kemarahan dari sang ayah karena serius menjalani hubungan dengan gadis tetangganya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;SPOILER ALERT!!!&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-FmIQx9JQRNg/TalkzRCj9MI/AAAAAAAAAGY/r4NNrVck69I/s1600/vlcsnap-2011-04-16-06h49m39s80.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://4.bp.blogspot.com/-FmIQx9JQRNg/TalkzRCj9MI/AAAAAAAAAGY/r4NNrVck69I/s400/vlcsnap-2011-04-16-06h49m39s80.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sebagai konsekuensi logis dari kekecewaan atas perilaku anak-anaknya,  Morten merasa terasing, begitu pula sebaliknya ketiga anak itu merasa  hal yang sama terhadap ayah mereka. Morten merasa mereka murtad dan  mengkhianati dirinya, serta mulai menghadapi krisis kepercayaan diri  terhadap keyakinan agama dan makna dari kehidupannya saat ini. Dalam  kondisi batin yang goyah dan rapuh, hanya inger, menantunyalah yang  senantiasa hadir melayani, membantu, menghibur serta mengkritisinya  dengan cara yang halus. Inger menjadi sosok sentral yang dapat menjadi  penenang dan yang menjembatani setiap konflik yang muncul. Inger adalah  sebuah representasi dari bentuk cinta dalam kapasitasnya untuk  menyembuhkan luka batin, merekatkan kembali hubungan persaudaraan, dan  menerima perbedaan. Dengan kata lain bagi pribadi Morten yang sekarang  Inger adalah sosok pengganti istrinya yang telah wafat dan alasannya  untuk tetap kuat dalam menjalani hidup dan keyakinannya. Oleh karena  itulah ketika berita sakit parahnya Inger sampai ke kuping Morten, laksana  petir di siang bolong yang mempengaruhi secara kuat juga terhadap  keyakinannya terhadap Tuhan dan ajaran yang telah dia taati dan jalani  sebaik-baiknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengutip ungkapan yang pernah dikemukakan oleh seorang teman bahwa “Tuhan menolong kita saat susah agar kita yakin akan kekuatan-Nya, dan Tuhan tidak menolong kita saat susah karena Dia percaya akan kekuatan kita”, dan Dreyer memberikan tes yang amat berat untuk dipercayai oleh suatu keluarga yang dipimpin oleh orang yang sangat relijius, dan juga mempertanyakan kepada penonton untuk memberikan reaksi sebagai cerminan diri kita dalam menghadapi situasi dan kondisi yang sama dialami oleh keluarga itu. Nalar dikontradiksikan dengan keyakinan dan pengharapan, dan juga terhadap hubungan antara darah dan daging dengan roh. Apa guna berdoa dan berbakti siang-malam terhadap suatu keyaknian bila cobaan berat masih dapat menghampiri juga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebangkitan Inger dari mati surinya dengan bantuan kata (The Word) dari Johannes secara ironis merupakan kegagalan Inger sebagai negosiator dalam kehidupan sosial semasa dia hidup, digambarkan berhasil mempersatukan cinta dan kebahagiaan dalam keluarga tersebut ketika telah meninggal, atau melalui efek imajinatif terhadap orang-orang yang berada dalam sekitar kehidupannya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;SPOILER END&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menggunakan long panning, long take, dan komposisi serta framing yang seksama, Dreyer menguji dan mengeksplorasi sifat dasar dari dari “faith” atau keyakinan yang universal walau penggambarannya melalui sebuah keluarga yang menganut ajaran agama tertentu. Pada akhirnya, Dreyer berada pada grup sutradara yang lebih memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada kita (baik spiritual, praktikal, maupun di antaranya) dibanding menjawabnya sendiri. Jawaban pribadi kita akan muncul dalam kesunyian dan introspeksi. Karena Ordet, mengutip Roger Ebert “stands utterly and fearlessly alone”.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7942573538273671699-1044792761826514183?l=cinemaexposure-reviews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/feeds/1044792761826514183/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2011/04/ordet-1955.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/1044792761826514183'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/1044792761826514183'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2011/04/ordet-1955.html' title='The Word  (1955)'/><author><name>Cinema Exposure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12014535301006601988</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='8' src='http://3.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TLtAXbNstRI/AAAAAAAAACI/Ezb3Bup_eDQ/S220/headerblog3+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-9eqe7uYHqfg/TaiYKTJvhJI/AAAAAAAAAGU/KpSFr8syr8w/s72-c/ordet_w.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7942573538273671699.post-8553865017090381265</id><published>2011-01-03T15:01:00.000-08:00</published><updated>2011-01-03T22:09:27.984-08:00</updated><title type='text'>Top 10  2010</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;span style="color: white;"&gt;Oleh Yuki Aditya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Blind Spots&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; &lt;i&gt;(Film rilisan 2010 yang kira-kira bakal saya suka tapi belum ditonton dan mungkin akan menyelinap di top 10 list tahun depan):&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cyrus (Mark Duplass), Everyone Else (Maren Ade), Bluebeard (Catherine  Breillat), The Tree (Julie Bertucelli), Daddy Longlegs (Josh and Ben  Safdie), Nostalgia for the Light (Patricio Guzmán), Poetry (Lee  Chang-dong), I Am Love (Luca Guadagnino), The Arbor (Clio Barnard),  Aurora (Cristi Puiu), Another Year (Mike Leigh), The Autobiography of  Nicolae Ceausescu (Andrei Ujica), Winter Vacation (Li Hongqi), The End  of the World Starts With One Lie – First Part (Lech Kowalski), Mysteries  of Lisbon (Raúl Ruiz), The Ditch (Wang Bing), Meek’s Cutoff (Kelly  Reichardt), Putty Hill (Matthew Porterfield), The Peddler (Eduardo de la  Serna, Lucas Marcheggiano &amp;amp; Adriana Yurkovich), What I Love the  Most (Delfina Castagnino), Condolences (Ying Liang), Toujours moins (Luc  Moullet), Father of My Children (Mia Hansen-Løve), My Joy (Sergei  Loznitsa), Pouta (Radim Spacek), Silent Souls (Aleksei Fedorchenko),  Boxing Gym (Frederick Wiseman)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Top 10 2010 where the number 10 actually consists 12 films.&lt;br /&gt;Films listed are either released in 2009 or 2010 which seen in 2010.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;10. l. Henri-Georges Clouzot's Inferno (Serge Bromberg &amp;amp; Ruxandra Medrea Annonier, France)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;img alt="" border="0" height="205" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/hs043.snc6/167324_1720777215971_1134524411_1969998_6968015_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ini  adalah dokumenter dari pembuatan Inferno (1964) salah satu film di  penghujung karir Clouzot, sutradara yang juga terkenal sebagai  Hitchcock-nya Perancis dan atas film-filmnya seperti Quai des Orfevres  (1947), The Wages of Fear (1954) dan Les Diaboliques (1955). Yang  menarik adalah Inferno tidak sempat diselesaikan oleh Clouzot karena  terlalu ambisius untuk mencapai kesempurnaan dari segi teknis sehingga  mulai dari aktor sampai studio yang menyokong pendanaannya ikut mundur  di tengah-tengah shooting. Inferno dimaksudkan oleh Clouzot sebagai  filmnya yang paling personal, karena berdasar pengalaman pribadinya yang  mempunyai istri-istri cantik dan jauh lebih muda sehingga dirasuki oleh  rasa cemburu yang amat sangat. Permasalahannya adalah saya lebih  mengagumi apa yang telah dilakukan oleh Clouzot dalam mencurahkan daya  kreasinya terhadap pembuatan Inferno dibanding mengingat ini adalah  dokumenter yang dibuat oleh Bromberg dan Annonier. Tetapi percayalah,  kumpulan-kumpulan footage yang ditampilkan dalam dokumenter ini secara  visual masih terasa extravagant dan ambisius bahkan jika dibandingkan  dengan film-film rilisan terbaru.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;10. k. The Ghost Writer (Roman Polanski, USA)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;img alt="" border="0" height="203" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs1393.snc4/164526_1720766295698_1134524411_1969948_3137048_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang  menarik dari The Ghost Writer adalah latar belakang politiknya  digunakan hanya untuk penggalian karakter dibanding menjadikannya murni  sebagai sebuah film politik. Salah satu ending terbaik tahun 2010.&lt;br /&gt;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt; 10. j. Film Socialisme (Jean-luc Godard, France)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;img alt="" border="0" height="400" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs787.ash1/167733_1720767135719_1134524411_1969953_7159821_n.jpg" width="280" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Film  Socialisme mungkin adalah yang paling enigmatic dalam list ini, bahkan  dibanding dengan Uncle Boonmee sekalipun. Kekisruhan yang terjadi pada  perhelatan Festival Film secara visual Cannes 2010 masih belum juga  redup sampai sekarang dimana Godard dengan sengaja memberi subtitle  Inggris terhadap film ini dengan gaya Navajo English dimana setiap  dialog atau voice-over tidak lengkap disajikan kata per-kata melainkan  intinya saja. Terbagi menjadi tiga bagian, Film Socialisme (merunut  niatan Godard) dapat ditangkap sebagai sebuah kritik sosial, ekonomi,  politik atau tentang semuanya yang dirangkai oleh imaji-imaji indah  dalam sebuah kapal pesiar, keseharian dalam suatu daerah peternakan,  serta potongan-potongan footage dari film-film klasik atau newsreel dari  masa lampau. Apakah ini adalah "swan song" dari JLG? Yang pasti  kekonsistenannya terhadap film sebagai media kritisi juga sebagai  inovasi tehnik bercerita merangkum dan mendefinisikan keseluruhan  ouevre-nya.&lt;br /&gt;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;10. i. Certified Copy / Copie Conforme (Abbas Kiarostami, France/Italy)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;img alt="" border="0" height="265" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs1366.snc4/163861_1720760455552_1134524411_1969931_1738528_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kiarostami  goes Cosmopolitan! Feature terakhir dari Kiarostami ini tidak kalah  experimentalnya dengan feature-feature lain yang dia rilis semenjak  kebosanannya untuk ikut serta dalam film festival. Menengok sedikit ke  belakang mulai dari Ten (2002) yang hanya ber-setting di dalam mobil  sepanjang film, Five Dedicated to Ozu (2003) yang tanpa dialog dan  merupakan suatu tableaux-vivants dari landscape dan binatang, maupun  Shirin (2009) yang hanya menangkap perubahan emosi dari mimik muka para  wanita yang sedang menonton sebuah film di bioskop, kali ini Kiarostami  bermain dengan ambiguitas dalam penokohan dan memori. Terinspirasi dari  kegagalan pernikahannya sendiri, Certified Copy juga merupakan suatu  observasi dari pertanyaan "bagaimana jika" dan "which works and which  dont" dari pengalaman traumatis tersebut.&lt;br /&gt;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;10. h. Gecko / Tokek (Anggun Priambodo, Indonesia) segment from the omnibus Belkibolang&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;img alt="" border="0" height="300" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs049.snc4/34804_1720745295173_1134524411_1969896_8261308_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Baca reviewnya di &lt;a href="http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2010/12/belkibolang-2010.html" style="color: #999999;" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;sini&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: #eeeeee;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;10. g. Hahaha (Hong Sang-soo, South Korea)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;img alt="" border="0" height="400" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/hs063.snc6/167298_1720770095793_1134524411_1969959_714069_n.jpg" width="279" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hong  Sang-soo dapat dikatakan sebagai master filmmaker yang tampak redup  oleh bayang-bayang meledak dan kehebohan industri perfilman Korea  Selatan dibanding dengan nama Park Chan-Ok, Kim Ki-duk, Bong Joon-ho,  dan lain-lain. Drama dalam film-film Hong adalah romansa yang intim  dalam keseharian hidup karakter-karakternya. Dimana yang pria  digambarkan "jerk" dan yang wanita menikmati "assholism" pria-pria itu  karena itu adalah hak mereka. Dua pria yang telah lama bersahabat  bertemu karena salah satu dari mereka akan segera pindah ke Kanada.  Masing-masing pria menceritakan pengalaman mereka ketika kebetulan  sedang mengunjungi satu kota yang sama tanpa saling tahu sebelumnya.  Dialog-dialognya yang natural, dan sense Hong dalam timing dan lapsing  editing-nya yang kuat membuat film ini tidak butuh lagi embellishment  yang macam-macam untuk menjadi lebih sentimental atau menyentuh lagi.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;10. f. The Man's Woman and Other Stories / Aadmi Ki Aurat Aur Anya Kahaniyaan (Amit Dutta, India)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;img alt="" border="0" height="320" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs1373.snc4/164516_1720737894988_1134524411_1969859_5667767_n.jpg" width="256" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak  se-"puitis" Kramasha, film pendek yang melambungkan nama Amit Dutta  dalam Oberhausen Film Festival, namun tetap dengan shot-shot indah  dengan nuansa warna pastel dan pergerakan kamera yang membuat bangga  Orson Welles dan Gregg Toland. Film ini terdiri dari tiga cerita tentang  usaha pria-pria mencapai tujuan berdasar ego dan niat baik yang  mempunyai konsekuensi layaknya dua sisi uang logam. Naif dalam humor dan  sederhana dalam narasi namun kuat dalam keseluruhan, Amit Dutta is  arguably the next best thing which would happen in the future cinema  industry.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt; 10. e. Tuesday, After Christmas / Marti, Dupa Craciun (Radu Munteanu, Romania)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;img alt="" border="0" height="168" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs058.ash2/36253_1720783896138_1134524411_1970014_8359361_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak  terhitung banyaknya film yang telah mendokumentasikan mengenai  perselingkuhan dalam pernikahan, tetapi tidak banyak yang bisa lari dan  menghindari cliche yangmomen biasa menghantui tema tersebut. Yang  membuat film ini stand-out adalah bagaimana Munteanu secara  non-judgmental dan sabar menampilkan kontinuitas setiap small striking  moment seperti senang dan canggung yang muncul akibat hubungan itu,  tanpa dialog-dialog dan amarah berlebihan serta masih adanya secercah  harapan dari situ. The charm of The Romanian New Wave hasnt dissipated  yet.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;10. d. Mother / Madeo (Bong Joon-ho, South Korea)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;img alt="" border="0" height="170" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs796.ash1/168607_1720782536104_1134524411_1970012_6338937_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa  yang mencuri hati saya terhadap film ini adalah bagaimana Bong  memposisikan kita sebagai penonton sama "clueless"nya dengan para  detektif, dan juga seorang ibu yang secara obsesif hendak menyelamatkan  anaknya yang cacat mental dari tuduhan pembunuhan dengan cara apapun.  Editing, penggunaaan suara, dan pace yang dibentuk Bong untuk narasinya  yang layaknya mengupas kulit jeruk menunjukkan dia adalah salah satu  expert dalam hal craftmanship. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;10. c. The Wild Grass / Les Herbes Folles (Alain Resnais, France)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;img alt="" border="0" height="168" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/hs016.snc6/166646_1720787856237_1134524411_1970021_682782_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penuh  energi dan vitalitas, dan menolak untuk diinterpretasikan secara  gamblang mungkin perasaan yang muncul setelah menyaksikan film ini.  Dengan cast berbakat macam Sabine Azema dan Andre Dusollier, Resnais  yang juga salah satu "old master" dalam industri perfilman dunia,  membawa kita ke dalam dunia l'amour fou antara orang-orang tua yang  penuh misteri, "delirious", dan kejutan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;10. b. Trash Humpers (Harmony Korine, USA)&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/hs026.snc6/165695_1720786576205_1134524411_1970019_8140938_n.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="266" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/hs026.snc6/165695_1720786576205_1134524411_1970019_8140938_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sulit  untuk mendeskripsikan Trash Humpers atau film-film Korine yang  lain,  karena film ini lebih merefleksikan mood dibanding  membuat suatu  poin  penting dalam ceritanya. Trash Humpers lebih cocok disebut  sebagai suatu  pengalaman atau mengintip kehidupan dan kegiatan dari  sekumpulan  anarchist yang hobinya merusak barang-barang dan bersanggama  dengan  kantung sampah, dan ya judul film ini bermakna literal. Diedit   menggunakan VHS, film terbaru Korine ini mempunyai visual layaknya   sebuah film tua yang tidak sengaja kita temukan didalam tong sampah, dan   itu memang tujuan utama Korine, sebagai suatu artifak. Kita dapat   menertawakan, menghina, merasa tersindir, mencela, atau terganggu dengan   kelakuan mereka, tetapi satu hal yang penting, hal tersebut menjadikan   kita sebagai penonton yang aktif untuk menilai karakter-karakter   tersebut dibanding menilainya sebagai sebuah film.&lt;br /&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;10. a.  Blind Pig Who Wants to Fly / Babi Buta Yang Ingin Terbang (Edwin, Indonesia)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="400" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs1375.snc4/164753_1720745855187_1134524411_1969898_287624_n.jpg" width="322" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Baca reviewnya di &lt;a href="http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2010/10/blind-pig-who-wants-to-fly-2008.html" style="color: #999999;" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;sini.&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;9.  About Elly (Asghar Farhadi, Iran)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;img alt="" border="0" height="212" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs1388.snc4/164084_1720761695583_1134524411_1969936_911134_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemenang  Golden Bear di Festival Film Berlin 2009 ini mengisahkan tentang suatu  liburan dari sekelompok keluarga muda yang berubah menjadi bencana  karena salah satu dari mereka hilang dan diasumsikan tenggelam di laut.  Jelas terinspirasi langsung dari L'Avventura-nya Michelangelo Antonioni  (1959), About Elly lebih merupakan pengupasan "warna asli" dari  masing-masing pribadi dalam menanggapi musibah yang mendera mereka  dibanding murni sebagai film investigasi dan pencarian teman mereka Elly  yang hilang. Its action takes place in every character's heartbeat.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;8.  Alamar (Pedro González-Rubio, Mexico)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;img alt="" border="0" height="225" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs762.ash1/165395_1720739935039_1134524411_1969870_1025955_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keindahan  Alamar bukan hanya terletak dari landscape lautan dan pantai yang  menjadi latar belakang cerita tentang ikatan ayah-anak yang dalam  kesehariannya terpisah karena sang sang ayah dan ibu hidup terpisah,  namun juga pada "subtlety" penyajian hubungan mereka, dimana rasa sedih  dan perih hadir disaat canda tawa mereka, dan menyentuh di saat sang  anak menangis, teramu dan tercampur rapih dalam tipisnya perbedaan  antara dokumenter dan fiksi dalam gaya penyutradaraan González-Rubio.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;7.  Oxhide II (Liu Jiayin, China)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;img alt="" border="0" height="167" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/hs077.snc6/168756_1720786056192_1134524411_1970017_7056099_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menonton  Oxhide bagian pertama wajib hukumnya sebelum mengapresiasi installment  kedua dari Jiayin yang terkenal sederhana dalam gaya visualnya, dan  cermat dalam membangun karakternya. Jika dalam bagian pertama Jiayin  mengisahkan keseharian dari suatu keluarga kecil yang penghasilan  utamanya dari berjualan kerajinan dari bahan kulit melalui elliptical  editing yang time-framing-nya melompat namun tetap memberikan gambaran  utuh tentang situasi dan kondisi kehidupan mereka, maka pada bagian  kedua ini diceritakan secara real-time pada momen mereka bersama sedang  membuat dim sum dari awal sampai dimakan tentang kelanjutan usaha  kerajinan mereka. Jiayin lebih terobsesi terhadap kontinuitas pengadegan  dimana satu adegan dapat berlangsung hingga belasan menit, dan drama  dalam film-nya lebih muncul dari gesture sebagai reaksi terhadap  masing-masing karakter di banding dari "outspoken" dialog. Ini adalah  suatu bentuk sinema sebagai emulsi dari objek-objek yang terdengar dan  terlihat tidak menarik dihandle, heightened, dan diusahakan sebagai  jendela menakjubkan untuk mengintip personalitas setiap karakternya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;6.  Tetro (Francis Ford Coppola, USA)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;img alt="" border="0" height="320" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs1376.snc4/164809_1720765775685_1134524411_1969945_3452105_n.jpg" width="248" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita  dapat merasakan bahwa Tetro adalah film yang personal dari Coppola,  dimana passion dan kegembiraan hadir menjadi bagian penting dalam proses  pembuatannya. Dibiayai sendiri dari keuntungan perusahaan wine-nya dan  merupakan film pertamanya yang menggunakan naskah aslinya sendiri  semenjak The Conversation (1974), Tetro mengisahkan tentang  "nitty-gritty"nya persaingan  dalam suatu keluarga seniman, dengan  Vincent Gallo yang dikenal sebagai "anak nakal" di industri perfilman  Amerika sebagai Angie Tetro anak tertua yang telah lama menghilang dalam  keluarga tersebut, dan sedang dicari jejak dan ceritanya oleh sang  adik. Akting yang operatic, di-shoot dalam hitam-putih kental dengan  suasana Baroque, serta homage kepada banyak bentuk karya seni lainnya  selain film, Coppola mencoba untuk menemukan jati dirinya kembali ("I  want to learn to make movie" he said) sebagai seniman yang independen,  bekerja lepas dari tekanan Hollywood. Yang satu ini datangnya dari hati,  saya suka sekali.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;5.  La Danse: The Paris Opera Ballet (Frederick Wiseman, France)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;img alt="" border="0" height="241" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs1395.snc4/164737_1720778656007_1134524411_1970002_8054088_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pembuat  film dokumenter veteran Frederick Wiseman mengabadikan momen rehearsal  penari-penari balet di Paris untuk sebuah pertunjukkan gala dinner yang  diperuntukkan kepada penyandang dana institusi balet tersebut. Seperti  dokumenter Wiseman sebelumnya, La Danse juga dibumbui dengan drama  mengenai etika lazim dalam institusi tersebut yang ditunjukkan dalam  banyak scene rapat, dialog, dan diskusi dari semua stakeholders-nya.  Atraktif dan menghibur melalui penampilan balet tradisional sampai yang  telah dicampur dengan pengaruh pop-culture lewat musik electronic.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;4.  Honey / Bal (Semih Kaplanoglu, Turkey)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;img alt="" border="0" height="286" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/hs014.snc6/166455_1720771255822_1134524411_1969966_3100661_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Installment  terakhir dari Yusuf Trilogy ini dapat dibilang lebih sedih dibanding  bagian pertama yaitu Egg (havent seen Milk yet), karena film ini tentang  bagaimana seorang anak kecil harus menerima kenyataan atas kematian  ayahnya yang juga adalah sahabat terbaiknya. Minim dialog namun efektif,  kualitas puitis dan rasa sedih yang mendalam dituangkan lewat visual  melalui tatapan, gesture, mimpi, dan detail keseharian prilaku sang  anak. Beautifully shot, paced with patience, the film takes a wondrous spiritual journey of the child's most somber experience.&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;3.  Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives (Apichatpong Weerasethakul, Thailand)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="320" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs1373.snc4/164546_1720816536954_1134524411_1970135_3931264_n.jpg" width="221" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Baca reviewnya di &lt;a href="http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2010/12/uncle-boonmee-who-can-recall-his-past.html" style="color: #999999;" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;sini&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: #eeeeee;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;2.  I Wish I Knew (Jia Zhangke, China)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;img alt="" border="0" height="174" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/hs065.snc6/167521_1720773015866_1134524411_1969975_4521164_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;I  Wish I Knew menggabungkan antara wawancara dengan tokoh-tokoh penting  dari masa lampau, cuplikan-cuplikan dari film, serta sebuah drama fiksi  tanpa dialog untuk menceritakan kota Shanghai dan perkembangannya.  Peristiwa-peristiwa krusial dalam sejarah Shanghai maupun pengalaman  personal dari subjek yang di wawancara memberikan suatu gambaran mulai  dari aspek politik, ekonomi, budaya, dan sosial di masa lampau,  ketimbang membuat dikotomi antara masa lalu dan masa sekarang seperti  film-filmnya sebelum ini. Zhao Tao, yang selalu hadir dalam setiap film  Jia, berperan sebagai seorang wanita yang berjalan mengelilingi  objek-objek seperti suangi Su Zhou yang telah berubah maupun pelabuhan  tua yang masih berfungsi dengan baik, sebagai observer yang secara  abrupt muncul dan menghantui penonton di antara adegan. The movie is  about whatever impression you leave it with, after a slight taste of the  bitterness and exuberant evidences just promulgated elegantly by one of  the most prominent figure in China's digital movement.&lt;b style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;1.  Mother and Child (Rodrigo Garcia, USA)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;b style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt; &lt;img alt="" border="0" height="266" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs764.ash1/165514_1720785136169_1134524411_1970016_7260664_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mother and Child adalah film yang menyentuh saya paling dalam di 2010.  It's a profound meditations on the past and present regarding the themes  of womanhood, parenthood, and childhood. Juga sebuah character study  yang mengandalkan detail dari masing-masing personality traits tiga  karakter utamanya yang saling berhubungan tetapi tidak mengenal secara  langsung. Naomi Watts berperan sebagai wanita yang dibesarkan bukan oleh  ibu kandungnya sendiri, dan sekarang merasa sebagai wanita yang  independen. Keri Washington sebagai wanita yang selalu mempertanyakan  motif utama mengapa dirinya dan sang suami harus mengadopsi seorang  bayi. Annette Bening adalah ibu kandung dari wanita yang diperankan oleh  Watts, dan menitipkan bayinya di panti asuhan karena melahirkan di usia  sangat muda. Ketiga-nya mempunyai masa lalu yang pahit, mencoba tetap  kuat, namun tidak pernah menyesali keputusan yang telah mereka ambil,  dan mencari redemption dengan jalan yang sebatas mereka tahu dan mampu.  It doesn't mock their efforts, sentimental as they are, because it  understands them and sympathizes.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;20 Blasts from the Past &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;(&lt;i&gt;Favorite  films first seen in 2010 which were released before 2009 and also my  first experience with the director's body of work, except Keaton whom I  loved recently &lt;/i&gt;):  &lt;br /&gt;Helsinki, Forever / Helsinki, Ikuisesti (Peter von Bagh, Finland, 2008)&lt;br /&gt;Extraordinary Stories / Historias Extraordinarias (Mario Llinas, Argentina, 2008)&lt;br /&gt;Nights and Weekends (Joe Swanberg &amp;amp; Greta Gerwig, USA, 2008)&lt;br /&gt;Unas Fotos en la Ciudad de Sylvia (Jose Luis Guerin, Spain/France, 2007)&lt;br /&gt;Bamako (Abderrahmane Sissako, Mali, 2006)&lt;br /&gt;Old Joy (Kelly Reichardt, USA, 2006)&lt;br /&gt;Porn Theater / La Chatte a Deux Tetes (Jacques Nolot, France, 2002)&lt;br /&gt;The Mad Songs of Fernanda Hussein (John Gianvito, USA, 2001)&lt;br /&gt;Fate / Yazgi (Zeki Demirkubuz, Turkey, 2001)&lt;br /&gt;Human Remains (Jay Rosenblatt, USA, 1999)&lt;br /&gt;The Power of Kangwon Province (Hong Sang-soo, South Korea, 1998)&lt;br /&gt;Mother Dao, The Turtlelike (Vincent Monnikendam, Netherlands, 1995)&lt;br /&gt;Africa, I Will Fleece You (Jean-Marie Teno, Cameroon, 1993)&lt;br /&gt;A Little Stiff (Caveh Zahedi &amp;amp; Greg Watkins, USA, 1991)&lt;br /&gt;Adieu Philippine (Jacques Rozier, France, 1963)&lt;br /&gt;Enclosure / L'Enclos (Armand Gatti, France, 1961)&lt;br /&gt;Love is My Profession / En Cas de Malheur (Claude Autant-Lara, France, 1958)&lt;br /&gt;Mutter Krausens Fahrt ins Gluck / Mother Krausen's Journey to Happiness (Phil Jutzi, Germany)&lt;br /&gt;Seven Chances (Buster Keaton, USA, 1925)&lt;br /&gt;Les Vampires (Louis Feuillade, France, 1915)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7942573538273671699-8553865017090381265?l=cinemaexposure-reviews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/feeds/8553865017090381265/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2011/01/top-10-2010.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/8553865017090381265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/8553865017090381265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2011/01/top-10-2010.html' title='Top 10  2010'/><author><name>Cinema Exposure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12014535301006601988</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='8' src='http://3.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TLtAXbNstRI/AAAAAAAAACI/Ezb3Bup_eDQ/S220/headerblog3+copy.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7942573538273671699.post-7992955686709203091</id><published>2010-12-10T09:57:00.000-08:00</published><updated>2010-12-10T10:08:50.757-08:00</updated><title type='text'>Enter the Void (2009)</title><content type='html'>(Prancis/Jerman/Italia)&lt;br /&gt;Sutradara: Gaspar Noé&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rating:&lt;br /&gt;Yuki Aditya&lt;br /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img651.imageshack.us/img651/5060/starpatternhalf.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img707.imageshack.us/img707/9319/starpatterncopy0.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TQJrFYEtWoI/AAAAAAAAAFw/pzeF2j2PRwo/s1600/enter_the_void-podcast.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="270" src="http://2.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TQJrFYEtWoI/AAAAAAAAAFw/pzeF2j2PRwo/s400/enter_the_void-podcast.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;// 11 Desember 2010&lt;br /&gt;Oleh Yuki Aditya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gaspar Noe membawa kita ke dunia indah dengan warna-warni fluorescent tentang kepedihan sepasang kakak-beradik yang sedang beranjak dewasa setelah kecelakaan mengenaskan yang menewaskan kedua orang tua mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdampar di Tokyo, keduanya menjalani kehidupan brutal dekat dengan narkoba dan seks bebas, kamera Noe menginvasi kehidupan mereka dari tiga sudut pandang yaitu sudut pandang orang pertama, sudut pandang Noe sebagai sutradara, serta dari sudut pandang Tuhan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Usaha penyutradaraan Noe setelah hibernasinya 8 tahun semenjak merilis Irreversible banyak ditunggu dan tidak akan mengecewakan penggemarnya. Dengan graphic sex encounter yang lebih banyak namun sedikit tampilan kekerasan dibanding Irreversible, Enter the Void dapat didapuk langsung sebagai cult classic.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7942573538273671699-7992955686709203091?l=cinemaexposure-reviews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/feeds/7992955686709203091/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2010/12/enter-void-2009.html#comment-form' title='14 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/7992955686709203091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/7992955686709203091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2010/12/enter-void-2009.html' title='Enter the Void (2009)'/><author><name>Cinema Exposure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12014535301006601988</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='8' src='http://3.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TLtAXbNstRI/AAAAAAAAACI/Ezb3Bup_eDQ/S220/headerblog3+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TQJrFYEtWoI/AAAAAAAAAFw/pzeF2j2PRwo/s72-c/enter_the_void-podcast.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>14</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7942573538273671699.post-7357002068391836779</id><published>2010-12-09T04:47:00.000-08:00</published><updated>2010-12-09T05:13:21.940-08:00</updated><title type='text'>Belkibolang (2010)</title><content type='html'>(Indonesia)&lt;br /&gt;Sutradara: Agung Sentausa, Ifa Isfansyah, Tumpal Tampubolon, Rico Marpaung, Anggun Priambodo, Azhar Lubis, Wisnu Surya Pratama, Edwin, Sidi Saleh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TQDP0gFp2CI/AAAAAAAAAFI/hrpcsPgnYqA/s1600/155104_1681173825911_1134524411_1875410_4193105_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="236" src="http://1.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TQDP0gFp2CI/AAAAAAAAAFI/hrpcsPgnYqA/s400/155104_1681173825911_1134524411_1875410_4193105_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;// 9 Desember 2010&lt;br /&gt;Oleh Yuki Aditya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika Paris dan New York mempunyai film anthology-nya sendiri ("Paris Je T'aime" dan "New York I Love You"), maka Belkibolang dapat dianalogikan juga sebagai Aku Cinta Kamu Jakarta. Yang membedakan adalah Belkibolang juga merupakan anthology personal tentang kota Jakarta tercinta ini dari Titin Wattimena penulis skenario yang akrab kita kenal melalui banyak film romantis belakangan ini. Dengan skenario yang semuanya ditulis oleh Titin sendiri, sembilan sutradara mengekspresikan pemahaman mereka terhadap masing-masing kisah dalam surat "cinta" Titin terhadap Jakarta. Hasilnya bervariasi dalam segi tone dan mood yang ditimbulkan, mulai dari yang menasehati, menggairahkan, segar sampai yang menimbulkan kesan hanya begitu saja. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lazimnya sebuah film omnibus, semua segmen dipastikan mempunyai keterkaitan atau benang merah yang sama. Belkibolang sendiri lebih menampilkan Jakarta dari sisi pribadi atau potongan kehidupan dari  segelintir manusia-manusia yang menghuninya dibanding sebagai suatu kritik sosial. Dilihat dari permukaan, iya ini adalah kumpulan cerita tentang Jakarta dan sekelumit problematika yang terjadi di ranah pribadi masing-masing segmen dimana tiap karakternya dapat dikatakan tidak saling mengenal satu sama lainnya. Tetapi satu hal yang menggelitik adalah bagaimana arti kata Belkibolang yang merupakan suatu singkatan biasa  digunakan sebagai salah satu dari rambu lalu-lintas yang artinya Belok Kiri Boleh Langsung, dibuat "nyeleneh" dengan diartikan sebagai Belok Kanan Boleh Langsung yang tertera pada postcard pemutaran perdana film ini. Sehingga bisa dikatakan film ini juga merupakan upaya masing-masing cerita dan sutradara mencari "jalan" nya berdasar signature pribadi mereka, secara teknis, gaya bercerita, maupun atmosfir, salah satu bukti teori Auteurs itu ada.&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TQDUHWfxwrI/AAAAAAAAAFM/r4dFoKa57kU/s1600/162829_1681175585955_1134524411_1875413_7170194_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="223" src="http://4.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TQDUHWfxwrI/AAAAAAAAAFM/r4dFoKa57kU/s400/162829_1681175585955_1134524411_1875413_7170194_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dibuka dengan "Payung", Agung Sentausa memutar kembali adegan yang sama dari seorang pria dengan kondisi hati dan pandangan yang telah sedikit berubah dan buat saya pribadi mempunyai kualitas pencahayaan terbaik dari segmen lainnya. Seorang pria menghabiskan waktu di pinggir jalan karena hujan lebat yang mengguyur Jakarta, tak ada yang peduli sampai seorang anak kecil yang menjajakan jasa ojek payung menghampirinya. Persahabatan mereka singkat tapi menumbuhkan kesan mendalam  bagi pria itu, dan kesan itu ditimbulkan dari aspek "redemption" ketika dia mulai merasakan adanya "organisme" lain yang selama ini tidak pernah dia pikirkan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TQDUTqtVlmI/AAAAAAAAAFQ/H0l5AkejWNI/s1600/34824_1681175945964_1134524411_1875414_5479416_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="223" src="http://1.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TQDUTqtVlmI/AAAAAAAAAFQ/H0l5AkejWNI/s400/34824_1681175945964_1134524411_1875414_5479416_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam "Percakapan Ini" seorang juru masak (Desta) mempunyai tugas tambahan untuk rutin menyiram dan mengajak ngobrol tanaman-tanaman kesayangan bos-nya yaitu seorang wanita yang tengah hamil (Marsha Timothy) dan juga simpanan seorang pria yang tidak pernah muncul sekalipun di layar. Ifa Ifansyah berkreasi dengan struktur dialog dalam bentuk palindrome, atau sekuens yang dapat kita lihat bekerja sama baiknya walau disaksikan dari depan atau belakang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TQDUUhuhalI/AAAAAAAAAFU/LJ74NJmnJms/s1600/65407_1681176345974_1134524411_1875415_5928978_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="223" src="http://4.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TQDUUhuhalI/AAAAAAAAAFU/LJ74NJmnJms/s400/65407_1681176345974_1134524411_1875415_5928978_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;"Mamalia" oleh Tumpal di edit dengan menempatkan akibat lebih dahulu dibanding sebab dalam hubungan kausal dalam bercerita yang mungkin terpengaruh oleh "Robert Bresson" terutama dalam film "Une Femme Douce" Adegan seorang wanita yang payudaranya sedang dihisap oleh seorang pria memulai segmen ini, sampai-sampai si pria tidur keenakan tanpa menyadari betapa "berbahaya"nya wanita tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TQDUXX7n2SI/AAAAAAAAAFk/nFVuVMBNK9c/s1600/162710_1681176985990_1134524411_1875417_2795388_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="223" src="http://4.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TQDUXX7n2SI/AAAAAAAAAFk/nFVuVMBNK9c/s400/162710_1681176985990_1134524411_1875417_2795388_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;"Planet Gajah" merupakan rekoleksi memori dan sentimentil hubungan percintaan sepasang muda-mudi melalui voice-over yang Titin banget diputar sebagai background kisah-kasih "perayaan" yang ironis sekaligus ketakutan pasangan itu divisualkan Rico Marpaung dengan rada "blurry" dan slow-motion yang mengingatkan kita pada karya-karya Wong Kar-wai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TQDUVUML9PI/AAAAAAAAAFY/n2DKcFgpNNI/s1600/154381_1681177345999_1134524411_1875419_3445656_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="223" src="http://2.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TQDUVUML9PI/AAAAAAAAAFY/n2DKcFgpNNI/s400/154381_1681177345999_1134524411_1875419_3445656_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Tokek" dari Anggun Priambodo yang sekaligus merupakan segmen favorit saya, mengejutkan dengan kesabarannya membangun adegan sampai ke akhir yang klimaks penuh kenorakan dan kegilaan namun dikemas dengan citarasa yang bagus. Peristiwa mati lampu dipandang sebagai rutinitas yang sama pentingnya dalam keseharian hidup sebuah keluarga kecil di Jakarta, layaknya bekerja dan gempuran sinetron di televisi. Jika segmen lain terkesan mencari jalan, situasi yang dihadapi karakter dalam "Tokek" dapat dikatakan dalam kondisi terperangkap di petak kecil tempat tinggal mereka, dan Anggun-lah yang paling berhak menentukan "jalan" hidup mereka selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TQDUYWSJiJI/AAAAAAAAAFo/HqamaaR5B6s/s1600/162808_1681177626006_1134524411_1875420_8127677_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="223" src="http://1.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TQDUYWSJiJI/AAAAAAAAAFo/HqamaaR5B6s/s400/162808_1681177626006_1134524411_1875420_8127677_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Peron" bercerita tentang seorang mahasiswa yang dalam kesehariannya menunggu kereta hanya larut dan asik sendiri dengan musik yang diputar oleh iPod-nya. Suara lain menjadi abai sampai seketika pemutar musik favoritnya itu rusak, mulailah dia mendengar dan menghargai suara-suara lain yang ada di sekelilingnya. Tema yang diangkat dan efek yang dihasilkan oleh segmen ini kurang lebih sama dengan segmen "Payung".&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TQDUWLYAoPI/AAAAAAAAAFc/IkUlEAQ-d8Q/s1600/156996_1681177786010_1134524411_1875421_2040350_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="223" src="http://2.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TQDUWLYAoPI/AAAAAAAAAFc/IkUlEAQ-d8Q/s400/156996_1681177786010_1134524411_1875421_2040350_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;"3ll4" mempunyai dialog-dialog yang paling dekat dengan keseharian kita dibandingkan segmen lainnya. Dikisahkan seorang pelacur wanita dengan gigih terus mencari uang pada malam-malam terakhir bulan Ramadhan untuk membanggakan keluarganya di kampung saat momen Lebaran tiba. Sahabat terdekat Ella adalah penjual bebek panggang tempat Ella berkeluh-kesah dan menitipkan barang ketika akan melacur. Tidak ada sesuatu yang baru ditawarkan dalam form film ini, melainkan lebih ketransparanan Wisnu Surya Pratama dalam menggambarkan sisi simpatik dan manusiawi dari seorang pelacur dengan dialog yang dilafalkan dalam  bahasa Jawa yang lugu dan lucu yang melibatkan permintaan restu Ella agar Vagina-nya dapat sama laku malam itu dengan bebek panggang yang dijual kawannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TQDUZDjFGMI/AAAAAAAAAFs/aTVL_G18qY4/s1600/162833_1681177866012_1134524411_1875422_5449601_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="223" src="http://1.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TQDUZDjFGMI/AAAAAAAAAFs/aTVL_G18qY4/s400/162833_1681177866012_1134524411_1875422_5449601_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Segmen kedua favorit saya dari Edwin, diberi judul secara tepat "Roller Coaster", karena memang yang paling intens membuat degup jantung semakin kencang dari awal hingga berhentinya si wahana yang terkenal itu. Multitude pengalaman dari sebuah bentuk persahabatan sepasang pria dan wanita telah melalui berbagai macam ujian, kecuali mereka sama-sama belum pernah merasakan menyentuh kulit yang biasa dibungkus oleh pakaian masing-masing. Apakah pengalaman saling telanjang berhadapan itu penting bagi persahabatan mereka ke depan? Well, proses saling menelanjangi itulah yang lebih penting, sama seperti pasang surut persahabatan, canda tawa dan amarah mereka sebelum proklamir kata sebagai sahabat sejati itu dapat terasa, bagaikan "Roller Coaster" yang sedang ada di titik "reverse"nya.&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TQDUWhsa7tI/AAAAAAAAAFg/hVUY5x23NzA/s1600/157080_1681178346024_1134524411_1875423_7483196_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="223" src="http://2.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TQDUWhsa7tI/AAAAAAAAAFg/hVUY5x23NzA/s400/157080_1681178346024_1134524411_1875423_7483196_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sidi Saleh yang biasa dikenal sebagai kolaborator Edwin dalam perannya sebagai Cinematographer menutup Belkibolang dengan segmen "Bulan Purnama". Latar belakang malam Tahun Baru di Jakarta beserta hiruk-pikuk deru kendaraan dan bisingnya tiupan terompet. Seorang supir taksi tetap mencari sewa di malam yang harusnya penuh kegembiraan tersebut dengan membawa serta istri dan keinginan terpendamnya untuk mengutarakan niat perceraian. Pria itu terus mencoba untuk mencari momen, keberanian dan kata yang tepat. Pelanggan naik silih-berganti, hingar-bingar, dan rasa kebelet pipis diantaranya menjadi batu sandungan yang menghalangi niatnya tersebut. Alasan kenapa pria itu mau menceraikan istrinya tidak pernah diberitahu kepada penonton, kecuali kita tahu bahwa si pria masih menaruh hormat dengan selalu ingin agar istrinya itu duduk di bangku samping tempat ia menyetir taksi. Niat diutarakan, kegetiran dirasakan, menyisakan refleksi hubungan mereka yang mungkin akan berhenti atau terus berlanjut di Tahun depan dan harapan yang baru.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya masih menyesali karena tidak sempat tahu sejauh mana kesetiaan masing-masing sutradara terhadap naskah yang ditulis oleh Titin, beberapa segmen dapat berdiri sendiri tanpa teringat nama Titin, sebagian terasa hambar dan terasa tidak akan berbeda jauh jika disutradarai oleh orang lain. Dilihat dari luar konteks Belkibolang yang merupakan dokumen terhadap suatu tempat dalam satu periode, film ini dapat diapresiasi sebagai gerakan menuju apotheosis dari proses asimilasi manusianya yang sangat beragam, juga dari sisi perjuangan pembuat film yang terlibat di dalamnya.﻿&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7942573538273671699-7357002068391836779?l=cinemaexposure-reviews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/feeds/7357002068391836779/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2010/12/belkibolang-2010.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/7357002068391836779'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/7357002068391836779'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2010/12/belkibolang-2010.html' title='Belkibolang (2010)'/><author><name>Cinema Exposure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12014535301006601988</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='8' src='http://3.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TLtAXbNstRI/AAAAAAAAACI/Ezb3Bup_eDQ/S220/headerblog3+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TQDP0gFp2CI/AAAAAAAAAFI/hrpcsPgnYqA/s72-c/155104_1681173825911_1134524411_1875410_4193105_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7942573538273671699.post-431103327148023592</id><published>2010-12-06T12:48:00.000-08:00</published><updated>2010-12-06T12:52:20.451-08:00</updated><title type='text'>Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives (2010)</title><content type='html'>(Thailand/France/UK/Spain)&lt;br /&gt;Sutradara: Apichatpong Weerasethakul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rating:&lt;br /&gt;Yuki Aditya&lt;br /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TP1MvshUbSI/AAAAAAAAAFE/v2TZZ9KHhJc/s1600/58039_1677077123496_1134524411_1866726_4427434_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="290" src="http://1.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TP1MvshUbSI/AAAAAAAAAFE/v2TZZ9KHhJc/s400/58039_1677077123496_1134524411_1866726_4427434_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;// 7 Desember 2010&lt;br /&gt;Oleh Yuki Aditya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak orang yang mengatakan bahwa Palem Emas Mike Leigh lewat "Another Year" telah direbut oleh Apichatpong Weerasethakul (selanjutnya disebut Joe) melalui "Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives", tetapi satu hal yang pasti walau saya belum menonton "Another Year", film teranyar Leigh tersebut tidak akan se-eksperimental "Uncle Boonmee" yang dapat dikatakan sebagai pemenang Palem Emas yang paling eksperimental dan sekaligus menantang dalam hal plot cerita.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berbeda dari tiga feature film panjang Joe sebelumnya yaitu "Blissfully Yours", "Tropical Malady", dan "Syndromes and a Century" yang terbagi menjadi dua cerita yang menjadi berbeda pada bagian tengah film, "Uncle Boonmee" mempunyai struktur cerita yang cenderung lurus dan satu arah. Namun jelas subjek dalam film ini telah ada di pikiran Joe sejak lama, karena dalam "Tropical Malady" terdapat percakapan antara dua pria yang membicarakan paman dari salah satu pria yang bernama Tong tentang kemampuannya untuk mengingat kehidupan lampaunya (dimana dalam Uncle Boonmee juga terdapat karakter bernama Tong  diperankan oleh aktor yang sama dalam Tropical Malady).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diceritakan Uncle Boonmee (Thanapat Saisaymar dalam film pertamanya) seorang petani dan peternak sukses sedang menanti ajal karena gagal ginjal akut. Kehidupan Boonmee sehari-hari ditemani oleh adik iparnya Jen (Jenjira Pongpas), keponakannya Tong yang juga seorang biksu (Sakda Kaewbuadee), dan Jaai (Samud Kugasang) seorang imigran asal Laos yang bertugas membantu perawatan dialysisnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika Boonmee sedang makan malam dengan keluarganya tersebut, hantu Huay (Natthakarn Aphaiwonk) istrinya yang telah meninggal 14 tahun lalu hadir menginterupsi acara rutin itu. Tidak lama kemudian, roh anak lelakinya Boonsong yang telah lama menghilang menampakkan diri juga dalam bentuk Kera yang menyerupai Chewbacca dalam seri sukses Star Wars dengan sorot sinar matanya yang berwarna merah menyala. Boonsong pun bercerita bahwa dirinya menghilang setelah mencoba untuk mengejar dan mengabadikan penampakan Hantu Kera ke dalam hutan dan berakhir dengan mengawini Hantu tersebut sehingga berubah menjadi bagian dari mereka. Dapat dikatakan adegan tersebut adalah suatu reuni keluarga yang paling aneh , namun reaksi penerimaan dari Boonmee sekeluarga yang terlihat senang karena dapat bertemu anggota keluarga yang telah lama "menghilang" membuat adegan tersebut lebih terasa misterius dibanding menakutkan. ""Why did you let your hair grow so long?" adalah pertanyaan pertama yang diajukan terhadap Boonsong. Diikuti pertanyaan dan ungkapan absurd serta naif tetapi manusiawi seperti keirian Jen terhadap Huay yang secara fisik tetap terlihat sama pada saat dia meninggal.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hantu dan folklore menyelimuti keseluruhan film ini, konsisten hadir tetapi tetap menjaga jarak mereka, dan seiring dekatnya Boonmee dengan kematian, batasan antara dunia nyata dan fana semakin tipis, selain penampakkan dari orang-orang terdekatnya yang telah lama meninggal, Boonmee pun dapat mengingat kembali kehidupan-kehidupan sebelumnya sebelum reinkarnasi, dalam bentuk realistis maupun supernatural seperti sebuah sekuens mimpi. Reinkarnasi yang tidak dibatasi oleh bentuk antara manusia dan binatang. Apakah kehidupan masa lalu Boonmee adalah seekor kerbau, putri raja, maupun ikan lele? Adapun nilai karma juga merupakan poin penting dalam kehidupan Boonmee yang dapat kita interpretasikan terhadap kehidupan Boonmee sebelumnya. Satu saat Boonmee mengutarakan kepada Jen bahwa penyakit ginjalnya disebabkan oleh masa lalu yang banyak membasmi gerombolan komunis di Thailand Utara juga  kekejamannya terhadap hama wereng dengan selalu menggunakan pestisida untuk memusnahkan mereka, dan Jen hanya membalas hal yang Boonmee lakukan adalah wajar karena dilandasi oleh niat baik, dikontradiksikan terhadap idiom "selfless good deeds" terutama pada bentuk kehidupan Boonmee yang lalu-lalu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;*WARNING: SPOILER!!!*&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Satu hal yang cukup mengejutkan dalam film ini adalah penggunaan hand-held camera yang terasa kasar pada adegan dalam gua penuh kelelawar menjelang kematian Boonmee, dibanding long takes dan panning indah di paruh pertamanya. Boleh jadi hal itu dimaksudkan sebagai alegori jalan terjal yang segera dilalui Boonmee dan waktu terakhir bagi dirinya untuk mengingat kembali kehidupannya di masa muda yang banyak menyakiti fisik dan hati orang lain. Dan layaknya film-film Joe sebelumnya yang sering menggunakan foto dan gambar sebagai rekoleksi memori juga--merupakan bentuk paling primitif dari cinema, di film ini lukisan di dinding gua menambah suasana mencekam pada saat Boonmee mengutarakan dirinya terlahir di tempat tersebut. Apa yang terjadi didalam gua tampaknya menjadi ingatan tak terlupakan dan sekaligus "pencerahan" bagi Jen dan Tong yang membawa mereka ke ending film ini yang enigmatic, yaitu ide kematian itu sendiri sebagai bentuk pengawetan akan waktu dan bentuk fisik seperti peryataan awal Jen terhadap hantu istri Boonmee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="color: red;"&gt;*SPOILER ENDS!!!*&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives", sama dengan film-film Joe lainnya lebih menantang respon sensorik kita untuk berimajinasi lebih liar terhadap perbandingan dan kontras akan suatu hal atau nilai dalam situasi dan kondisi yang berlainan. Kicauan dan dengungan tanpa henti dari burung dan serangga di hutan pada malam hari, kilauan sinar matahari di indahnya suasana pedesaan di siang hari, denyut kehidupan terasa di perlambat oleh kehangatan dan suara alam yang menghipnotis, perbincangan penuh senyuman mencoba untuk mengingat masa lalu, dan ritme kehidupan serta cerita rakyat pedesaan yang terkonstruksi sebagaimana dalam buku dongeng anak-anak. Film ini penuh nuansa kehidupan, dimana kematian dan keindahan hidup itu sendiri sebagai bagian yang sama penting dan manusiawi, namun tidak dilakukan atas dasar amarah dan ketakutan, semua lebur menjadi satu harmoni yang tercipta oleh momen keheningan yang elok dan lagu karaoke di ending yang membuai indah.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7942573538273671699-431103327148023592?l=cinemaexposure-reviews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/feeds/431103327148023592/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2010/12/uncle-boonmee-who-can-recall-his-past.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/431103327148023592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/431103327148023592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2010/12/uncle-boonmee-who-can-recall-his-past.html' title='Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives (2010)'/><author><name>Cinema Exposure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12014535301006601988</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='8' src='http://3.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TLtAXbNstRI/AAAAAAAAACI/Ezb3Bup_eDQ/S220/headerblog3+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TP1MvshUbSI/AAAAAAAAAFE/v2TZZ9KHhJc/s72-c/58039_1677077123496_1134524411_1866726_4427434_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7942573538273671699.post-7498729769340960620</id><published>2010-12-05T02:37:00.000-08:00</published><updated>2010-12-05T06:59:48.750-08:00</updated><title type='text'>9 Songs (2004)</title><content type='html'>(UK)&lt;br /&gt;Sutradara: Michael Winterbottom&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rating:&lt;br /&gt;Bayu Wiratama&lt;br /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img707.imageshack.us/img707/9319/starpatterncopy0.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 0in;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TPtwjemPTgI/AAAAAAAAAFA/HTnqLw2-J5M/s1600/9-songs-3.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="237" src="http://4.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TPtwjemPTgI/AAAAAAAAAFA/HTnqLw2-J5M/s400/9-songs-3.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;// 5 Desember 2010&lt;br /&gt;Oleh: Bayu Wiratama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masih tabunya elemen seks vulgar dalam film membuat 9 Songs menjadi salah satu film unik yang tidak bijak ditonton bersama pacar atau orang tua. Dalam review kali ini, saya akan membahas tentang film seks yang diakui sebagai salah satu film yang penuh kontroversi. Film ini kontroversial karena dalam perilisannya banyak mengandung adegan-adegan seksual, dimana adegan seksual nya dilakukan secara nyata dan juga memperlihatkan adegan ejakulasi nya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Disutradari oleh sutradara asal inggris Michael Winterbottom. Winterbottom melejit berkat karya nya yang berjudul “Butterfly Kiss” yang bertema lesbian. Winterbottom juga dikenal dengan ciri khas nya yang gemar mengeksploitasi hubungan antar manusia dan juga mengandung unsur gairah di setiap filmnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;9 songs bercerita tentang seorang glaciologist muda yang bernama Matt&amp;nbsp; yang sedang terkepung oleh es-es di kutub selatan,tiba-tiba saja ia mengingat kisah cinta nya yang dulu bersama Lisa. Mereka dulu bertemu di dalam sebuah konser musik dan mereka melakukan hubungan seksual setelah acara konser tersebut selesai. Dan mereka terus melakukan hal itu selama berbulan-bulan,hingga akhirnya Lisa tinggal serumah dengan Matt dengan diselingi oleh adegan-adegan pertunjukkan konser dari Black Rebel Motorcycle Club,The Von Bondies,Elbow,Primal Scream,The Dandy Warhols,Super Furry Animals,Franz Ferdinand, dan Michael Nyman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Awal saya membaca synopsis film ini,saya hanya menganggap film ini hanya film biasa dengan unsur seks yang biasa juga. Tapi,setelah menyaksikan langsung dengan mata kepala saya sendiri, saya terkejut dengan apa yang disajikan oleh Michael Winterbottom. Memang, dari segi cerita sangat-sangat biasa sekali (kalau tidak mau dibilang jelek) tapi unsur-unsur seks yang dimasukkan dalam film ini sangat tidak biasa. Apa yang saya lihat dalam film ini mengingatkan saya pada &lt;i&gt;Intimacy&lt;/i&gt; karya Patrice Chereau dan juga &lt;i&gt;Lie With Me &lt;/i&gt;Dimana adegan seks nya dibuat dengan nyata dan tidak dibuat-buat. &amp;nbsp;Pertama-tama saya mengacungkan dua jempol untuk aktor dan aktris nya yang sangat total dalam film ini. Mereka mau melakukan adegan unsimulated sex dan tidak seperti kebanyakan film erotis lain yang masih terkesan malu-malu. Untuk mereka yang sensitif terhadap eksploitas seks yang vulgar dalam sebuah film, 9 Songs perlu dihindari karena Winterbottom tidak meninggalkan pemandangan dari kelamin masing-masing pemain dan berbagai macam gaya yang dipraktekan di dalam ranjang semakin menekankan kalau seks yang dilakukan dalam film ini benar-benar dilakukan. Jika anda ingin mendapatkan film yang bercerita padat, jangan harap anda bisa mendapatkannya dalam film ini. Karena apa yang ditawarkan oleh Winterbottom tidak lebih dari eksploitasi hubungan antar manusia yang sedang jatuh cinta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan saya juga tidak melupakan penampilan-penampilan band-band disini. Dimana semua band ataupun musisi menampilkan permainan terbaiknya. Karena film ini, saya mulai jatuh cinta dengan Black Rebel Motorcycle dengan lagu nya "Whatever Happened to My Rock n Roll" dan juga tentunya Franz Ferdinand. Overall, 9 Songs merupakan salah satu film erotis yang paling gila yang pernah saya tonton sampai saat ini.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7942573538273671699-7498729769340960620?l=cinemaexposure-reviews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/feeds/7498729769340960620/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2010/12/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/7498729769340960620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/7498729769340960620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2010/12/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html' title='9 Songs (2004)'/><author><name>Cinema Exposure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12014535301006601988</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='8' src='http://3.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TLtAXbNstRI/AAAAAAAAACI/Ezb3Bup_eDQ/S220/headerblog3+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TPtwjemPTgI/AAAAAAAAAFA/HTnqLw2-J5M/s72-c/9-songs-3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7942573538273671699.post-8839415423971973172</id><published>2010-11-17T07:25:00.000-08:00</published><updated>2010-11-17T07:30:06.484-08:00</updated><title type='text'>Tough Guys Don't Dance (1987)</title><content type='html'>(USA)&lt;br /&gt;Sutradara: Norman Mailer &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Rating:&lt;br /&gt;Yuki Aditya&lt;br /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img707.imageshack.us/img707/9319/starpatterncopy0.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TOPz1qEZW6I/AAAAAAAAAEU/2OGMK3pcOI8/s1600/original.png" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://1.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TOPz1qEZW6I/AAAAAAAAAEU/2OGMK3pcOI8/s400/original.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;//15 Februari 2010&lt;br /&gt;Oleh Yuki Aditya&lt;br /&gt;(tulisa diambil dari http://mubi.com/users/93249/reviews)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Norman Mailer lebih dikenal orang sebagai penulis. Menilik  karya-karya tulisannya semisal tentang kampanye presiden atau program  pesawat ulang-alik di Amerika, kita dapat melihat kejeniusannya ketika  subjek yang dia angkat adalah orang-orang yang mengejar status mereka  sebagai intelektual. Tetapi juga, banyak yang menyayangkan  tulisan-tulisannya yang terasa menghina ketika Mailer menulis tentang  perilaku instinctive, seperti kekerasan dan seksualitas. Dia banyak  menyindir kaum feminis dan homoseksual, dan ketika dia mengangkat topik  tentang komunitas Afro-Amerika malahan kalangan pengedar dan pemakai  narkoba, germo, penjudi, serta gangster yang diobservasi Mailer.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diproduseri oleh duo Yahudi Golam dan Globus melalui perusahaan film  mereka Canon, Mailer mengakui bahwa tujuannya membuat film ini adalah  untuk “meyakinkan produser untuk memberinya uang lebih banyak lagi  supaya dapat membuat film berikutnya."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tough Guys Don’t Dance bisa dianggap cult karena dialognya yang  absurd dan terkadang terdengar kinky serta jalan ceritanya yang terkesan  nyeleneh untuk sebuah ukuran film thriller misteri. Film ini dibuka  dengan adegan yang terasa aneh. Seorang pria bernama Tim Madden (Ryan  O’Neal) bangun dari tidurnya terlihat masih dalam keadaan setengah sadar  setelah semalaman berpesta narkoba di rumah mantan istrinya. Tim  kebingungan karena sebuah tato telah terukir di tangannya, dan juga  menemukan bahwa kepala pacarnya terbungkus bersama paket marijuana  miliknya, disamping mobil yang dia parkir di halaman rumah mantan  istrinya tersebut. Hal-hal itu menimbulkan semacam dilema untuk dirinya,  karena Tim tidak bisa mengingat apapun apakah benar dia yang sebenarnya  telah menggorok kepala pacarnya itu. Seiring perkembangan jalannya  cerita, kita akan menemukan kepala-kepala manusia lainnya, dimana  membuat Tim sedikit lega tapi juga sekaligus menimbulkan masalah baru  bagi dirinya. Walaupun Tim tidak pernah merasa yakin bahwa dia telah  melakukan pembunuhan tersebut, tetapi dia juga tidak dapat memberikan  alibi yang dapat dipercaya, bahkan terhadap dirinya sendiri. Sampai ke  akhir cerita, Tim mencoba merangkai semua peristiwa yang dia ingat  semalam dengan berperan sebagai detektif dibantu oleh ayahnya Dougy  Madden (Lawrence Tierney) untuk membuktikan dirinya tidak bersalah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak adegan flashback bermunculan, terutama yang berhubungan dengan  mantan istri keduanya, Patty (Debra Sandlund) dan Kepala Polisi bernama  Regency (Wings Hauser), dimana jauh dari gambaran umum penegak hukum  yang pernah kita film dalam film-film lain. Regency terlibat dalam  masalah pertukaran istri untuk kepuasan seksual, berbagai macam bentuk  transaksi narkoba, dan hadir di banyak pesta seks. Patty dan Regency-lah  yang sampai akhir cerita menuntun misteri yang terasa seperti labyrinth  membingungkan ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dirilis setahun setelah film fenomenal dari David Lynch yang berjudul  Blue Velvet, secara kebetulan Tough Guys Don’t Dance juga mempunyai  premis yang sama, yaitu sebuah misteri pembunuhan ditemukan di suatu  kota kecil dan karakter utama pria-nya lah yang harus memecahkan  sendiri. Dan juga karena faktor Isabella Rossellini yang juga ambil  bagian dalam film ini setelah sukses dipuji sekaligus dihina-dina karena  perannya di Blue Velvet. Isabelle membuktikan dirinya pantas disebut  sebagai salah satu cult icon di dekade 80-an karena kombinasi antara  kecantikannya yang menghanyutkan serta perannya yang nyeleneh dan berani  mengambil resiko untuk mengambil peran yang tidak simpatik. Dalam film  ini Isabella berperan sebagai istri pertama Tim yang harus cerai karena  masalah seksualitas, dan mengucapkan dialog-dialog unik, kinky, dan  memorable seperti “He must have the longest cock in Christendom,” yang  menambah status cult pada film ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mailer terbuka untuk bermacam kritisi terhadap kegilaannya ini,  tetapi kali ini dia seperti membalikkan keadaan bahwa para kritikus film  itulah yang seperti orang kebingungan terperangkap dalam filmnya,  layaknya karakter Tim. Banyak kritikus film mengeluh akan plot yang  klises, dan cerita yang standar (sesuatu yang sebenarnya dapat ditangkis  dengan mudah oleh film ini), tetapi juga malah meremehkan hal-hal yang  terlihat menyimpang dari sebuah skrip yang dibuat di Hollywood. Mereka  juga mengkritisi plot yang membingungkan, penggunaan angle kamera yang  buruk, kekerasan (yang mana tidak sepenuhnya benar, karena sedikit  sekali adegan kekerasan muncul di film yang sebenarnya adalah tentang  pembunuhan), serta banyaknya karakter yang tiba-tiba saja menghilang –  hanya untuk membuktikan fakta bahwa kritikus-kritikus film tersebut  menyuarakan kebingungan mereka sendiri terhadap cerita film ini. Tetapi  ini adalah film yang mempunyai kualitas re-watchable yang baik, karena  film ini akan berkembang didalam diri kita jika kita menonton ulang dan  banyak detil-detil yang kita tidak lihat atau lupakan ternyata menambah  intens cerita dalam film ini sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7942573538273671699-8839415423971973172?l=cinemaexposure-reviews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/feeds/8839415423971973172/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2010/11/tough-guys-dont-dance-1987.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/8839415423971973172'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/8839415423971973172'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2010/11/tough-guys-dont-dance-1987.html' title='Tough Guys Don&apos;t Dance (1987)'/><author><name>Cinema Exposure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12014535301006601988</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='8' src='http://3.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TLtAXbNstRI/AAAAAAAAACI/Ezb3Bup_eDQ/S220/headerblog3+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TOPz1qEZW6I/AAAAAAAAAEU/2OGMK3pcOI8/s72-c/original.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7942573538273671699.post-8004925125613208014</id><published>2010-11-17T05:58:00.000-08:00</published><updated>2011-06-22T20:15:53.826-07:00</updated><title type='text'>The Song Remains the Same (1976)</title><content type='html'>(USA)&lt;br /&gt;Sutradara: Peter Clifton &amp;amp; Joe Massot&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rating:&lt;br /&gt;Erdiawan Putra&lt;br /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TOP3DlV5xuI/AAAAAAAAAEY/fUV7hJcrdWA/s1600/original.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://1.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TOP3DlV5xuI/AAAAAAAAAEY/fUV7hJcrdWA/s400/original.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;// 13 Maret 2010&lt;br /&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;br /&gt;(Tulisan diambil dari http://erdiawanfilmreviewsdatabase.blogspot.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ini adalah dokumenter konser “band rock terbesar di dunia era 70-an”, Led Zeppelin, di  Madison Aquare Garden pada tanggal 27, 28, 29 juli 1973. DVD-nya adalah salah satu  judul yang paling sering Saya putar hingga kini-dan itu hanya karena  Saya adalah fan dari Led Zeppelin.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya ini adalah sebuah  rekaman dari konser yang luar biasa. Tetapi untuk versi film, para pencetus filmnya  ingin menambahkan sequence fantasi untuk masing-masing keempat anggota Zeppelin (ditambah satu sequence untuk Peter Grant dan Richard Cole) yang hanya merusak isi filmnya dan  memperpanjang durasinya. Seperti contoh adalah sequence fantasi Robert  Plant yang menjadi ksatria berkuda, atau sequence milik Jimmy Page yang mencari sosok Hermit tua di  atas gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini tidak memasukkan semua lagu yang dimainkan Zeppelin saat itu. Satu hal yang mengherankan, mereka memilih memasukkan sisa lagu-lagu itu sebagai special features dalam versi home videonya, walaupun itu sebenarnya akan jauh lebih diinginkan penonton dibanding sequence fantasy tersebut. Dokumentasi konsernya juga  tidak baik. Terlalu banyak penggunaan efek saat editing sama sekali  tidak terlihat keren-justru sebaliknya, itu terlihat norak.&amp;nbsp; Ada bagian baiknya, Clifton juga memasukkan footage di balik tour ini, seperti kasus pencurian uang band dan fans yang mencoba menonton dengan cara ilegal.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penampilan  Zeppelin (di panggung) sangat soulful, bertenaga dan eksotis. Improvisasi dan sensualitas diumbar Plant yang tampil dengan baju kekecilan  khasnya, Jimmy Page memainkan riff-riff sakti dan solo yang panjang (terkadang memakai gitar SG double-necknya, EDS-1275), John Paul Jones dengan hairdo old school-nya ,memainkan bass dan keyboard secara bergantian dan John Bonham menghantam  drum dengan tenaga yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibuka dengan trek Rock and Roll yang menunjukkan permainan drum memukau dari Bonham. Dalam track listnya, ada sebuah medley dari musik enerjik The Song Remains the Same, dan seperti biasa, disambung dengan The Rain Song&amp;nbsp; yang terdengar sangat indah dalam versi live ini. Sebuah riff bonus dari Brint It on Home juga diselipkan dalam lagu Black Dog. Lagu Dazed and Confused dimainkan dalam versi&amp;nbsp; 26 menit. Mereka juga membawakan beberapa  lagu-lagu hits seperti Whole Lotta Love, Rock n Roll, The  Song Remains the Same, (tentunya) Stairway to Heaven, dan bagian terbaik  konser ini adalah pada lagu Since I’ve Been Loving You. The Song Remains the Same adalah film wajib untuk semua fans Led Zeppelin, ataupun untuk yang ingin mengenal mereka.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7942573538273671699-8004925125613208014?l=cinemaexposure-reviews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/feeds/8004925125613208014/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2010/11/song-remains-same-1976.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/8004925125613208014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/8004925125613208014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2010/11/song-remains-same-1976.html' title='The Song Remains the Same (1976)'/><author><name>Cinema Exposure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12014535301006601988</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='8' src='http://3.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TLtAXbNstRI/AAAAAAAAACI/Ezb3Bup_eDQ/S220/headerblog3+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TOP3DlV5xuI/AAAAAAAAAEY/fUV7hJcrdWA/s72-c/original.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7942573538273671699.post-2959941902819102117</id><published>2010-11-05T07:18:00.000-07:00</published><updated>2010-11-17T08:03:32.415-08:00</updated><title type='text'>The Departed (2006)</title><content type='html'>(USA)&lt;br /&gt;Sutradara: Martin Scorsese&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rating:&lt;br /&gt;Bayu Wiratama:&lt;br /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;Erdiawan Putra:&lt;br /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;Yuki Aditya:&lt;br /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img707.imageshack.us/img707/9319/starpatterncopy0.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img707.imageshack.us/img707/9319/starpatterncopy0.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TNQSGynQ7eI/AAAAAAAAAEQ/VaMVGNZhnp4/s1600/leonardo_dicaprio17.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="296" src="http://2.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TNQSGynQ7eI/AAAAAAAAAEQ/VaMVGNZhnp4/s400/leonardo_dicaprio17.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;//5 November 2010 &lt;br /&gt;Oleh Bayu Wiratama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Kriminal? Polisi? Kriminal? Polisi?” Dalam kehidupan sehari-hari tentunya kita pernah melihat polisi bukan? Baik dari polisi criminal, polisi lalu lintas, polisi di bidang kesehatan,dll. Begitu juga dengan para pelaku kejahatan atau lebih sering disebut kriminalis atau mungkin penjahat. Ada juga berbagai macam penjahat atau kriminalis seperti pencuri, pembunuh, suka memerkosa orang,dll. Tapi apakah anda tahu dan melihat polisi undercover?&amp;nbsp; Atau lebih sering disebut “polisi yang menyamar jadi criminal”? Mungkin sebagian dari anda sudah ada yang tahu, bahkan bisa tahu dari ciri-cirinya. Dan juga ada yang tidak tahu apa sebenarnya polisi undercover tersebut. Biasanya, polisi undercover bekerja disaat para atasannya menginginkan untuk mengetahui hal-hal yang “disembunyikan” oleh para Kriminal atau penjahat (yang pada umumnya bebas karena tidak ada bukti). Disinilah polisi undercover tersebut menjalankan tugasnya. Dengan berusaha menyamar dan ikut berbaur menjadi criminal untuk mendapatkan sebuah bukti kejahatan. Dan bagaimana dengan criminal yang menyamar sebagai polisi? Terdengar asing bukan? Pasti dalam benak anda bertanya “apa gunanya criminal menyamar sebagai polisi?”. Mungkin anda para moviegoer sudah tidak asing dengan cerita ini. Pasti yang ada di benak anda adalah “Infernal Affair”. Bukan,ini bukan review dari Infernal Affair. Yang saya maksud adalah remake nya yang tidak kalah hebatnya yaitu “The Departed”. Remake ini tentu menjadi hebat karena tidak lain-tidak bukan pembesutnya adalah Martin Scorsese sang “filmmaker” legendaris yang masih hidup. Siapa yang tidak tahu Scorsese? Namanya mencuat setelah kesuksesan &lt;i&gt;Taxi Driver&lt;/i&gt;. Padahal, sebelum Taxi Driver ia telah membuat film bagus lain seperti &lt;i&gt;The Big Shave, Alice Doesn’t Live Here Anymore&lt;/i&gt; ataupun &lt;i&gt;Who’s that knocking at my door?&lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cerita The Departed berawal dari pertemuan antara sang raja mafia dari Boston timur yaitu Frank Costello (Nicholson) dengan Colin Sullivan Kecil, dimana Costello akhirnya memutuskan untuk mengangkat Sullivan menjadi anaknya dan mendidiknya hingga lulus dari akademi kepolisian. Di sisi lain, captain Queenan ( Martin Sheen) dan Sgt. Dignam (Mark Wahlberg) berusaha untuk mencari bukti-bukti kejahatan yang dilakukan oleh Costello. Untuk itu mereka ingin merekrut seorang lulusan akademi polisi untuk menjadi polisi undercover. Akhirnya dipilihlah Billy Costigan (Leonardo DiCaprio) untuk menjalankan tugas tersebut. Dan mulai menyusup bahkan menjadi anggota kelompok mafia pimpinan Costello. Disaat yang sama,Costello merasa curiga akan datangnya Costigan. Dan untuk itu ia meminta Sullivan untuk memata-matai apa yang dilakukan Queenan dan mencari tahu siapa sebenarnya yang menyusup ke dalam kelompok mafia nya. Dan keduanya pun seperti layaknya Anjing-Kucing yang saling kejar-kejaran dan siapa yang cepat dia yang dapat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;The Departed bukanlah film remake kacangan seperti film-film remake lainnya..Banyak aspek bisa menjelaskan itu. Pertama dari Isi ceritanya, William Monahan sang penulis ternyata tidak meniru mentah-mentah semua isi dari Infernal Affairs. Ini bisa kita lihat dari dibuatnya tokoh baru seperti Sgt. Dignam yang diperankan secara brilian oleh Mark Wahlberg dengan maksud membuat film ini menjadi lebih emosional dan penonton juga diajak untuk mengalami apa yang dirasakan oleh Costigan. Dan juga Karakter wanita yaitu Madolyn (Vera Farmiga) yang hanya ada satu saja. Sedangkan di infernal affairs masing-masing karakter punya wanitanya sendiri-sendiri. Tentu juga ini sebagai penambah rasa sedap dalam film ini. Yang Kedua,tentu saja acting kelas A dari para-para cast nya. Siapa yang meragukan kualitas DiCaprio, Damon, Nicholson, Wahlberg, dan Sheen? Dan Scorsese mampu membuat mereka mengeluarkan kualitas aktingnya masing-masing, ini tentu sangat berbeda dengan film yang berisi &lt;i&gt;ensemble cast&lt;/i&gt; seperti serial Ocean’s contohnya yang hanya menonjolkan salah satu saja. Yang paling unik tentunya Scorsese kembali memasang DiCaprio sebagai pemeran utamanya,setelah sebelumnya dipakai dalam &lt;i&gt;Gangs Of New York &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;The Aviator. &lt;/i&gt;Kelihatannya DiCaprio akan sebagai penerus tongkat estafet dari &amp;nbsp;DeNiro yang dulunya juga pemain kesayangan Scorsese. Karena acting dalam film ini, DiCaprio pantas dinominasikan sebagai Best Actor in Leading role. Begitupun juga dengan Wahlberg yang mampu membuat saya kesal akan tingkahnya yang terlihat semena-mena. Ia juga dinominasikan Oscar dalam Best Actor In Supporting Role. Yang ketiga, kita kembali dalam segi penulisnya yaitu William Monahan. Dialog-dialog dalam film ini sangat renyah dan asyik untuk dinikmati. Ini semua berkat Kejeniusan Monahan dalam menyusun kata-kata dalam dialognya. Tentu ini membuat lebih berbeda dengan Infernal Affairs Bukan? Setelah melihat aspek-aspek tersebut saya seakan merasa berdosa jika membandingkan the departed dengan infernal affairs. Kenapa? Karena kedua film ini tidak sama sepenuhnya dan mempunyai “jalan” mereka masing-masing. Jujur, film yang berdurasi 2,5 jam ini sudah saya tonton selama 8 kali! Saya pun sampai sekarang masih ingin menonton film ini. Dan yang lagi satu, The Departed lah yang membuat Scorsese untuk pertama kalinya memenangi Oscar.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7942573538273671699-2959941902819102117?l=cinemaexposure-reviews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/feeds/2959941902819102117/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2010/11/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/2959941902819102117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/2959941902819102117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2010/11/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html' title='The Departed (2006)'/><author><name>Cinema Exposure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12014535301006601988</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='8' src='http://3.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TLtAXbNstRI/AAAAAAAAACI/Ezb3Bup_eDQ/S220/headerblog3+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TNQSGynQ7eI/AAAAAAAAAEQ/VaMVGNZhnp4/s72-c/leonardo_dicaprio17.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7942573538273671699.post-489171216374242754</id><published>2010-10-28T09:00:00.000-07:00</published><updated>2010-10-28T09:00:38.815-07:00</updated><title type='text'>Blind Pig Who Wants to Fly (2008)</title><content type='html'>Babi Buta yang Ingin Terbang&lt;br /&gt;(Indonesia)&lt;br /&gt;Sutradara: Edwin &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rating:&lt;br /&gt;Yuki Aditya&lt;br /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img707.imageshack.us/img707/9319/starpatterncopy0.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://yukitanonton.files.wordpress.com/2010/09/petasan.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://yukitanonton.files.wordpress.com/2010/09/petasan.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;//2 September 2010&lt;br /&gt;Oleh Yuki Aditya&lt;br /&gt;(tulisan diambil dari http://yukitanonton.wordpress.com/) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Babi Buta Yang Ingin Terbang” dibuka dengan suatu voice-over dengan premis yang jelas dan akan membuat detak jantung setiap orang Indonesia yang menonton akan berdetak lebih keras daripada kebanyakan film yang dirilis oleh sutradara Indonesia lainnya akhir-akhir ini. Film ini bisa jadi provokatif karena tema utamanya adalah rasisme yang oleh sebagian besar orang Indonesia merupakan hal yang tabu untuk diangkat ke permukaan. Tema ini juga bisa semakin berbahaya karena melibatkan dua entitas berbeda dalam masyarakat Indonesia, dibanding dengan tema relijius yang marak muncul belakangan. Edwin sebagai sutradara, dalam film ini bertindak lebih sebagai pengamat yang me-rekoleksi memori pribadinya dibanding sebagai seorang penyelesai masalah atau pemberi khotbah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Yang mana pemain Indonesia?” suara seorang anak yang kita bayangkan sedang menonton pertandingan bulutangkis tunggal putri di layar televisi antara atlit Indonesia dan Cina. Di adegan-adegan berikut kita akan mengetahui bahwa atlit tersebut yang bernama Verawaty adalah ibu dari seorang gadis bernama Linda serta mempunyai kepala keluarga yang berprofesi sebagai dokter gigi yang diperankan oleh Pong Hardjatmo. Segera kita dapat merasakan bahwa keluarga itu adalah sebuah “dysfunctional family” dimana sang ayah mengutarakan keinginannya untuk masuk Islam dan lalu meminta cerai. Dia juga sering melafalkan lagu “I Just Want to Say I Love You” dari Stevie Wonder yang terasa sebagai suatu sindiran terhadap keseluruhan atmosfer film ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cerita film ini kemudian bercabang terhadap kehidupan Linda yang mempunyai sahabat seorang anak lelaki bernama Cahyono. Persahabatan mereka berlanjut sampai mereka beranjak dewasa yang disajikan dengan alur yang maju-mundur tak beraturan antara masa sekarang dan masa lalu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karakter-karakter dalam film ini menjalani hidup keseharian mereka secara fundamental dalam perbedaan antara mereka dengan masyarakat sekitar. Pencarian jati diri dilakukan “mostly” dalam kebingungan mereka untuk lebih diterima masyarakat sekitar, walau masyarakat tersebut tidak menyuruh mereka langsung untuk berubah secara fisik. Sang ayah memakai benda sejenis cellotape yang dapat membuat matanya terlihat mempunyai lipatan layaknya masyarakat pribumi Indonesia pada umumnya, dan Cahyono yang lebih baik mendandani dirinya seperti orang Jepang karena cita-citanya sedara kecil adalah menjadi apa saja kecuali menjadi orang Cina. Hanya Linda yang terlihat tenang dan sabar menyaksikan tingkah ayah dan sahabatnya itu sembari menunggu waktu tepat kapan waktunya dia bisa “terbang”, dengan memendam rasa penasaran karena tidak tahu sebab pasti perceraian kedua orang tuanya, dan selalu ada untuk menghibur sahabatnya yang masih menerima perlakuan “bully” hingga saat dewasa karena berdandan a la orang Jepang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Film ini merupakan komedi yang sarkastis, sinis, dan gelap. Minim dialog, awas dan sensitif dengan problematika sosial di sekitarnya, berani mengambil resiko, penuh metafora, tetapi juga masih terasa takut untuk blak-blakan pada saat yang bersamaan. Kebanyakan idenya direalisasikan pada adegan-adegan yang terasa layaknya sebuah film bisu komedi dan pada saat karakternya berbicara, Bahkan adegan petasan mereka akan mengatakan sesuatu seperti layaknya membaca “cue card”. Kedewasaan Linda ditampilkan dengan keberhasilannya untuk melempar lampu neon yang terasa susah digapai saat dia kecil, atau petasan yang secara tidak langsung merefleksikan masalah rasisme yang mudah meledak apabila disundut sumbunya, dan lama-kelamaan akan menimbulkan bekas luka yang mendalam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Orang mungkin mempertanyakan mengapa Edwin memilih untuk menyajikan adegan-adegan yang mengarah ke tema utamanya tidak dibuat dengan scene yang lebih gamblang atau artikulatif dalam sense yang lebih sinematik, seperti contoh mengapa perlakuan “bully” yang didapat Cahyono disaat dewasa tidak ditampilkan seperti ketika dia menerima perlakuan yang sama di masa kecilnya. Tetapi saya pikir itu adalah suatu kesengajaan, karena menurut saya atmosfer tersebut tepat dibangun sebagai metafor kalau rasisme yang terjadi di lingkungan kita sehari-hari adalah sesuatu yang dapat kita bicarakan dengan sesama etnis tertentu, tetapi haram untuk diumbar ke ruang publik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apakah Edwin memperlakukan karakter-karakternya sebagai korban belaka atau melihatnya dari sebelah sisi saja?, well, pastiakan selalu ada yang menjadi korban dalam masalah rasisme, apalagi jika menyangkut suatu etnis minoritas. Tetapi melihatnya secara sempit begitu tanpa mengingat lagi dampak dari Tragedy berdarah pada Mei 1998 yang juga berimbas pada bangsa Indonesia secara keseluruhan baik pribumi maupun keturunan Tionghoa adalah juga salah. Dan setidaknya Edwin juga berani mengkritisi dan “ridicule” karakter-karakter keturunan Tionghoa-nya, dimana hal tersebut juga yang membuat kita meringis saat menertawainya, dan tersayat jika kita mencoba acuh pada permasalahannya. Dengan kata lain sinisme dalam film ini tidak merendahkan karena di “treat” dengan kenaifan yang lebih terasa “it’s funny because it’s true”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Edwin mungkin memasukkan beberapa referensi politik dan kondisi sosial di Indonesia yang akan membuat orang asing susah untuk mengerti. Sarkasme yang terasa “over-reach” dan “shocking value” yang intensional terhadap aparat keamanan, dan momen grotesque antara sang ayah dan kedua teman prianya membuat sedikit “imbalance” terhadap “overall tone” film ini–walau tujuan utamanya “beautifully juxtaposed back-to-back” dengan adegan Linda yang sedang melakukan pekerjaannya sebagai editor yang sedang merangkai gambar kerusuhan Mei 1998 berujung konklusi surreal namun masuk ke dalam premis dan “grand theme” film ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang pertama harus dilakukan adalah menyadarai kalau ada masalah. “Babi Buta Yang Ingin Terbang” menyajikan suatu permasalahan, dan mungkin film ini tidak dipenuhi oleh kisah persahabatan yang menyentuh, tetapi juga tidak dipenuhi oleh kebencian yang berlebihan. Film ini memperlihatkan kesulitan-kesulitan yang ada dalam permasalahan tersebut, dengan kata lain, berjalan ke arah yang jarang dijamah orang, untuk awas terhadap suatu bahaya yang mengancam, mengambil resiko, walau tidak dipungkiri dengan rasa takut juga.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7942573538273671699-489171216374242754?l=cinemaexposure-reviews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/feeds/489171216374242754/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2010/10/blind-pig-who-wants-to-fly-2008.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/489171216374242754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/489171216374242754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2010/10/blind-pig-who-wants-to-fly-2008.html' title='Blind Pig Who Wants to Fly (2008)'/><author><name>Cinema Exposure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12014535301006601988</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='8' src='http://3.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TLtAXbNstRI/AAAAAAAAACI/Ezb3Bup_eDQ/S220/headerblog3+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7942573538273671699.post-879092959156471134</id><published>2010-10-28T08:36:00.000-07:00</published><updated>2010-11-18T13:17:20.094-08:00</updated><title type='text'>Historias Extraordinarias (2008)</title><content type='html'>(Argentina)&lt;br /&gt;Sutradara: Mariano Llinás&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rating&lt;br /&gt;Yuki Aditya&lt;br /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;Erdiawan Putra&lt;br /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TMmYoXgTbaI/AAAAAAAAAEM/KIQUZ_yhtLU/s1600/historias-extraordinarias.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://4.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TMmYoXgTbaI/AAAAAAAAAEM/KIQUZ_yhtLU/s400/historias-extraordinarias.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;//17 Oktober 2010&lt;br /&gt;Oleh Yuki Aditya&lt;br /&gt;(tulisan diambil dari http://mubi.com/reviews/22030)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="content"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika suatu hal EXTRAORDINARY yang bisa dikatakan dari film ini,  maka itu adalah bagaimana Llinas meramu cerita dan juga bagaimana dia  membuka satu persatu misteri yang ada di dalam film ini. Tiga pria  bernama Z, H dan X boleh dikatakan menjalani suatu misi yang  masing-masing berbeda dan mempunyai kaitan erat dengan History atau  sejarah. X secara tidak sengaja dan juga bodoh melibatkan dirinya pada  suatu kisah kejahatan dan pembunuhan yang misterius tentang hilangnya  sekoper emas dan bagaimana seorang pesakitan yang sedang dipenjara dapat  bebas begitu saja untuk melakukan perampokan terhadap emas tersebut. H  dibayar untuk mencari bukti otentik dan nyata akan suatu pembangunan  kanal ambisius yang sedang diperdebatkan tidak akan mungkin dibuat  dengan mudah. Sedangkan Z, penasaran akan sejarah orang yang sebelumnya  menempati posisi pekerjaan yang dia duduki sekarang dan ditemukan tewas  sendirian di kamar yang ditempati Z sekarang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="last" style="text-align: justify;"&gt;Pada satu jam pertama kita akan diajak Llinas untuk  mencoba menyatukan keping demi keping puzzle yang hilang dari masing2  cerita yang sedang dijalani oleh ketiga karakter tersebut. Tetapi apa  yang membuat film ini berbeda dari sekedar film “puzzling” biasanya,  adalah bagaimana Llinas memperlakukan kita sebagai viewer sama bodoh  atau clueless-nya dengan self-aware voice-over narrator dan ketiga  karakter tersebut. Cerita dan narasi menjadi semakin kabur, tidak fokus,  dan penuh kejutan seperti layaknya kehidupan sendiri. Misteri  terbongkar perlahan, bukti baru dan nama baru bermunculan, tetapi  bukannya misteri-misteri dan permasalahan awal yang dihadapi oleh ketiga  karakter itu yang semakin jelas, melainkan kehidupan pribadi dan  bagaimana mereka bisa melihat apa yang kurang dari diri mereka yang  semakin jelas. Juga kita diperlihatkan bagaimana fungsi sejarah terhadap  masing-masing pribadi karakter tersebut. The extraordinary stories have  become their own journey, their history of lives or people revolving  their lives, and the magical country Argentina. Jarang 4 jam waktu  terasa begitu cepat.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7942573538273671699-879092959156471134?l=cinemaexposure-reviews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/feeds/879092959156471134/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2010/10/historias-extraordinarias-2008.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/879092959156471134'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/879092959156471134'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2010/10/historias-extraordinarias-2008.html' title='Historias Extraordinarias (2008)'/><author><name>Cinema Exposure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12014535301006601988</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='8' src='http://3.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TLtAXbNstRI/AAAAAAAAACI/Ezb3Bup_eDQ/S220/headerblog3+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TMmYoXgTbaI/AAAAAAAAAEM/KIQUZ_yhtLU/s72-c/historias-extraordinarias.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7942573538273671699.post-7780049489545575240</id><published>2010-10-27T02:53:00.000-07:00</published><updated>2011-11-15T21:18:50.889-08:00</updated><title type='text'>A Woman Under the Influence (1974)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;(USA)&lt;br /&gt;Sutradara: John Cassavetes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rating:&lt;br /&gt;Yuki Aditya&lt;br /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;Rajiv Ibrahim&lt;br /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;Bayu Wiratama &lt;br /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;Erdiawan Putra &lt;br /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-zDF5hFSNSjk/TsM_Z3Ko85I/AAAAAAAAAQs/jbLpCspWiRA/s1600/wuti.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-zDF5hFSNSjk/TsM_Z3Ko85I/AAAAAAAAAQs/jbLpCspWiRA/s1600/wuti.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;//3 Juni 2010&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh Yuki Aditya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(tulisan diambil dari http://yukitanonton.wordpress.com/)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika berbicara tentang apa itu film Indie atau Independent asal   Amerika Serikat, kebanyakan orang akan berfikir tentang Quentin   Tarantino dengan Reservoir Dogs dan Pulp Fiction, karena film tersebut   mempunyai dialog-dialog keren dan alur narasi yang tidak lazim, atau   Little Miss Sunshine karena film tersebut dibuat dengan budget yang   terbilang sangat kecil untuk industri film Amerika.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Film independen telah ada semenjak lahirnya media film itu sendiri,   tetapi kebanyakan memang dibuat bukan untuk kepentingan komersial alias   untuk hobi pribadi saja. Amerika Serikat dengan studio-studio filmnya   yang mempunyai biaya promosi dan pemasaran bombastis adalah negara   dimana media film dapat dikatakan memang diproduksi dengan tujuan   mencari keuntungan, lebih ke urusan bisnis dibandingkan kebebasan   berekspresi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di era 50-an, dimana kamera video lebih terjangkau untuk dibeli,   telah ada nama seperti Lionel Rogosin, Shirley Clarke, dan Bruce Conner   yang membuat scene film Indie di Amerika terasa lebih ramai. Namun John   Cassavetes-lah orang yang dianggap paling berjasa dan membuat banyak   orang sadar bahwa film dapat dibuat dengan dana sendiri, serta   didistribusikan sendiri untuk dilihat oleh banyak orang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://yukitanonton.files.wordpress.com/2010/06/woman-2.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;A Woman Under the Influence adalah film Indie ketiganya setelah   sukses di Eropa dengan Shadows (1958), dan tiga nominasi Oscar pada 1968   dengan Faces. Dibuat dengan merogoh koceknya sendiri hasil aktingnya   dalam beberapa film produksi Hollywood seperti Dirty Dozen dan   Rosemary’s Baby, A Woman Under the Influence berfokus kepada cerita   kompleksnya hubungan sepasang suami-istri dengan tiga anak kecil   menjalani tantangan untuk menghadapi masalah “kegilaan” yang diderita   oleh sang istri. Mabel (Gena Rowlands), sang istri adalah seorang wanita   dengan masalah kejiwaan yang kadang dapat bertindak berlebihan bila   merasa terlalu antusias terhadap sesuatu. Dia tidak berbahaya bagi orang   di sekitarnya, bahkan dia dapat menjalankan fungsinya sebagai ibu  rumah  tangga kepada suaminya Nick (Peter Falk), dan ketiga anak mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nick yang masih dipengaruhi kuat oleh ibunya lama-kelamaan merasa   perlu untuk “menyembuhkan” Mabel agar dapat terlihat normal layaknya   orang lain di lingkungan mereka dengan cara membawa Mabel ke sebuah   institusi kejiwaan selama 6 bulan. Problem utamanya bukan hanya tentang   bagaimana orang-orang di sekitar Mabel merasa dia aneh, tetapi sama   sulitnya untuk Mabel menerima dirinya berbeda dengan orang lain dan   membuat dirinya beradaptasi terhadap orang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kehebatan Cassavetes terletak pada observasinya yang mendalam   terhadap individu-individu dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak   diberi dialog-dialog cerdas khas Tarantinian, tetapi dialog yang simpel,   kadang terdengar bodoh, dan lucu seperti yang kita dengar dan lakukan   dalam keseharian hidup kita. Emosi dan gambaran karakter kita tangkap   karena kita mengenal karakter-karakter tersebut dari dialog dan tindakan   mereka. Simpati dan benci kita terhadap suatu karakter muncul seperti   saat kita mengevaluasi seorang teman atau kerabat dari aksi nyata yang   mereka perlihatkan dan lakukan kepada kita. Everything that is on the   surface.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cassavetes mencoba untuk mendudukkan kita pada posisi Nick, Mabel,   ketiga anaknya, maupun peran pembantu lainnya. Bagaimana kita merespon   situasi tersebut. Bagaimana kita membuat diri kita terlihat bodoh,   hilang arah, perduli dengan pendapat dan perkataan orang lain hanya   untuk terlihat baik dimata orang luar, dan bagaimana kita dapat   menemukan diri kita sendiri, jikalau kita beruntung dan berani untuk   membuka pikiran untuk mencoba mengerti permasalahan yang terjadi pada   orang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Banyak karakter-karakter dalam film Cassavetes adalah alter-egonya   sendiri, tetapi tidak ada yang lebih mendekati daripada Mabel. Mabel   adalah Cassavetes, entertainer yang eksentrik, pantomim yang suka   memparodikan orang di sekitarnya, mistress of ceremonies penuh guyonan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://yukitanonton.files.wordpress.com/2010/06/woman-41.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika banyak orang ribut tentang film Indie itu  harusnya mempunyai  sebuah ide segar, berbeda, dan cara bercerita yang  unik sehingga  membuat film Indie secara superficial terlihat berbeda  dengan film yang  dibuat studio mainstream Hollywood, Cassavetes  mengingatkan kembali  tugas seorang seniman itu sebagai reporter terhadap  permasalahan dan  keberatan-keberatan yang ada di dalam diri dan pikiran  seorang seniman  itu sendiri. Film-filmnya tidak akan lekang dimakan  waktu, karena tidak  dibuat berdasarkan suatu invention of idea atau dari  segi teknis,  tetapi lebih ke invention of understanding between or  among people.  Film-film dari John Cassavetes mengajarkan dan memberi  pengalaman baru  dalam melihat, merasakan, mendengar, dan belajar tentang  orang lain,  dan yang paling penting tentang diri kita sendiri, the  personal truth.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7942573538273671699-7780049489545575240?l=cinemaexposure-reviews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/feeds/7780049489545575240/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2010/10/woman-under-influence-1974.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/7780049489545575240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/7780049489545575240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2010/10/woman-under-influence-1974.html' title='A Woman Under the Influence (1974)'/><author><name>Cinema Exposure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12014535301006601988</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='8' src='http://3.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TLtAXbNstRI/AAAAAAAAACI/Ezb3Bup_eDQ/S220/headerblog3+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-zDF5hFSNSjk/TsM_Z3Ko85I/AAAAAAAAAQs/jbLpCspWiRA/s72-c/wuti.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7942573538273671699.post-2096484796631612118</id><published>2010-10-26T08:44:00.000-07:00</published><updated>2010-10-26T09:16:13.090-07:00</updated><title type='text'>Onibaba (1964)</title><content type='html'>(Jepang)&lt;br /&gt;Sutradara: Kaneto Shindo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rating:&lt;br /&gt;Bayu Wiratama&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Erdiawan Putra&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Yuki Aditya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img707.imageshack.us/img707/9319/starpatterncopy0.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TMb3Ln_b8LI/AAAAAAAAAEE/FdGIEFX11II/s1600/images.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="297" src="http://4.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TMb3Ln_b8LI/AAAAAAAAAEE/FdGIEFX11II/s400/images.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;//26 Oktober 2010&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Oleh Bayu Wiratama&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari sekian banyak jenis genre film,mungkin diantara semua genre-genre tersebut orang-orang banyak memilih genre komedi atau horror. Bicara Tentang horror mungkin genre inilah yang paling banyak disukai dari semua kalangan,baik kalangan anak kecil maupun dewasa. Ini disebabkan genre horror lebih banyak unsur entertaining nya ketimbang genre-genre film yang lain. Disamping itu,banyaknya film-film horror buatan Indonesia yang mengandung unsure seks,semakin membuat masyarakat sering berkunjung ke bioskop ataupun ke rental dvd/vcd. Tetapi bumbu horror-seks tersebut hanya lebih menjual unsur seks nya ketimbang unsur horror maupun unsur kekualitas-an sebuah jalan cerita hanya demi keuntungan semata.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berbicara tentang genre horror-seks,saya jadi teringat akan satu judul film jepang tahun 1964 yang berjudul “Onibaba”. Mungkin ini salah satu horror-seks terbaik yang pernah saya lihat selama ini. Film ini disutradarai oleh Kaneto Shindo, yang sebelumnya pernah membesut “Children Of Hiroshima” yang kebetulan saya juga sangat menyukainya. Mungkin masih terdengar asing bagi “new moviegoer” tapi bagi “cinephille” pasti sudah sangat akrab dengan nama sutradara ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Onibaba berkisah tentang seorang gadis dan mertua nya yang tinggal di tengah-tengah sawah, yang mata pencaharian nya untuk membuat jebakan bagi para samurai yang lewat di tengah sawah tersebut untuk kemudian jika samurai tersebut jatuh ke dalam jebakan nya,mereka mengambil semua peralatan dari para samurai tersebut dan kemudian menjualnya kepada seseorang hanya demi mendapatkan makanan sehari-hari. Hingga kemudian mereka bertemu dengan seorang pria kekar dan tampan yang bekerja sebagai nelayan. Pria ini senang sekali menggoda si gadis,hingga dari awalnya si gadis tidak terpengaruh oleh si pria tersebut sampai akhirnya si gadis termakan rayuan si pria dan saling jatuh cinta. Sang mertua pun tidak senang akan hubungan mereka. Sadar akan sang mertua yang tidak suka akan hubungan mereka,si gadis pun tiap malam harinya (disaat mertua nya tidur pulas) dengan diam-diam pergi berlari (dengan rasa takut) ke pondok si pria dan selalu melakukan hubungan intim untuk memuaskan nafsu mereka berdua. Semakin lama si mertua pun mulai mengetahuinya,hingga akhirnya sang mertua berusaha mencegah si gadis untuk berkunjung lagi ke pondok si pria dengan cara menakut-nakutinya dengan menggunakan topeng setan yang ia dapat dari hasil menjebak seorang samurai. Tapi dibalik topeng tersebut ternyata menyimpan suatu misteri yang tidak diketahui sang mertua. Apakah misteri dibalik topeng tersebut? Dan berhasilkah sang mertua menghentikan hubungan gelap si gadis dengan si pria?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di film ini,Kaneto Shindo berhasil membawa film ini kearah yang benar-benar horror,mencekam dan mengerikan. Dari awal sampai akhir film,sangat terasa nuansa kelam dan menakutkan nya. Ini bisa dilihat dari score nya yang benar-benar menyatu dengan film ini dan juga banyaknya adegan sunyi dalam onibaba ini. Akting dari para pemainnya pun berkualitas bagus,terutama sang mertua yang diperankan secara apik oleh Nobuko Otowa. Dari cerita pun saya sangat menyukainya,dimana sisi erotis dan sisi seram nya bisa dikemas dengan sangat baik.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mungkin para produser di Indonesia harusnya menonton film ini dulu,sebagai contoh jika mereka ingin membuat sebuah film horror-seks yang berkualitas. Tapi,mengingat para produser di Indonesia hanya mengincar keuntungan semata mungkin mereka tetap pada apa yang mereka inginkan saat ini. Tapi,untuk anda yang benar-benar moviegoer (terutama pecinta horror),wajib menonton film ini. Sangat disayangkan jika film se-berkulitas begini dilewatkan begitu saja. Saya menjamin,anda bakal terhantui oleh film ini setelah menonton film ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;//&lt;b&gt;Erdiawan Putra&lt;/b&gt;:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Onibaba adalah salah satu contoh bagus tentang hubungan antara horror dan erotisme. Kaneto Shindo menunjukkan alam manusia dalam situasi yang terpuruk. Bagaimana mereka dirasuki ego dan materialisme. Bagaimana manusia tidak bisa melupakan seks.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7942573538273671699-2096484796631612118?l=cinemaexposure-reviews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/feeds/2096484796631612118/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2010/10/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/2096484796631612118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/2096484796631612118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2010/10/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html' title='Onibaba (1964)'/><author><name>Cinema Exposure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12014535301006601988</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='8' src='http://3.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TLtAXbNstRI/AAAAAAAAACI/Ezb3Bup_eDQ/S220/headerblog3+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TMb3Ln_b8LI/AAAAAAAAAEE/FdGIEFX11II/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7942573538273671699.post-3139499902851794983</id><published>2010-10-26T03:01:00.000-07:00</published><updated>2010-10-26T06:36:41.886-07:00</updated><title type='text'>Platform (2000)</title><content type='html'>Zhantai&lt;br /&gt;(Hong Kong/Cina) &lt;br /&gt;Sutradara: Jia Zhangke&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rating:&lt;br /&gt;Yuki Aditya&lt;br /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TMaqa7-vTFI/AAAAAAAAAD0/Bm86yu8EjWU/s1600/bscap0014qt3.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="218" src="http://1.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TMaqa7-vTFI/AAAAAAAAAD0/Bm86yu8EjWU/s400/bscap0014qt3.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;///3 Juni 2010&lt;br /&gt;Oleh Yuki Aditya&lt;br /&gt;(tulisan diambil dari: http://yukitanonton.wordpress.com/) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Industri film di Cina Daratan telah ada semenjak zaman film bisu,   dengan bakat seperti Ruan Ling-yu yang banyak membintangi film-film   melodrama yang banyak dipengaruhi oleh film-film Hollywood. Namun   industri perfilman mereka lebih mudah dan lazim diasosiasikan dengan   film kung-fu atau martial arts. Kesuksesan Zhang Yimou dengan Raise the   Red Lantern dan Chen Kaige dengan Farewell, My Concubine membuat mata   dunia menoleh bahwa Cina juga dapat membuat drama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jia Zhang-ke, mungkin namanya akan terasa asing di Indonesia. Di Cina   Daratan sendiri, film-filmnya tidak dapat dinikmati secara luas dan   legal sampai film ke-empatnya The World (Shijie) di tahun 2004. Zhang-ke   banyak dikritik di negaranya sendiri karena selalu membuat film dengan   tema susahnya hidup di negara dengan sistem politik komunis dan   dikhawatirkan akan membuat Cina terlihat buruk di mata dunia. Sebelum   2004, film-filmnya hanya dapat dinikmati oleh penduduk Cina dalam format   VCD dan DVD bajakan yang beredar luas di setiap sudut di negara itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Platform adalah film keduanya, dan banyak kritikus film yang setuju   bahwa ini adalah salah satu film terbaik yang dibuat di dekade 2000.   Setting waktu adalah Cina Daratan dalam kurun waktu antara tahun 1979   sampai tahun 1990, tetapi dimana Cina mulai membuka diri terhadap sistem   Kapitalisme dengan kebijakan Open Door yang terkenal itu, dipimpin  oleh  Deng Xiaoping. Tidak ada penunjuk tahun dilayar kaca kita, tapi  kita  dapat merasakan pergantian masa atau tahun melalui perubahan  sikap,  sifat, musik yang diputar, dan yang terpenting kebiasaan yang  dilakukan  oleh karakter-karakternya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Platform diceritakan dari sudut pandang 2 orang karakter pria, Cui   Mingliang dan Zhang Jun, serta 3 orang karakter wanita yang mempunyai   hubungan asmara dengan dua pria tersebut,  yang tergabung dalam sebuah   kelompok troupe atau travelling players atau artis keliling yang berasal   dari sebuah kota kecil bernama Fenyang. Secara garis besar, Zhang-ke   mencoba untuk mengobservasi sebuah kelompok masyarakat dalam menerima   dan menjalani perubahan dalam sebuah sistem yang tadinya membuat mereka   terkekang, tidak mempunyai privasi, dan kesenangan hanya dapat  dilakukan  dalam tempat tertutup dan terbatas. Kenaifan generasi muda  untuk  mengadopsi budaya yang baru dipandang rendah oleh generasi yang  lebih  tua. Menonton film India atau film asing lainnya, perempuan  merokok,  memakai celana cut-bray atau bell-bottom, dan mendengarkan  musik New  Wave yang populer di era 80-an dianggap memalukan dan  merendahkan harga  diri bangsa, padahal generasi muda itu hanya ingin  dianggap sebagai  bagian dari warga dunia, atau Citizen of the World.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Merasa bahwa seni teater sudah kuno, grup artis keliling itu mencoba   untuk mengikuti tren yang ada dengan merubah pertunjukkan mereka menjadi   kelompok seni yang membawakan tarian dan nyanyian yang diiringi musik   elektronik New Wave buatan Barat tetapi liriknya dirubah ke Bahasa   Mandarin dan Kanton. Beberapa orang siap menghadapi perubahan tersebut,   dan banyak pula yang merasa perubahan tersebut terlalu cepat dan   drastis. Tetapi seperti film Jia Zhang-ke lainnya, selalu ada rindu akan   kenangan masa lalu, ketika kehidupan pribadi masyarakat itu diatur  oleh  kekuasaan, atau lebih sederhana lagi kerinduan terhadap kampung   halaman. Beberapa orang merasa modern dan senang akan keberhasilannya   setelah berhasil melihat dunia luar dan melakukan hal-hal baru, dan   sebagian menjalani perubahan dengan santai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Tidak sulit untuk merasakan pengaruh Jia Zhang-ke ketika membuat   Platform. Seperti layaknya sutradara-sutradara asal Uni Sovyet terdahulu   seperti Sergei Eisenstein, Aleksander Dovzhenko, atau Vsevolod   Pudovkin, Jia Zhang-ke mendeskripsikan sebuah cerita dari sekumpulan   orang dibanding memfokuskan pada satu atau dua karakter layakya film   pada umumnya. Fokus dan atensi penuh kita sangat dibutuhkan untuk dapat   menikmati film ini, karena Platform mempunyai narasi yang elipsis,   layaknya film dari salah satu sutradara film favorit Jia Zhang-ke, yaitu   Robert Bresson. Yang artinya, cerita dalam film tidak akan tergambar   utuh atau dibutuhkan partisipasi imajinasi yang aktif dari movie-goer   untuk mengisi kekosongan-kekosongan narasi dalam film ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Medium shot dan long takes yang kadang ekstrim adalah  pilihan Jia  Zhang-ke ketika memfilmkan Platform untuk merefleksikan  secara visual  peningkatan kadar polarisasi di berbagai daerah di Cina,  sebagai hasil  dari perubahan dalam reformasi ekonomi dan budaya  mengikuti arus  globalisasi dan mdoernisasi yang tidak dapat dihindarkan  lagi di  penghujung abad 20.  Platform dapat dilihat sebagai komedi hasil   observasi subtil atau sebuah Epik Realisme seperti yang dikehendaki Jia   Zhang-ke sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7942573538273671699-3139499902851794983?l=cinemaexposure-reviews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/feeds/3139499902851794983/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2010/10/platform-2000.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/3139499902851794983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/3139499902851794983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2010/10/platform-2000.html' title='Platform (2000)'/><author><name>Cinema Exposure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12014535301006601988</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='8' src='http://3.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TLtAXbNstRI/AAAAAAAAACI/Ezb3Bup_eDQ/S220/headerblog3+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TMaqa7-vTFI/AAAAAAAAAD0/Bm86yu8EjWU/s72-c/bscap0014qt3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7942573538273671699.post-4712702537941664214</id><published>2010-10-25T05:41:00.000-07:00</published><updated>2010-11-21T09:04:47.356-08:00</updated><title type='text'>Dumbo (1941)</title><content type='html'>(USA)&lt;br /&gt;Sutradara: Ben Sharpsteen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rating:&lt;br /&gt;Yuki Aditya&lt;br /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img707.imageshack.us/img707/9319/starpatterncopy0.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;Erdiawan Putra&lt;br /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TMWAQK4L7cI/AAAAAAAAADw/Q6xkhcu0Qpo/s1600/DUMBO.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="308" src="http://4.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TMWAQK4L7cI/AAAAAAAAADw/Q6xkhcu0Qpo/s400/DUMBO.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;//25 Juni 2009&lt;br /&gt;Oleh Yuki Aditya&lt;br /&gt;(tulisan diambil dari: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=200432) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;To sum it up, I went into viewing Dumbo with a bit of a cynical  attitude. I ended the film feeling deeply moved by the whole experience .  . . and I'll admit that it made me want to go give my mom a big hug  afterwards. As I said earlier, I feel horrible for having ignored this  little jewel for so long. It's a brief, but very satisfying movie that  works on all levels. Its definitely found its place near the top of my  10 favorite animated classics.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Semua yang ada di film ini lebih sederhana dari 3 film animasi Disney  yang dirilis sebelumnya. Cerita inti dari Dumbo berkisar di seputar  seekor gajah kecil yang tidak diterima oleh gajah-gajah senior dalam  suatu sirkus. Terlebih lagi setelah ibu Dumbo dikerangkeng karna  "outraged" setelah mencoba melindungi Dumbo dari anak-anak usil. The  little Dumbo is dying to reunite with his mother. Film ini cocok  ditonton oleh seluruh anggota keluarga, karena banyak pesan moral yang  menggugah hati terutama untuk anak-anak. Love your mother and family,  jangan pilih-pilih teman (even the racial issue drawn visibly here), gapai  cita-citamu melewati semua rintangan, dan terakhir yakin kalo diri kamu  emang spesial.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Animasi dan background dalam film ini bisa dibilang lebih mundur dalam  hal detail dibanding Snow White, Pinocchio atau Fantasia. But I think  that's a big part of its charm - it does have a resonance with a child's  uncluttered mind and is realized without any complications.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;There are many touching moments - specifically a heartbreaking scene  where Dumbo goes to visit his caged mother. The emotion from these parts  is so admirable, as there is no dialogue. It's just power coming from  the pure animation. I found it astounding.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;There's an incredibly abstract, bizarre segment called "Pink Elephants  on Parade" that made my jaw drop. Banyak yang bilang segment ini dibuat  oleh German's great animator Oskar Fischinger (which some of his films I  adore very much) just like Fantasia. Truly one of the best movie  sequence in cinema history. Walau rada merusak alur sederhana film ini,  tapi siapa yang bisa nyalahin, karna it's really such an incredible  piece to watch.                                     &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7942573538273671699-4712702537941664214?l=cinemaexposure-reviews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/feeds/4712702537941664214/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2010/10/dumbo-1941.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/4712702537941664214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/4712702537941664214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2010/10/dumbo-1941.html' title='Dumbo (1941)'/><author><name>Cinema Exposure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12014535301006601988</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='8' src='http://3.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TLtAXbNstRI/AAAAAAAAACI/Ezb3Bup_eDQ/S220/headerblog3+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TMWAQK4L7cI/AAAAAAAAADw/Q6xkhcu0Qpo/s72-c/DUMBO.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7942573538273671699.post-8860160940673333892</id><published>2010-10-24T09:47:00.000-07:00</published><updated>2010-11-26T01:12:56.298-08:00</updated><title type='text'>Riki-Oh: The Story Of Ricky (1991)</title><content type='html'>Lik Wong&lt;br /&gt;(Hong Kong/Jepang)&lt;br /&gt;Sutradara: Ngai Kai Lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rating&lt;br /&gt;Bayu Wiratama:&lt;br /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;Erdiawan Putra&lt;br /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TMRi-qjHZwI/AAAAAAAAADo/BN00NnRcdAg/s1600/riki-oh-smash-head-explosion-picture.png" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="227" src="http://3.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TMRi-qjHZwI/AAAAAAAAADo/BN00NnRcdAg/s400/riki-oh-smash-head-explosion-picture.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;// 24 Oktober 2010&lt;br /&gt;Oleh Bayu Wiratama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sudah pasti banyak orang yang bertanya siapakah Ngai Kai Lam. Bahkan para moviegoers pun mungkin masih merasa asing akan  namanya. Memang,rata-rata semua karya nya tidak terlalu bagus atau bisa  dikatakan biasa-biasa saja,Meskipun di tahun 1986 ia pernah membuat film  Yuan Zhen-Xia yu Wei Si-Li bersama beberapa bintang seperti Chow-Yun  Fat,Maggie Cheung hingga Kara Hui,Tapi tetap saja tidak begitu  istimewa.Hingga akhirnya ia membuat sebuah film yang penuh darah dan  controversial yaitu Riki-Oh: The Story Of Ricky. Film ini diambil  berdasarkan komik jepang atau istilah jepang nya disebut manga karangan  Tetsuya Saruwatari. Tapi dalam film ini, Ngai Kai Lam sendiri yang menulis naskah filmnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Riki-Oh  langsung berawal dari setting penjara,dimana ia dinyatakan telah  melakukan suatu kejahatan. Ternyata di penjara tersebut banyak terjadi  sesuatu yang aneh. Mulai dari banyak narapidana yang sebenarnya tidak  bersalah malah dibunuh dengan keji, para Staff dan boss di penjara yang  bengis,kasar, dan tidak kenal ampun,hingga ditanami pohon ganja di areal  penjara. Melihat keadaan tersebut,tentu saja Riki-Oh Tidak tinggal  diam.Dengan kekuatan super yang ia miliki, Riki berusaha untuk membalas  kematian dari narapidana yang lain dan memperbaiki keadaan di penjara  yang sudah tidak kondusif lagi.Ia berhadapan dengan tiga Staff inti di  penjara tersebut (yang tentunya memiliki kekuatan khusus) dan juga sang  boss penjara yang tidak disangka-sangka memiliki kekuatan tersembunyi.  Mampukah Riki mengalahkan lawan-lawan nya tersebut? Dan mampukah ia  memperbaiki keadaan penjara yang saat ini dipenuhi staff-staff yang  korup?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kesan  yang saya dapatkan setelah menonton film ini adalah rasa terkejut yang  luar biasa. Bagaimana tidak,dari awal film hingga akhir film ini selalu  dihujani darah-darah segar dan hal-hal yang absurd. Tentu hal ini yang  menjadi kekuatan dari film Riki-Oh ini.Buanglah segala logika yang ada  dalam pikiran anda dan tontonlah film ini,saya jamin anda pasti  terpuaskan akan keseluruhan isi film ini. Ngai Kai Lam berhasil membawa  film ini kearah yang benar. Benar disini berarti Ngai Kai Lam berhasil  membawa film ini kearah yang entertaining. Dan dari entertaining ini  membuat Riki-Oh berubah menjadi film yang istimewa di mata saya.  Banyaknya hal-hal yang terjadi diluar batas pikiran manusia itu lah yang  menjadi kunci keistimewaan film ini. Saya ingin mengungkapkan  contoh-contoh dari yang saya maksud tersebut,tapi nanti pasti menjadi  spoiler bagi anda yang belum menonton film ini. Tapi yang jelas saya  harus akui kalau Riki-Oh adalah film silat paling gore yang pernah saya  tonton.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7942573538273671699-8860160940673333892?l=cinemaexposure-reviews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/feeds/8860160940673333892/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2010/10/riki-oh-story-of-ricky.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/8860160940673333892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/8860160940673333892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2010/10/riki-oh-story-of-ricky.html' title='Riki-Oh: The Story Of Ricky (1991)'/><author><name>Cinema Exposure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12014535301006601988</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='8' src='http://3.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TLtAXbNstRI/AAAAAAAAACI/Ezb3Bup_eDQ/S220/headerblog3+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TMRi-qjHZwI/AAAAAAAAADo/BN00NnRcdAg/s72-c/riki-oh-smash-head-explosion-picture.png' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7942573538273671699.post-6511037015252726148</id><published>2010-10-17T11:46:00.000-07:00</published><updated>2010-11-19T02:24:46.777-08:00</updated><title type='text'>Shutter Island (2010)</title><content type='html'>(USA)&lt;br /&gt;Sutradara: Martin Scorsese&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai:&lt;br /&gt;Erdiawan Putra&lt;br /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img651.imageshack.us/img651/5060/starpatternhalf.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;Bayu Wiratama&lt;br /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img651.imageshack.us/img651/5060/starpatternhalf.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TMazy-lpYmI/AAAAAAAAAD4/pZbPSNtARLc/s1600/movie--shutter+island.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="276" src="http://3.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TMazy-lpYmI/AAAAAAAAAD4/pZbPSNtARLc/s400/movie--shutter+island.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;//23 Maret 2010&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;br /&gt;(tulisan diambil dari: &lt;a href="http://erdiawanfilmreviews.blogspot.com/"&gt;http://erdiawanfilmreviews.blogspot.com/&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mungkin ini bukanlah tipe film yang biasanya dibuat Martin Scorsese. Ini juga bukanlah film tipe oscar-yang Saya yakini adalah alasan mengapa jadwal akhir tahun bisa dimundurkan menjadi februari. Shutter Island adalah film misteri thriller.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Berdasarkan novel karya Dennis Lehane (Mystic River, Gone Baby Gone), Shutter Island bercerita mengenai US marshal, Teddy Daniels (Leonardo DiCaprio), dan mitranya, Chuck Aule (Mark Ruffalo), yang melakukan investigasi terhadap kasus hilangnya salah seorang pasien wanita di Rumah Sakit Jiwa Ashecliff di pulau terpencil Shutter Island. Sekilas, penonton manapun pasti sudah bisa menebak twist terbesar film ini sebelum lima menit pertama. Film ini tidak hanya mengenai bagian klise itu. Tapi ada juga beberapa twist yang mungkin terlewatkan pada first viewing ditambah ending yang tricky.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Penuturannya lah yang lebih istimewa. Bagaimana misteri semakin dibuka lantas diburamkan dan realita diparalelkan dengan memori pernikahan, Nazi sampai perang dingin (Saya mencoba untuk menghindari spoiler-setelah banyak menemui review Shutter Island yang penuh spoiler tanpa peringatan sebelumnya). Dan Shutter Island adalah sebuah thriller yang efektif dengan cerita yang mencekam, adegan dan kata-kata yang menjijikkan. Film ini memiliki atmosfir klasik yang kental. Musik di filmnya terdengar seperti film-film misteri thriller era 40an, dan visualnya sangat cantik dalam konteks yang kelam-menyerupai film noir kuno lengkap dengan hujan, petir, rokok, penggunaan layar hijau-dan gaya naratif. Dan tentu saja, Shutter Island patut ditonton lebih dari satu kali jika ingin semakin mengerti dengan pandangan total Scorsese dalam membuat sebuah horor modern klasik.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7942573538273671699-6511037015252726148?l=cinemaexposure-reviews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/feeds/6511037015252726148/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2010/10/shutter-island-2010.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/6511037015252726148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/6511037015252726148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2010/10/shutter-island-2010.html' title='Shutter Island (2010)'/><author><name>Cinema Exposure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12014535301006601988</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='8' src='http://3.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TLtAXbNstRI/AAAAAAAAACI/Ezb3Bup_eDQ/S220/headerblog3+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TMazy-lpYmI/AAAAAAAAAD4/pZbPSNtARLc/s72-c/movie--shutter+island.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7942573538273671699.post-7559050485187849197</id><published>2010-10-17T10:03:00.000-07:00</published><updated>2010-10-26T04:00:26.757-07:00</updated><title type='text'>The Ghost Writer (2010)</title><content type='html'>(Prancis/Jerman/UK)&lt;br /&gt;Sutradara: Roman Polanski&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rating:&lt;br /&gt;Erdiawan Putra&lt;br /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;Bayu Wiratama&lt;br /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;img src="http://img828.imageshack.us/img828/5228/starpatterncopy2full.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TMa0tUhGd9I/AAAAAAAAAD8/ov5DwU8c3Qw/s1600/arts-ghost-writer-584.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://1.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TMa0tUhGd9I/AAAAAAAAAD8/ov5DwU8c3Qw/s400/arts-ghost-writer-584.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;// 1 Maret 2010&lt;br /&gt;Oleh Erdiawan Putra&lt;br /&gt;(tulisan diambil dari: &lt;a href="http://erdiawanfilmreviews.blogspot.com/"&gt;http://erdiawanfilmreviews.blogspot.com/&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Satu hal yang membuat Saya begitu antusias dengan The Ghost Writer: Saya adalah fan dari film thriller misteri Chinatown (1974) karya Polanski dan Saya selalu menjadi fan film sejenis. Maksudnya, film yang membeberkan misteri dari sudut pandang tokoh utamanya, walaupun di sini Ewan McGregor bukanlah detektif, tetapi ia tetap mengambil posisi detektif bersama penontonnya. Ini adalah cara storytelling yang sempurna untuk sebuah film thriller misteri, yang dipastikan bisa memberi memorable cinematic experience. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan novel The Ghost karya Robert Harris, The Ghost Writer adalah sebuah kisah thriller politik dengan tokoh utama seorang penulis (McGregor) yang mendapat pekerjaan untuk menjadi sebuah penulis buku riwayat hidup seorang tokoh politik, mantan Perdana Menteri Inggris, Adam Lang (Pierce Brosnan), yang belakangan menuai kontroversi sebagai penjahat perang akibat konspirasinya berkaitan dengan Perang Irak. Misteri dibangun dengan petunjuk dari ghost sebelumnya yang baru saja tewas tenggelam, memiliki koneksi yang berkaitan dengan orang-orang di sekitar kehidupan Lang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;The Ghost Writer memiliki kasus serius yang menarik dengan pengembangan plotnya yang membuat penonton menebak-nebak apa yang terjadi selanjutnya, tokoh-tokoh memorable yang diperankan dengan baik, tone visual dan scoring yang dingin, serta eksekusi kisah yang sangat manis. Luar biasa. Menegangkan dan menghibur. Salah satu film terbaik tahun ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7942573538273671699-7559050485187849197?l=cinemaexposure-reviews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/feeds/7559050485187849197/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2010/10/ghost-writer-2010.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/7559050485187849197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7942573538273671699/posts/default/7559050485187849197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cinemaexposure-reviews.blogspot.com/2010/10/ghost-writer-2010.html' title='The Ghost Writer (2010)'/><author><name>Cinema Exposure</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12014535301006601988</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='8' src='http://3.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TLtAXbNstRI/AAAAAAAAACI/Ezb3Bup_eDQ/S220/headerblog3+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_NBFsvcSY5bI/TMa0tUhGd9I/AAAAAAAAAD8/ov5DwU8c3Qw/s72-c/arts-ghost-writer-584.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry></feed>
